Breaking News:

Hikmah Salaf

Hikmah Salaf Tentang Puasa dan Bulan Ramadhan
Oleh: Muherman Numrah, Lc



Selamat datang kepada pensuci dosa-dosa
Berkata Umar Bin Khattab: “Selamat datang dengan pensuci kita dari dosa-dosa”.

Bekal Untuk Perjalanan Panjang

Dikatakan kepada Ahnaf Bin Qis: Anda kakek yang sudah tua sekali dan puasa bisa membuatmu lemah! Dia berkata: “Aku menyiapkannya (sebagai bekal) untuk perjalanan yang panjang, dan sabar dalam mentha’ati Allah lebih ringan dibandingkan dari sabar dengan adzab-Nya”.

Ibadah Itu Bukan Pada Bulan Ramadhan Saja!

Dikatakan kepada Bisyr bahwasanya sebagian orang hanya beribadah dan bersungguh-sungguh pada bulan Ramadhan saja, lalu dia berkata: “Seburuk-buruk kaum adalah orang yang kenal Allah hanya pada bulan Ramadhan saja, sedangkan orang shaleh adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh setahun penuh”.

Do’a Salaf

Berkata Yahya Bin Bin Abi Katsir: “Ya Allah..Serahkanlah aku kepada ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan kepadaku, dan ambillah dia dariku sedangkan Engkau menerima”.[1]
Maksudnya: Ambillah Ramadhan dariku sedangkan Engkau menerima seluruh amal kebaikan yang aku perbuat selama Ramadhan, seperti: Puasa, zakat, infaq dan sedekah, shalat tarawih dan witir, tahajjud, I’tikaf, memberi makan orang yang berpuasa, dan amal-amal lainnya.

Bulan Membaca Al-Qur’an Dan Memberi Makan Bagi Orang Yang Berpuasa

Az-Zuhri apabila telah masuk bulan Ramadhan dia berkata: “Sebenarnya Ramadhan ini adalah waktu memperbanyak membaca Al-Qur’an dan memberi makan orang yang membutuhkan makanan”.
Diriwayatkan pula; Bahwa Imam Malik apabila datang bulan Ramadhan beliau berhenti mengajar hadits, dan menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Qur’an.

Puasa Itu Untuk-Ku

Berkata Ibnu Abdul bari: “Cukuplah firman Allah Ta’ala “Puasa itu untuk-Ku” sebagai keutamaan puasa dari pada seluruh ibadah”.

Tuannya Seluruh Bulan

Berkata Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu : “Tuannya seluruh bulan adalah bulan Ramadhan, dan tuannya semua hari adalah hari Jum’at”. (HR. Ibnu Abid Dunya, dalam kitab ‘Fadhail Ramadhan”).

Ramadhan Adalah Ajang Perlombaan

Suatu hari Hasan Al-Basri lewat dekat sekelompok orang sedang tertawa, kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza WaJalla menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang perlombaan untuk hamba-hamba-Nya dimana mereka saling berlomba-lomba dalam mentha’ati Allah; sehingga sekelompok manusia ada yang menang dan sekelompok yang lainnya kalah.

Maka sungguh di herankan sekali terhadap orang yang tertawa dan bermain pada hari menangnya orang yang berlomba dalam mentha’ati Allah, dan merugilah pada hari itu orang yang bathil (berbuat sia-sia tidak memanfaatkan hari-hari Ramadhan dengan ktha’atan)..adapun demi Allah!..Kalau seandainya dibuka ghitha’ (penutup) sungguh akan sibuk orang baik dengan kebaikannya (maksudnya: kalau seandainya menyeru kepada kebaikan tidak di wajibkan, sungguh orang-orang shaleh akan sibuk dengan kebaikan dan ketha’atan dan membiarkan orang yang lalai dan tidak mengingatkan mereka akan fahdilah Ramadhan atau ketha’atan yang lainnya). Dan begitu pula dengan orang jahat akan sibuk dengan kejatahannya (tanpa ada yang mencegah dari berbuat dosa).[2]

Puasa Yang Sebenarnya Adalah Puasa Anggota Tubuh

Berkata Ibnu Qayyim: “Bukan dinamakan puasa..seperti puasa sekelompok orang menahan dari makanan saja, akan tetapi puasa yang sebenarnya adalah puasa anggota tubuh dari dosa-dosa, menahan lidah dari kata-kata yang tidak berguna, menahan mata dari memandang yang haram, dan menahan tangan dari mengambil hak orang lain”.

Adab Bergaul Dengan Ramadhan

Berkata Ma’li Bin Fadhl: “Para salaf dulunya berdo’a kepada Allah selama enam bulan sebelum Ramadhan agar mereka di sampaikan kepada Ramadhan, dan mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya agar di terima Ramadhan mereka”.[3]






[1] . Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali.
[2] . Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam Ghazali.
[3] . Lathaif Ma’arif.

16.30 | Posted in | Read More »

Ruang Award Dari Sahabat

Terimakasih Admin Islam Kaffah Indonesia kepada Saudara Erickvand yang telah memberikan Award Best Friend nya kepada Islam Kaffah Indonesia sebagai tanda Sahabat sejati dalam dunia blog. Award Pertama yang didapat dari sahabat Islam Kaffah Indonesia.


17.12 | Posted in | Read More »

Ramadhan di Negeri Fir’aun

Ramadhan di Negeri Fir’aun
Oleh: Udo Iwan

Ramadhan selalunya memberikan warna yang berbeda pada setiap orang. Perbedaan itu terasa sesuai dengan kondisi dan situasi. Seorang pelajar misalnya, ia akan merasakan hal yang berbeda ketika bersama keluarga. Ada rasa bahagia tersendiri. Begitu juga halnya dengan seorang pelajar yang jauh dari keluarga. Tentunya ada sesuatu yang berbeda pula, mungkin sebuah kekurangan, karena tidak bersama keluarga.
Suasana juga terasa sangat berbeda dengan berbedaan ruang. Antara ruang Indonesia dan Mesir misalnya, memiliki perbedaan yang rada jauh. Ruang Mesir bagi sebagian penuntut ilmu yang jauh dari keluarga terasa sangat pengap. Hampa. Sirkulasi udara yang tidak berubah pada ruang tersebut terkadang membuat berkeringat. Bosan. Itu kalau ditilik dari segi perasaan. Sepi memang, tapi selalu ada pengisi disela kekurangan tersebut, ya, sahabat satu perjuangan.
Sedangkan dari sudut beramal dan perlombaan dalam kebaikan juga rada  jauh. Sebut saja musa’adah (bantuan) yang diberikan orang Mesir, terutama pada wafidiin (pelajar asing). Pada bulan ramadhan ini para muhsiniin (pemberi bantuan) berlomba-lomba dalam bersedekah. Ada diantara mereka yang membantu berupa sembako. Ada juga berupa uang tunai. Biasanya untuk waktu sebulan atau dua bulan ke depan, kita cukup memanfaatkan bantuan-bantuan tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri. Mungkin ini diantara keberkahan ramadhan bagi pelajar asing di Mesir.
Hal lain yang bisa dilihat dari Mesir adalah semangat ibadah mereka. Sebagaimana kita ketahui bahwa diantara kekhasan ramadhan adalah qiyamullailnya, dalam hal ini shalat tarawih. Shalat tarawih di Mesir memberikan kesan tersendiri pada masing-masing jamaah (pelajar). Dari shalat yang membuat lutut goyang, sampai tarawih yang singkat bisa kita temukan. Keimanan biasanya menggiring ke masjid mana akan shalat. Ketika iman berada dipuncak, shalat satu juz merupakan pilihan. Sedangkan iman yang pas-pasan, masjid dengan bacaan ayat singkat jadi tujuan. Dan kesemuanya memiliki alasan tersendiri. Lama selesai, karena menikmati shalat tarawih. Cepat selesai, bisa mengerjakan kebaikan lain. Tilawah. Muraja’ah. Atau membaca. Yang jelas niat pengarah jalan. Lama tapi ikhlas, subhanallah. Singkat dan ikhlas, alhamdulillah. Yang jelas setiap kebaikan selalu ada ganjarannya.
Awal ramadhan biasanya biasa-biasa saja. Shaf shalat setengah pada awalnya. Memasuki paruh kedua, penuh. Memasuki sepuluh terakhir, membludak. Semakin hari semakin padat oleh jamaah. Terutama pada sepuluh terakhir. Karena para pecinta Allah biasanya mengintai malam lailatul qadr. Malam mulia dari seribu bulan.
Seterusnya adalah Maidaturrahman, sebuah tempat perbukaan yang disediakan orang Mesir. Perbukaan ini dibuka setiap hari. Dan siapapun bisa berbuka di sana. Walaupun ada sebagian yang mengkhususkan untuk orang tertentu, orang asing saja misalkan. Atau Mesir tok. Bagi para pelajar ini merupakan terget utama. Karena tidak perlu lagi bersusah payah. Cukup dengan mengayunkan langkah, perut kenyang. Tentunya dengan menu-menu yang nikmat. Ayam. Daging. Dan ikan. Semua tak beranjak dari situ.
Hal lain yang bisa kita catat adalah shalat satu juz. Sebagaimana diketahui, mesir adalah negeri seribu menara. Saking menjamurnya masjid, ia mendapat gelar demikian. Dimana-mana kita akan menemukan masjid, baik jami’ (masjid raya), atau masjid kecil yang menyatu dengan rumah. Dan kesemuanya ramai dikunjungi. Dari sekian banyak masjid, ada diantaranya shalat tarawih satu juz semalam. Jadi ketika selesai ramadhan, khatam tiga puluh juz. Dan di Mesir, ini mudah kita temukan. Dan hanya iman yang melambung saja yang mampu mengikuti sampai akhir ramadhan.
Diantara amalan yang dilakukan rasulullah Saw. hingga wafat beliau adalah i’tikaf sepuluh terakhir pada bulan ramadhan, sebuah amalan yang dikerjakan oleh rasulullah hingga akhir hayat beliau. Sebagaimana diriwayatkan oleh sayidah A’isyah, bahwasanya rasulullah I’tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan hingga akhir hayatnya. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Atau dalam lafaz lain, “bahwasanya rasulullah saw beri’tikaf setiap ramadhan.”
Di Mesir kita bisa menemukan sunah ini. Di mana kebanyakan masjid di Indonesia tidak tampak lagi menyemarakkannya, kecuali sebagian kecil saja. Di sini kita bisa melihat bagaimana masyarakat Mesir berlomba untuk beribadah kepada Allah, dan puncaknya adalah sepuluh hari terkhir ramadhan. Karena banyak keutamaan yang terdapat di dalamnya, yaitu pada malam ganjil khususnya. Masjid membludak, seolah tak kuat menahan desakan para pecinta Allah.
Kondisi berpuasa di Mesir juga memberikan perbedaan yang luar biasa. Ya, bulan ramadhan di Mesir bertepatan dengan musim panas. Sudah bisa diterka bagaimana letihnya berpuasa di tengah panas yang menyala. Dan perjuangan terasa lebih dibanding dengan negeri yang bercuaca biasa. Mungkin, di sanalah nilai plusnya. Setiap usaha keras, diimbali pula dengan balasan yang besar pula. Dan seperti itu pulalah dengan para pejuang islam yang berjihad di bawah panggang matahari. Dalam kondisi puasa, mereka pertaruhkan jiwa dan raga mereka untuk islam. Sudah barang tentu, balasannya berlipat ganda pula. Ya, berbagai peristiwa besar terjadi di bulan ini. Sebut saja perang Badar[Soft Break]yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 H di Badar. Menghadapi tentara musyrikin yang sangat jauh lebih besar jumlahnya, dua belas ribu. Pasukan yang hanya tiga ratus orang itu dengan pertolongan Allah mampu menghancurkan jumlah besar itu. Sekali lagi, ini terjadi pada bulan ramadhan.
Contoh lain adalah Pembebasan Spanyol yang dipimpin oleh panglima islam Thariq bin Ziyad pada bulan Ramadhan tahun 92 Hijriah. Pasukan yang berjumlah dua belas ribu itu berhadapan dengan tentara yang super besar, sembilan puluh ribu, di bawah koando raja Frederick. Sebagai langkah untuk menyalakan semangat pasukan, sang panglima membakar semua kapal mereka, “Sesungguhnya surga Allah terbentang luas dihadapan kita. Dan dibelakang terbentang laut. Kalian hanya ada dua piihan, mati tenggelam atau mati sebagai syuhada.” Dan ini terjadi di bulan ramadhan.
Atau sebuah peristiwa yang terjadi pada pertengahan bulan ramadhan tahun 584 Hijriyah, yaitu pembebasan Paletina dari tentara salib oleh Shalahuddin Al Ayyuby. Dimana sebelumnya tak ada satupun pemimpin islam yang berhasil membebaskan. Pada masa kepemimpinannyalah baru terbuka. Semenjak saat itu, para salibiyiin tak lagi ada yang berani berperang secara terbuka. Dan melakukan inovasi baru, yaitu berupa perang pemikiran. Mencetak misionari-misionaris dan menyuburkan orientalis. Dari sinilah mereka kini menyerang.
Peristiwa besar lain yang terjadi pada bulan ramadhan adalah perang ‘Ain Jalut di bawah titah Saifuddin Qutuz. Ini adalah sebuah peperangan yang terjadi antara umat islam dengan Tartar. Pasukan yang telah membunuh satu juta lebih kaum muslimin itu berhasil ditaklukkan.
Semua peristiwa besar itu terjadi di bulan ramadhan. Di tengah panas yang membakar dan dalam keadaan berpuasa. Dan balasan yang berlipat ganda tentunya bisa diteguk. Sesuai besar kecilnya usaha dan perjuangan.
“Tidaklah sama antara orang yang beriman yang duduk (tidak ikut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang yag berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya, serta ampunan dan rahmat. Allah maha pengampun maha penyayang.” (Q.S. An-Nisa’95-96).
Ber-ramadhan di negeri Fir’aun, banyak cerita yang bisa kita lihat, dengar dan rasakan.

13.59 | Posted in | Read More »

Fakta-fakta Bulan Suci Ramadhan

Fakta-fakta Bulan Suci Ramadhan[1]
Muhammad Rifqi Arriza, Lc[2]

Hari demi hari, waktu demi waktu telah kita di bumi Allah, sehingga tidak terasa bulan ramadhan akan datang bersua. Bulan yang penuh berkah, penuh hikmah dan penuh maghfirah dari-Nya.

Di bulan inilah potensi melipat gandakan pahala sangatlah besar, di bulan inilah saat kita melaksanakan nafilah di dalamnya, pahalanya sama dengan saat kita melaksanakan faridhah di selain bulan ramadhan. Begitu juga saat kita melaksanakan faridhah dalam bulan ini, maka pahalanya akan menyamai pahala 70 faridhah yang kita lakukan di bulan lainnya, hal ini sangat gamblang dijelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Salman Al-farisi ra[3].

Di bulan inilah terdapat satu malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan, dan banyak lagi keutamaan-keutamaan bulan yang satu ini, maka akan sangat merugilah kita saat menganggap remeh bulan ini.

Pada suatu ketika Rasulullah SAW bersabda jikalau para hamba-Nya mengetahui apa-apa (baca; keutamaan) yang terdapat di dalam ramadhan, maka mereka akan berangan-angan bahwa setiap bulan dalam setahun adalah ramadhan. Maka tidak salah jika Rasulullah selalu berdoa pada bulan sya'ban "Allahumma barik lana fi rajaba wa sya'bana wa barik lana fi ramadhan"[4].

Kenapa saya berbicara tentang momentum ramadhan, karena sebagian orang sangatlah sulit untuk menemukan pijakan pertama dalam memulai sesuatu, sangat bimbang untuk menentukan momentum bagi perubahan dirinya, kepada yang lebih baik tentunya.

Untuk lebih mengenal lebih dalam tentang bulan yang istimewa ini, mari kita menelisik beberapa fakta yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 182-187.

A. Beberapa makna dari surat Al-Baqarah ayat 182-187.

1)      Arti ayat "كما كتب على الذين من قبلكم".

Ada beberapa pendapat dalam hal ini ;

(a      Ada ulama yang berpendapat bahwa maksud dari ayat ini adalah puasa tiga hari pada setiap bulan.
(b      Dalam suatu hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abil Hatim mengatakan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah puasa satu bulan sebagaimana yang telah kita lakukan pada bulan ramadhan.
(c      Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa maksud dari ayat ini adalah puasa sebulan penuh dengan diiringi jumlah tertentu[5].
(d     Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah puasanya Maryam dan puasanya nabiyullahi Daud as (puasa sehari dan mufthir sehari)[6].
(e      As-Sya'biy berpendapat bahwa maksud dari penyerupaan (baca; puasa) adalah berkaitan dengan waktu dan kadar dari puasa itu[7].

2)      Arti ayat "شهر رمضان الذي أنزل فيه القراّن".

Ada beberapa hadits yang menerangkan bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang diturunkan di dalamnya semua kitab samawy. Rasulullah bersabda "lembaran-lembaran Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan ramadhan, dan Taurat diturunkan pada hari ke enam dari bulan ramadhan, dan injil diturunkan pada hari ke tiga belas dari bulan ramadhan, dan Al-Quran diturunkan pada hari ke dua puluh empat dari bulan ramadhan"[8].

Pada riwayat lain dari Jabir bin Abdillah ra, Rasulullah bersabda "zabur diturunkan pada hari ke dua belas dari bulan ramadhan, dan injil diturunkan pada hari ke delapan belas dari bulan ramadhan…"[9].

B. Beberapa hal dalam bulan ramadhan.

1)      Buka dan sahur.

Suatu ketika Rasulullah bersabda "umatku akan tetap pada kebaikan selama mereka menta'jil buka dan mengakhirkan sahur"[10]. Pada suatu hadist qudsi Rasulullah bersabda dari tuhannya "sesungguhnya hamba yang paling aku cintai adalah yang paling menta'jil bukanya"[11].

Dengan adanya masyru'iyah sahur inilah kenapa wishol diharamkan. Selain hadist yang shorih melarang wishol, ada juga hadist yang berbunyi "la tuwashilu fa ayyukum arada an yuwashil falyuwashil ilas sahur…"[12].

2)      Mustajabnya doa orang yang berpuasa.

Rasulullah bersabda "inna lis shoimi 'inda fithrihi da'watun la turaddu"[13], sesungguhnya bagi orang yang berpuasa saat dia berbuka, doa yang tidak akan ditolak.

C. Beberapa fakta sejarah dalam bulan ramadhan.
Lintasan sejarah Islam berbicara, terdapat hubungan yang penting antara jihad dan Ramadhan. Selama kehidupan Rasulullah saw, dua buah peperangan terjadi di bulan Ramadhan, yang pertama adalah Perang Badar yang terjadi di tahun kedua setelah hijrah, dan yang kedua Penaklukan Mekkah (futuh Makkah) sekitar 6 tahun kemudian.
Bahkan, setelah kehidupan Rasulullah SAW, bulan Ramadhan tetap menjadi bulan konfrontasi militer penting bagi kaum muslimin. Beberapa kejadian penting yang berhubungan antara bulan Ramadhan dan jihad terus terjadi dalam kehidupan bersejarah kaum muslimin. Tentunya, Allah SWT yang paling mengetahui hikmah yang besar mengapa bulan Ramadhan begitu memiliki kaitan erat dengan jihad. Pastinya, Allah SWT sajalah yang mengetahui hikmah itu semua dan memberikan indikasi dan tanda-tanda tersebut, yakni kaitan antara Ramadhan dan jihad kepada kaum muslimin[14].
Terakhir, penulis ingin mengajak pembaca semua untuk lebih mengenal segala seluk-beluk bulan ramadhan ini, sehingga dapat lebih mendorong kita untuk lebih "merasakan sensasinya", untuk lebih "meresapinya", dan kemudian dapat lebih bisa memanfaatkan momentum ini dalam peningkatan ibadah, bukan hanya dalam hal mu'amalah ma'allah tapi juga mu'amalah ma'a al-nas.


[1] Dipresentasikan pada kajian perdana Madrasah Tafsir DPD PPMI Zagazig 2008-2009.
[2] Terdaftar sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan tafsir, Univ Al-Azhar Zagazig.
[3] Prof Dr Wahbah Zuhaily, Al-Fiqh islami wa adillatuhu, Dar El-Fikr,  juz 3,hal 1622.
[4] HR Ahmad.
[5] Ismail bin Katsir Al-Qursyi AlDimasyqi, Tafsirul Qur'anil Adzim, Maktabah Shofa, juz 1, hal 252
[6] Lihat http://www.eramuslim.com/ustadz/shm/8820135801-teknis-puasa-umat-terdahulu.htm.
[7] Imam Al-Qurthuby, Al-Jami' li Ahkamil Quran, Maktabah Taufiqiyah, juz 2, hal 244.
[8] HR Ahmad
[9] Ismail bin Katsir Al-Qursyi AlDimasyqy, op. cit, juz 1, hal : 254.  
[10] HR Ahmad.
[11] Ismail bin Katsir Al-Qursyi AlDimasyqy, op. cit, juz 1 hal 264.
[12] HR Bukhari no 1862.
[13] HR Ibnu Majah.
[14] Lihat http://aisyahzah.multiply.com/journal/item/1/Ramadhan_bulan_jihad


01.55 | Posted in | Read More »

Sang Maha Ada

Sang Maha Ada
Oleh : Abu Abdul Jabbar
(Ahwal Miswari Mahmud)

“sanurihim ayatina fil afaq wafi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahul haq”

Keyakinan pada sang pencipta adalah suatu hal yang fitrah, setiap manusia akan merasakan perasaan bahwa dirinya tidak mungkin bisa hadir dengan sendirinya di jagad ini tanpa ada yang menjadikan dan menciptakannya, suku primitif misalnya yang dianggap sebagai manusia yang ummi-pun juga akan merasakan Hal yang sama, Ritual sesaji persembahan yang identik dengan suku ini hanyalah karna mereka berkeyakinan bahwa ada suatu kekuatan Abstrak yang sangat luar biasa berada diluar lingkup indra manusia yang mengatur Jagad ini.
Argumen tentang keberadaan Tuhan sebenarnya bukanlah argumen omong kosong belaka yang tidak dapat dibuktikan sebagaimana sering dituduhkan, tapi dalil kebertuhanan adalah argumen akseptasi yang tak tebantahkan dan dapat diterima secara Umum oleh manusia, oleh karenanya Rasul SAW berdakwah dikalangan dedengkot Qurays bukan karena mereka tidak beriman pada eksistensi Tuhan akan tetapi karna mereka menduakan Tuhan dengan yang lainya dalam Al Quran yang artinya “ dan ketika kalian bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? maka mereka akan menjawab:  Allah “ berangkat dari asumsi inilah mengapa para cendikiawan berpendapat bahwa kebertuhanan adalah  fitrah bagi manusia dan itu adalah hal yang tak terbantahkan.
Dalil fitrah merupakan dalil yang secara simpel difahami oleh manusia tanpa melakukan penalaran yang mendalam, seseorang akan dengan sendirinya mengetahui bahwa ia membutuhkan air takala sedang dahaga atau seseorang dengan sendirinya mengetahui bahwa dia membutuhkan makanan bila ia sedang mengalami kelaparan inilah fitrah.
Begitu juga dengan jagat raya alam ini, Seseorang akan berkata bahwa Alam ini membutuhkan pencipta hingga dia bisa terbentuk dan tersusun secara rapi, analoginya bahwa setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya. Kursi misalnya dia tidak akan terbentuk dan dapat diduduki kalau tidak ada tukang kursi, begitupula dengan Sepeda Motor dia tidak akan termodifikasi dengan sendirinya dan berjalan tanpa ada montir yang menukangi dan membuatnya. cara berfikir demikian adalah cara berfikir yang simpel dan sesuai akal dan fitrah manusia.
Meskipun demikian, Dalil diatas tidak serta merta akan bisa diterima oleh semua kalangan utamanya mereka yang meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada atau para atheis. Orang atheis sekalipun ia meyakini bahwa segala sesuatu akibat pasti ada yang mengakibatkan, namun mereka tidak meyakini adanya sesuatu yang ada diluar alam indra manusia, mereka tidak percaya pada Hal-hal yang sifatnya metafisik [ ghaib ], menurut mereka bahwa segala sesuatu yang ada, haruslah real dan tampak dihadapan kita dia tidak boleh abstrak dan lazim bermateri.
Para ahli melihat, diantara penyebab kaum atheis berkata demikian, dikarenakan mereka berasumsi bahwa akal adalah satu-satunya alat penujuk dalam memecahkan segala sesuatu, padahal akal manusia itu sifatnya terbatas dan juga tidak semua urusan harus dikembalikan pada akal. Filsuf jerman imanuel kant misalnya meyentil para pendewa akal ini dalam bukunya “ naqd alaklu alkhalish ” ia berkata bahwa tak diragukan lagi bahwa akal tidak segalanya mampu mengetahui segala wujud sesuatu, ia hanya bisa mengetahui partikel-partikel yang nampak saja sama seperti dirinya. Sementara wujud yang lebih abstrak dari itu, akal tak mampu menggapainya seperti eksistensi Tuhan, karna yang dibutuhkan untuk mengenal wujud ini hanyalah hati nurani dan bukan Akal...selain Tuhan imanuel kant mencontohkan juga sesuatu yang tidak bisa diraba oleh akal tapi pada tatanan empiris dia bisa dirasakan keberadaannya oleh kita ia berkata  ” kerinduan kita terhadap keadilan maka ini menjadi bukti bahwa adil itu ada, begitu juga dahaganya kita pada Air itu menunjukkan bahwa Air itu ada ”.
Kaum atheis Selain menggunakan akal sebagai pijakan berfikir, mereka juga sering menggunakan dalil-dalil Shopis yang sengaja mereka buat untuk mengakal-akali kaum monoteis, menjebak ummat beragama dengan memutar balikkan fakta yang sebenarnya.
 Dalam sebuah tulisannya Dr mustafa Mahmud pernah berdialog dengan salah satu tokoh ateis lulusan barat,  beliau ditanya kalau misalnya segala sesuatu yang maujud mesti ada penciptanya ( Tuhan ) dan setiap wujud pasti ada yang mengadakannya ( Tuhan ) lalu siapakah yang menciptakan dan mengAdakan Tuhan ? dalil ini kedengarannya lucu dan terasa outentik kalau didengar secara sepintas karna sama-sama menggunakan dalil kuasalitas yang telah saya beberkan sebelumnya, namun bila diteliti dengan cerdas akan kelihatan beberapa kejanggalan-keganjalan didalamnya. Dr Mustafa Mahmud mengomentari pertanyaan ini dengan celotehan yang lebih menggigit ia berkata “Bila Anda meyakini bahwa Tuhan menciptakan segala yang ada, lalu disatu sisi kalian mempertanyakannya  lagi siapa yang menciptakan tuhan, maka ini adalah pertanyaan yang sangat Bodoh, mengapa ? karna jikalau sekiranya kita berkata bahwa pencipta itu adalah Tuhan maka secara otomatis dalam akal sehat kita akan berkata bahwa sang Pencipta bukanlah yang dicipta, bila itu terjadi maka sama halnya kita menggabungkan antara dua Hal yang berbeda sekaligus yaitu antara pencipta dan dicipta.
Sebelum Dr Mustafa Mahmud, Aristoteles seorang filsuf masyhur yang hidup sebelum masehi juga memberikan gertakan yang pedis pada mereka yang tertutup hatinya pada kebenaran, dengan menggunakan dalil rentetan sebab akibat, Aristo mencoba menusuk jantung pertahan kaum atheis yang tak bertuhan, meskipun agak kuno tapi dalil ini masih laku dipergunakan dan sering diadopsi oleh para ahli kalam islam utamanya sekte Asyairah dan Maturidiyyah.  Aristo berujar kalau setiap sesuatu itu berasal dari sesuatu yang lain maka sesuatu yang lain ini pasti akan berasal dari sesuatu yang lain juga dan sesuatu yang lain ini lagi akan berasal dari sesuatu yang lain lagi dan ini akan terus menerus sampai tak berhujung. Menurut Aristo sesuatu yang tak berhujung ini pasti akan berhenti pada sesuatu yang pertama yang tidak didahului lagi dengan sebab-sebab, dan sebab yang pertama inilah awal muasal dari berbagai sebab sebab yang terjadi, dialah penggerak pertama ( muharrik al awwal ) yang tidak membutuhkan penggerak yang lain lagi, dialah penyebab yang tidak membutuhkan penyebab lain lagi, pencipta yang tak membutuhkan pencipta lain lagi. Inilah yang disebut dengan Tuhan.
Bila dalil fitrah dan akal telah menetapkan keberadaan Tuhan, maka secara tidak dipaksa kita juga harus meyakini keberadaannya, bila seseorang melenceng dari itu berarti dia telah melenceng dari kebenaran fitrah dan akal. Dan juga berbagai fasilitas dalam dirinya memerlukan update ulang dan revolusi buat merenofasi berbagai kerusakan-kerusakan spritual zahir dan batin yang terjadi.
Tuhan telah memberi kita berbagai macam contoh dari alam sekitar kita buat dijadikan rujukan sekaligus renungan atas kuasa dan keberadaan Dia, dan hanya orang-orang yang bodohlah yang tidak merasakan keberadaan Tuhan dan menafikannya. sanurihim ayatina fil afaq wafi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahul haq.



17.37 | Posted in | Read More »

Hukum Puasa Ramadhan

Beberapa Hukum Terkait Dengan Puasa Ramadhan
Oleh: Hermansyah, Lc

Puasa atau Shaum secara bahasa artinya menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam Puasa ialah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkannya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan rukun dan syarat tertentu.
Perintah puasa ini difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa. 1:183.

Melalui ayat diatas Allah SWT menjelaskan bahwa puasa ramadhan adalah wajib hukumnya.
Puasa ramadhan juga merupakan salah satu dari rukun islam yang lima, dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori disebutkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ رواه البخاري

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima perkara; bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan puasa Ramadhan. HR.Bukhori

Syarat wajib puasa

  1. Beragama Islam
  2. Berakal sehat
  3. Baligh (sudah cukup umur)
  4. Mampu melaksanakannya
  5. Mukim  (tidak sedang dalam perjalanan panjang)

Syarat sah puasa

  1. Islam
  2. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  3. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
  4. Mengetahui waktu diterimanya puasa

Rukun puasa

  1. Niat
  2. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari

Hal-hal yang membatalkan puasa

Puasa akan batal jika;
  1. Masuknya benda (seperti nasi, air, asap rokok dan sebagainya) ke dalam rongga badan dengan disengaja.
  2. Muntah dengan disengaja.
  3. Bersetubuh.
  4. Keluar mani (Istimna' ) dengan disengaja.
  5. Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak)
  6. Hilang akal (gila atau pingsan).
  7. Murtad (keluar dari agama Islam).

Bagi orang-orang yang berbuka puasa disiang hari maka mereka harus melakukan beberapa hal sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya dan mereka terbagi menjadi beberapa golongan:

-          Golongan yang wajib qadha' saja
-          Golongan yang tidak wajib qadha', tetapi wajib fidyah
-          Golongan yang wajib qadha' dan fidyah sekaligus
-          Golongan yang wajib qadha' dan kafarah sekaligus

A.    Golongan yang wajib qadha' saja

Orang-orang yang tersebut di bawah ini, boleh tidak berpuasa, tetapi wajib qadha', artinya wajib mengganti puasanya di hari lain, sebanyak hari yang ditinggalkan.
  1. Orang yang sakit, yang ada harapan untuk sembuh.
  2. Orang yang bepergian jauh (musafir) yang mmnyebabkan kesulitan kalau berpuasa.
  3. Orang yang hamil, yang khawatir akan keadaannya.
  4. Orang yang sedang menyusui anak, yang khawatir akan keadaannya.
  5. Orang yang sedang haid (datang bulan), melahirkan anak dan nifas.
  6. Orang yang batal puasanya dengan suatu hal yang membatalkannya selain bersetubuh.

B.     Golongan yang tidak wajib qadha', tetapi wajib fidyah

Orang-orang di bawah ini tidak wajib qadha' (menggantikan puasa di hari lain), tetapi wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin sebanyak hari puasa yang ia tinggalkan yaitu berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud atau 2,5kg/hari yang ia tinggalkan.
  1. Orang yang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh.
  2. Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat lagi berpuasa
C.     Golongan yang wajib qadha' dan fidyah sekaligus:
Orang –orang dibawah ini, selain mereka diwajibkan qadha’, mereka juga diwajibkan fidyah sebanyak 1 mud atau 2,5kg/hari puasa yang ia tinggalkan

1.      Ibu hamil yang jika ia berpuasa khawatir akan keselamatan janin yang dikandungnya
2.      Ibu yang sedang menyusui anak yang jika berpuasa khawatir akan keselamatan bayinya.

D.    Golongan yang wajib qadha' dan kafarah sekaligus

Orang yang membatalkan puasanya dengan bersetubuh, wajib melakukan kafarah dan qadha' sekaligus. Kafarah ialah Memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Jika tidak ada hamba sahaya yang mukmin maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut (selain qadha' menggantikan hari yang ditinggalkan), jika tidak bisa, wajib memberi makan 60 orang miskin sebanyak 1 mud atau 2,5 kg/orang berupa bahan makanan pokok.
Wallahu A’lam




17.34 | Posted in | Read More »

Ramadhan penuh sejarah

Ramadhan penuh  sejarah
Oleh : Ekta Yudha Perdana

Alhamdulillah, lafaz ini yang selalu disebut oleh orang orang beriman ketika masuk bulan Ramdhan. Karena dibulan ini semua orang bergembira menyambutnya, kecuali orang orang Munafik dan Kafir. Mereka tidak senang dengan datangnya bulan ini, karena orang orang akan beribadah dan menghambakan diri kepada Allah.

Mereka senang kalau tidak ada bulan ini, karena mereka bisa lebih leluasa untuk bermaksiat. Kalau bulan puasa, banyaknya restoran tutup, tempat hiburan dirazia, jadi mereka tidak suka dengan itu semua. Begitulah orang Kafir dan Munafik, yang kerjanya hanya ingin selalu bermaksiat dan menghitamkan hati.

Tapi bagi  orang beriman dalam hati mereka ada rasa gembira menyambut bulan suci ini, moga Allah berikan ketenangan hati buat orang beriman. Kita tahu dan sering dengar nama nama bulan dalam Islam, seperti Muharam, Safar, Rajab, dan lain lain.  Di antara bulan bulan itu yang selalu disebut oleh banyak orang dan orang pun banyak mengetahuinya ialah bulan Ramadhan.

Itu hal yang wajar, karena dibulan ini banyaknya sesuatu yang sangat berarti dalam sejarah Islam. Bulan Ramadhan waktu dimana diturunkannya Al-Quran dan begitupun terjadinya perang badar, pada bulan Ramadhan pula.

Wah, setidaknya kita akan menghela nafas ketika kita baca Al – Quran, bukan karena kita penat ketika baca Al-Quran, melainkan karena saat kita membacanya akan kita temukan banyak  Mu’jizat   di balik barisan ayat ayat yang kita baca. Dan Al-Quran itu diturunkan ketika bulan Ramadhan. Bukan, Muharam atau Sya’ban, itulah bentuk pengkhususan yang Allah berikan buat bulan Ramadhan.

Itu menunjukan bulan Ramdhan adalah bulan pilihan, bukan hanya Al- Quran saja sebagai  bukti sejarah bahwa bulan Ramadhan adalah bulan luar biasa. Tapi, ada juga sejarah yang akan selalu dikenang dalam buku buku sejarah umat Islam, yang dimana orang orang yang berperan di sana pun, termasuk orang pilihan. Ya apa itu? Perang badar.
Perang badar, perang yang sangat besar dalam sejarah Islam, perang dimana umat Islam masih sangat sedikit, yang harus berperang dengan orang kafir yang jumlah tentaranya jauh di atas jumlah tentara muslim. Tapi apa yang terjadi?
Umat Islam memenangkan peperangan itu, dan umat Islam bisa membuktikan pada dunia, bahwa bukan karena puasa yang menjadikan orang lemah, dan malas. Tapi, karena puasa, semua jiwa terpompa untuk berjuang dan berkarya. Memberikan terbaik buat dunia.
Kadang kita temukan disebagian cerita dalam masyarakat kita, yang berkata, “ ( wah kalau bulan Ramdhan malas terus! ) padahal itu sangat jauh dari perilaku yang dilakukan oleh Nabi Muhamad dan para sahabatnya.

Ketika bulan Ramadhan saatnya orang berlomba dalam kebaikan, berjuang untuk meraih gelar takwa. Dan gelar takwa itu tidak mudah didapatkan oleh orang yang hanya berpangku tangan, malas, yang hanya tidur. Sebenarnya kita harus lebih banyak lagi melihat sejarah Rasul, bagaimana Rasul jadi panutan buat umatnya, tauladan yang baik.
Ketika Ramadhan baca Al-Qur’an, tahajud sampai kaki beliau bengkak, dan semua kebaikan kebaikan yang ada, kita bisa lakukan dibulan Ramadhan. Karena banyaknya pahala yang Allah berikan ke kita.

Dan tentunya, itu sebagai motivasi kita untuk terus berubah menjadi lebih baik, bukannya Ramadhan menjadikan alasan untuk tidur, dan malas. Dan itu jauh dari tuntunan Rasul, kalau kita lihat dari 2 sejarah besar dari umat Islam yang pernah ada maka kita akan semangat dan terus berjuang ketika bulan Ramadhan. Karena di dalam bulan ini, pahala sangat mudah kita dapatkan.

Jadi dibulan suci ini mari kita semua bekerja dan terus bergerak, buat mahakarya, karena tak ada istilah bulan ramdhan bulan : Malas – tidur – santai –tak bergairah buat berkerja. Karena itu adalah suatu kesalahan.

Bangun dan bangkit, tatap dunia dengan penuh perjuangan. Dan ketika kita keluar dari bulan suci ini, kita sudah bisa bergerak lebih cepat. Karena pergerakan kita dibulan Ramadhan punya arti sangat besar demi kemajuan Islam.

Sejarah memberikan kita inspirasi untuk terus bergerak, karena dengan sejarah kita bisa ambil pelajaran dalam memperbaiki diri kita untuk lebih baik lagi di masa akan datang.  Berjuanglah karena Ramadhan bulan untuk menjadikan orang orang yang berhasil, bulan pelatihan jiwa, bulan pembakaran dosa dan bulan penuh sejarah.

Marhaban ya Ramadhan





16.17 | Posted in | Read More »

Blog Archive