Breaking News:

Islam dan Peradaban

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Barat dan Islam. Pertentangan dua peradaban besar di dunia ini tak akan pernah habis, walau pun putaran arah jam sudah berhenti.
tentu dengan semakin majunya peradaban Islam di dunia ini membuat Barat semakin takut,
terkhusus masalah politik Islam yang terus maju dan tampil di pentas dunia.

seperti yang digambarkan DR. Qosim Abduh Qosim, seorang pakar sejarah, " Bahwa persepsi Barat terhadap Islam itu bertolak belakang dengan keadaan sesungguhnya,".
dari statment yang beliau sampaikan ini, kita bisa mengambil konklusi bagaimana orang - orang Barat itu banyak pengkaburan paradigma disebabkan
tokoh - tokoh Barat melalui media yang mereka kuasai,

media mereka menyampaikan kepada masyarakat Barat, bahwa Islam itu agama tertinggal, agama teroris, agama orang miskin.
peradaban Barat semakin terancam ketika kita tahu krisis yang terjadi di Barat sekarang ini,
membuat mereka lebih waspada dari ideologi Islam yang sudah menguasai sudut - sudut jantung kota.

walau pemerintah mereka selalu menyebut Islam adalah sarang teroris, Islam itu agama yang mengajarkan peperangan, agama yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan Islam pun agama yang harus diwaspadai setelah runtuhnya komunisme,
sebagaimana yang dikatakan penasihat gedung putih Samuel Hungtington.
tapi itu bukan suatu hambatan yang besar, sebab  Arus teknologi tak akan bisa terbendung, membuat Barat gigit jari, dengan banyaknya website Islam yang masuk di negara- negara Barat, membuat masyarakat Barat merubah keyakinannya dan berpindah untuk memeluk Islam.

Islam adalah komponen yang tak akan terpisahkan dari : Agama, Masyarakat, Negara dan Peradaban.
peradaban Islam akan menjadi peradaban yang besar di kemudian hari,
menjadi peradaban yang akan menggantikan peradaban Barat yang kiat tahun semakin nampak kelemahannya.
dari jatuhnya kapitalisme, penggangguran yang meningkat tajam, banyak yang diberhentikan dari pekerjaan dan lain sebagainya.

Islam mengajarkan bahwa akal tidak akan membantah hukum Tuhan.
jadi apa yang ada di akal kita, maka hukum Tuhan akan sejalan dengan itu,
bukan berlainan arah.
seperti yang ada di Barat, akal mereka mengatakan Tuhan tidak mungkin dibagi menjadi tiga tugas.
Tuhan Bapak, Ruh Qudus dan Tuhan anak ( Yesus ).
kalau begitu pembagian tugas, maka tidak ada yang menguasai alam ini secara mutlak.

akal orang Barat membantah doktrin tersebut. Tapi, mereka wajib menelan mentah - mentah doktrin yang tidak sejalan dengan akal mereka.
yang menyebabkan banyak orang yang barat atheis sebab mereka tidak percaya terhadap agama
karena agama merusak akal.
Islam mengajarkan bahwa hukum Tuhan dan akal sejalan dengannya, selalu satu arah.
bahwa Tuhan itu satu, dia tidak beranak dan juga tidak diperanakkan.

Barat memfitnah dan melakukan propoganda di media massa yang mereka kuasai,
semakin lama maka orang pun akan makin bosan dengan sifat konservatif yang selalu ditutupi oleh topeng kemunafikan para tokoh Barat.

Peradaban itu adalah cita - cita tertinggi dari pergerakan politik, peradaban membuat orang makin maju, tahu adab, faham keilmuan yang tinggi, hukum agama sebagai tauladan.
clash yang makin menajam antara Islam dan Barat akan terus mewarnai politik dunia, tak akan pernah habis.
sebab ini bukan sekadar politik, tapi sudah masuk ke ranah agama.
Kita berharap peradaban Islam akan menjadi peradaban yang disegani, peradaban yang makin maju.
sesama Islam saling membantu bukan mudah diprovokasi dengan isu - isu murahan. Sebab darah sesama Islam itu lebih tinggi dari negara dan lebih tinggi dari keluarga.

Waallahu a'lam.

09.50 | Posted in | Read More »

Islamophobia 1

Oleh: Muhammad Syafi’I Tampubolon

Islam adalah agama atau biasa disebut dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianut oleh orang-orang yang percaya adanya sang pencipta alam yang dikenal dengan nama Allah, nama ini sangat terkenal dan sangat diagung-agungkan di kalangan Yahudi dan Nasrani maupun didalam Islam.

Saya pribadi mengatakan bahwa keyakinan itu sudah tercipta sejak mulai terciptanya sosok makhluk, sebab logika saya mengatakan bahwa Allah lah yang menciptakan semua makhluk itu, baik dari yang tidak terlihat oleh mata kasad sampai yang dapat dilihat sampai-sampai makhluk itu takut untuk melihatnya. Hampir semua orang percaya bahwa ada makhluk lain selain dirinya yang keberadaannya itu diluar jangkauannya, mungkin bahasa orang di barat sana mengatakan itu adalah makhluk luar angkasa.

Tidak ada satupun manusia yang memungkiri bahwa makhluk yang pertama diciptakan di muka bumi adalah Adam dan Hawa, yang mana Adam adalah salah satu nama yang masuk di deretan nama-nama Nabi yang sudah membumi di antara 25 nabi dan rasul. Hanya saja ada beberapa kelompok yang tidak mengakuinya, sebab ia mengatakan bahwa manusia itu berasal dari seeokor binatang yang bernama kera, dan ajaran ini sudah mulai usang, baik dikalangan sekolah dasar hingga sampai ke universitas yang paling tinggi, dikarenakan para penelitinya tidak mau dikatakan dari keturunan binatang yang bernama kera itu, sebab masih ada mereka rasakan sedikit kemuliaan itu ketika mereka disebut dari garis keturunan Adam.

Sepertinya pada saat manusia itu belum tercipta suasana alam mereka damai dan tentram tanpa terusik, sebab mereka bisa mengagungkan tuannya dengan tanpa terpaksa dan tanpa adanya saingan. Akan tetapi semenjak tuannya berkata bahwa Dia akan menciptakan makhuk baru yang disebut dengan manusia, makhluk itu akan lebih taat dan lebih pandai serta lebih beribawa, sehingga ada yang merasa tersaingi, sebab semua makhluk senior itu merasa heran kepada tuannya, sebab selama ini mereka telah melaksanakan perintahnya tanpa ada yang kurang, namun kenapa harus tuannya menciptakan makhluk baru lagi, mungkin mereka juga sampai menebak-nebak bahwa makhluk baru itu akan saling menumpahkan darah nantinya.

Namun tuannya mengatakan bahwa Ia lebih tahu daripada mereka. Ini bukan suatu ungkapan hal yang angkuh dan sombong, tapi itulah Allah, Dia yang menciptakan dan dia pula yang meniadakan.
Di sini penulis akan mencoba merangkai sebuah sebab yang mungkin akan menjadi bahan pemikiran bagi pembaca jejak dakwah yang budiman, penulis juga mencoba mengajak para pembaca untuk berfikir siapa sebenarnya yang mengawali permusuhan tersebut. Maka disini penulis akan membuat tulisan ini dalam bentuk seri, mungkin dengan judul yang simple dengan judul ISLAMOPHOBIA 1 dan seterusnya hingga tulisan ini selesai.

Penulis bisa dikatakan mantan, mantan dari agama Nasrani, namun keluarnya penulis dari agama nasrani juga disebabkan adanya kebencian kepada orang-orang yang menganut Islam, sebab mungkin kebencian itu berawal dari sikap para penganutnya yang tidak mengerti dengan ajaran keyakinan yang ia pilih, sebab penulis  melihat bahwa ajaran Islam itu begitu mulia, semulia penciptanya.
Bersambung….

Mitos Islamophobia:
The Islamophobia Myth - Mitos 'Islamophobia'- yang Sering Dilemparkan ke Barat & Umat Bukan Islam Sepuluh tahun silam tak seorangpun yang pernah mendengar 'Islamophobia'. Kini setiap orang mulai dari pemimpin-pemimpin muslim, aktifis anti-rasial sampai para menteri ingin meyakinkan kita bahwa Inggris sedang dilanda rasa kurang senang terhadap Islam. Tapi benarkah Islamophbia itu ada? Persoalan yang ditimbulkan adalah gagasan tersebut mengacaukan pengertian antara kebencian dan diskriminasi terhadap kaum Muslim di satu pihak dengan kritik terhadap Islam di pihak lain. Tuduhan adanya Islamophobia seringkali digunakan bukan untuk menyoroti rasisme tapi untuk membungkam kritik terhadap Islam, atau bahkan usaha kaum Muslim yang sedang memperjuangkan reformasi bagi komunitas mereka. Dalam kenyataannya diskriminasi terhadap kaum Muslim tidaklah separah seperti yang sering dinyatakan. Ketika saya sedang membuat film tentang Islamophobia untuk Channel 4, saya menemukan jurang pemisah yang lebar antara persepsi dan kenyataan. Salah satu pokok persoalan adalah tindakan kepolisian yang mengganggu umat Muslim. Musim panas yang lalu kantor pusat mengeluarkan data yang menyatakan kenaikan 300 persen dalam jumlah warga keturunan Asia yang dicegat dan diperiksa di bawah undang-undang anti-teror kerajaan Inggris. Para jurnalis, pemimpin Muslim bahkan kantor pusat semuanya meneriakkan "Islamophobia". "Seluruh komunitas Muslim dijadikan target oleh polisi," klaim Khalid Sofi dari Dewan Muslim Inggris. Angka kasar "kenaikan 300 persen" paling tidak menyiratkan adanya penanganan kepolisian yang tidak memadai. Tapi periksalah lebih dalam, dan datanya menunjukkan hanya terdapat 3.000 warga keturunan Asia yang dicegat dan diperiksa dalam tahun sebelumnya di bawah Undang-Undang Terorisme. Dari angka ini mungkin hanya setengahnya saja yang merupakan kaum Muslim. Dengan kata lain, hanya sekitar 1.500 orang dari seluruh populasi kaum Muslim yang berjumlah paling tidak 1,6 juta jiwa, yang dicegat di bawah undang-undang teror - sangat tidak mungkin ini merupakan kasus kepolisian yang sedang mengincar semua umat Muslim. Jumlah totalnya teradapat 21.577 orang dari segala latar belakang yang dicegat dan diperiksa di bawah Undang-Undang Teror. Mayoritasnya, 14.429 orang, adalah warga kulit putih. Meskipun demikian ketika saya sedang mewancarai Iqbal Sacranie, sekretaris jenderal Dewan Muslim Inggris, dia bersikeras bahwa "95-98 persen dari mereka yang dicegat dan diperiksa di bawah undang-undang anti-teror adalah kaum Muslim." Angka yang sebenarnya adalah 14 persen (untuk orang Asia). Memang terdapat angka yang tidak proporsional dalam penanganan terhadap orang Asia: jumlah mereka adalah 5 persen dari seluruh populasi, tapi terdapat 14 persen orang Asia dari seluruh warga yang dicegat di bawah Undang-Undang Terorisme. Mungkinkah ini karena adanya prasangka anti-Muslim. Bisa jadi. Tapi lebih mungkin terjadi karena pemeriksaan anti teror terjadi di kawasan-kawasan - di dekat bandara Heathrow misalnya - di mana kebetulan terdapat banyak orang Asia yang tinggal. Hampir 2/3 dari seluruh pencegatan anti terorisme dan operasi pemeriksaan terjadi di London, di mana orang Asia membentuk 11 persen dari seluruh populasi. Klaim adanya Islamophobia menjadi kurang bisa dipercaya jika kita mempertimbangkan seluruh pencegatan dan pemeriksaan. Hanya bagian kecil dari seluruh angka 869.164 pencegatan dan pemeriksaan yang dilakukan di bawah Undang-Undang Terorisme. Seandainya terdapat Islamophobia yang tersebar luas di kalangan kepolisian, kita pasti akan menemukan jumlah orang Asia yang tidak proporsional dalam semua data. Tapi ternyata tidak. Orang-orang Asia dicegat dan diperiksa dalam proporsi beragam dibanding populasi mereka, jika umur turut diperhitungkan. Semua angka ini dapat diketahui oleh publik. Namun tak seorangpun jurnalis dengan reputasi yang menantang klaim bahwa orang Asia sedang dicegat dan diselidiki secara tidak proporsional. Islamophobia diterima begitu saja bahkan tak seorangpun yang mau repot-repot menyelidikinya apakah itu benar. Dalam perdebatan mengenai pencegatan dan pemeriksaan terdapat data obyektif untuk membantah klaim adanya Islamophobia. Tapi mengenai serangan fisik, kebenarannya lebih sulit dilihat. Definisi mengenai serangan rasial telah berubah secara radikal selama 20 tahun terakhir. Sekarang ini apa saja mulai dari menyebut nama sampai serangan brutal termasuk dalam serangan rasial. Persoalan ini dipersulit oleh fakta bahwa, mengikuti peristiwa MacPherson yang menyelidiki kasuh pembunuhan Stephen Lawrence, polisi berkewajiban menerima persepsi korban atas sebuah serangan. Jika korban percaya bahwa itu adalah serangan rasial, polisi harus memperlakukan demikian, mengakibatkan terdapatnya elemen subyektif di dalam laporan. Jika data statistik untuk serangan rasial sulit disusun, akan lebih sulit lagi untuk mentakrifkan serangan Islamophobia. Haruskah kita memperlakukan setiap serangan pada seorang Muslim sebagai gejala Islamophobia? Jika seorang sopir taksi Afghanistan diserang, apakah ini serangan rasial, insiden Islamophobia, ataukan sekedar kasus kekerasan biasa? Ketidakpastian semacam itu memberi peluang untuk menjual segala macam klaim mengenai Islamiophobia. Menurut Iqbal Sacranie, kaum Muslim belum pernah menghadapi bahaya fisik yang lebih berat daripada sekarang ini. Editor Muslim News, Ahmed Versi, juga memiliki keyakinan serupa bahwa, " Setelah peristiwa 11 September, kami menghadapi jumlah serangan pada kaum Muslim yang paling besar daripada yang pernah ada." Pengalaman pribadi dan data statistik yang ada menentang klaim ini. Saat saya tumbuh pada tahun 1970-an dan 1980-an, rasisme memang keji dan seringkali fatal. Penusukan dan pengeboman rutin terjadi di bagian-bagian tertentu wilayah Inggris. Pada Mei 1978, lebih dari 7.000 warga keturunan Bengali berbaris dari Whitechapel menuju Whitehall sebagai protes atas pembunuhan pekerja garmen Altab Ali di dekat Brick Lane - salah satu dari 8 pembunuhan rasial pada tahun tersebut. Pada dekade berikutnya, terdapat paling tidak 45 pembunuhan serupa. Bagi kaum Muslim, akhir dekade 1980 - mulai dari kasus Rushdie hingga Perang Teluk - memang benar-benar berat. Saya dulu biasa mengorganisasi patroli di wilayah pemukiman London timur untuk melindungi keluarga Asia dari serangan rasial. Inggris kini telah menjadi lebih baik - bahkan bagi kaum Muslim. Memang masih ada serangan rasial. Awal bulan desember, 3 orang pemuda Muslim dipukuli di Manchester oleh gerombolan berjumlah 15 orang yang kuat dalam sebuah peristiwa yang digambarkan polisi sebagai serangan rasial yang menakutkan. Tapi kita telah banyak berubah sejak tahun 1970-an dan 1980-an, dan saya melihat mengecilnya intensitas rasial yang muncul berikutnya. Data statistik yang tersedia cenderung membenarkan persepsi pribadi ini. Uni Eropa begitu peduli atas serangan pada kaum Muslim mengikuti peristiwa 11 September hingga Uni Eropa mengangkat laporan khusus. Dalam waktu 4 bulan setelah terjadi serangan atas World Trade Centre, Uni Eropa menemukan terdapat sekitar 12 serangan serius pada kaum Muslim Inggris. Angkan 12 memang terlalu banyak, tetapi itu tidak membuktikan adanya Islamophobia. Bahkan organisasi-organisasi Muslim yang berkampanye melawan Islamophobia menemukan kesulitan untuk membuktikan bahwa rutin terjadi serangan pada kaum Muslim. Komisi Hak Asasi Islam memantau adanya 344 serangan pada kaum Muslim pada tahun setelah peristiwa 11 September 2001. Kebanyakan adalah insiden kecil seperti mendorong atau meludah. Bagi pemimpin-pemimpin Muslim, melambungkan ancaman Islamophobia membantu mereka mengkonsolidasi basis kekuatan mereka, baik dalam komunitas mereka sendiri maupun dalam cakupan masyarakat yang lebih luas. Kaum Muslim Inggris telah lama melihat dengan perasaan iri akan kekuatan politik yang dimiliki oleh komunitas Yahudi, dan akan kedudukan yang diberikan kepada Dewan Perwakilan Yahudi-Inggris. Salah satu alasan untuk membentuk Dewan Muslim Inggris adalah untuk berusaha menandingi sukses politik perwakilan Yahudi tersebut. Pemimpin-pemimpin Muslim berbicara tentang menggunakan Islamophobia, dengan cara yang sama seperti yang mereka rasakan pemimpin-pemimpin Yahudi telah mengeksploitasi ketakutan terhadap perasaan anti-Semit. Melebih-lebihkan prasangka anti-Muslim juga berguna bagi para politisi yang berpengaruh, dan khususnya bagi pemerintah Partai Buruh yang telah menghadapi pukulan politis karena dampak perang melawan Irak dan undang-undang anti-terornya. Menjadi sensitif terhadap Islamophobia memberi peluang bagi mereka untuk memperoleh kembali landasan moral yang tinggi (gains them a 'high moral ground'). Hal itu juga mengijinkan para politisi Partai Buruh untuk mendapatkan suara kaum Muslim. Kaum Muslim merasa dikhianati oleh meletusnya Perang Irak, menteri perdagangan Mike O'Brien menulis baru-baru ini di Muslim Weekly, tetapi "Pemerintahan Partai Buruh sedang berusaha menyampaikan agenda yang menunjukkan perhatian dan rasa hormat terhadap kaum Muslim." Menurut O'Brien: Iqbal Sacranie, sekretaris jenderal Dewan Muslim, meminta Tony Blair untuk menyatakan bahwa pemerintah akan memperkenalkan undang-undang yang baru yang melarang diskriminasi keagamaan. Dua minggu kemudian, dalam pidatonya kepada konggres Partai Buruh, Tony Blair berjanji bahwa Pemerintah Partai Buruh berikutnya akan melarang diskriminasi keagamaan." Berpura-pura bahwa kaum Muslim sedang menghadapi masa yang paling berat mungkin bisa mendukung bagi para pemimpin komunitas dan menolong para politisi memperoleh suara, tapi hal itu menimpa kita semua, Muslim atau non-Muslim, tanpa terkecuali. Makin yakin kaum Muslim kebanyakan bahwa mereka sedang berada di bawah serangan yang terus-menerus, makin marah mereka, menutup diri dan makin terbuka pada ekstrimisme. Dalam perjalanan membuat dokumentasi saya, saya bertanya pada sejumlah kaum Muslim kebanyakan di seluruh penjuru negeri tentang pengalaman mereka atas Islamophobia. Semua orang yakin bahwa kekerasan polisi sudah biasa terjadi, meskipun tak seorangpun yang pernah dicegat dan diperiksa. Semua orang yakin bahwa serangan fisik telah tersebar luas, meski hanya sedikit yang pernah diserang atau mengetahui seseorang yang pernah diserang. Apa yang sedang diciptakan di sini adalah budaya akibat-buruk-sebagai-korban di mana "Islamophobia" telah menjadi satu-satunya penjelasan bagi semua problem yang dihadapi kaum Muslim. Pertimbangkanlah masalah sosial yang menimpa komunitas Muslim. Warga keturunan Bangladesh dan Pakistan yang merupakan 2/3 dari populasi Muslim di negara ini, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk menjadi pengangguran dibandingkan warga kulit putih; penghasilan rata-rata pria Muslim hanya 68 persen dibandingkan pria non-Muslim; 65 persen warga keturunan Bangladesh adalah pekerja manual semi-terampil dibandingkan 23 persen di antara minoritas etnik lainnya dan 15 persen di antara keturunan Briton berkulit putih; 54 persen keluarga keturunan Pakistan dan Bangladesh menerima bantuan sosial; pada tahun 2000, 30 persen siswa keturunan Pakistan memperoleh lima atau lebih GCSE yang baik, dibandingkan dengan jumlahnya yang 50 persen dari seluruh populasi. Sudah jamak untuk menyalahkan semua ini pada Islamophobia. Menurut Muslim News, "reportase media tentang Islam dan kaum Muslim memiliki dampak besar terhadap kesempatan kerja bagi kaum Muslim." Namun pengangguran, kemiskinan dan rendahnya pendidikan bukanlah fenomena baru dalam komunitas Muslim di negara ini, penyebabnya banyak dan beragam. Rasisme memang memainkan peranan. Tapi demikian juga kelas sosial. Kelas sosial warga keturunan Pakistan dan Bangladesh lebih dekat dengan keturunan Afro-Caribia daripada dengan etnis India dan China. Sementara etnis India dan China berasal dari kelas menengah, kebanyakan keturunan Bangladesh, Pakistan dan Afro-Caribia berasal dari kelas pekerja kasar dan daerah pedesaan. Beberapa orang juga mempersalahkan praktek kultural dalam komunitas Muslim tertentu. "Pada umumnya ," jurnalis Yasmin Alibhai-Brown mengakui," Komunitas dengan penghasilan terendah di negara ini adalah Muslim. Jika engkau membicarakannya dengan orang-orang mengapa hal ini terjadi, satu-satunya alasan yang mereka berikan adalah Islamophobia." Ini bukanlah argumen yang diterima oleh Alibhai-Brown. "Bukanlah Islamophobia jika ada orang tua yang meminta anak gadis mereka yang berusia 14 tahun untuk meninggalkan sekolah dan menikah dengan seorang buta huruf." Alibhai-Brown tidak setuju dengan pendapat ini tentang taraf Islamophobia, ia mempercayai bahwa Islamophobia memang merupakan kekuatan besar yang membentuk kehidupan kaum Muslim. Meskipun demikian, ia menambahkan, itu juga bisa dijadikan "label yang nyaman, menyerupai daun ara...dan seringkali digunakan untuk memeras masyarakat." Semua ini menyarankan diperlukannya pembicaraan yang terbuka dan jujur tentang kaum Muslim dan hubungannya dengan masyarakat Inggris yang lebih luas. Kemungkinan untuk pembicaraan yang terbuka dan jujur seperti itu nampaknya tidaklah terlalu tinggi. "Islamophobia" bukan saja telah menjadi gambaran akan prasangka anti-Muslim - tapi juga menjadi rumusan bagi apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan tentang Islam. Setiap tahunnya, Komisi Hak Asasi Islam menyelenggarakan acara pemberian hadiah untuk mengolok-olok "Tokoh Islamophobia Tahun Ini (kononnya)." Tahun lalu terdapat dua orang Inggris yang menjadi pemenang. Yang pertama adalah Nick Griffin dari Partai Nasional Inggris. Yang kedua adalah kolumnis Guardian, Polly Toynbee. Pembelaan Toynbee atas sekularisme dan hak asasi wanita, dan kritiknya terhadap Islam, dinyatakan oleh Komisi Hak Asasi Islam (IHRC) tidak dapat diterima. Bukankah ini benar-benar absurd, tanya saya pada Massoud Shadjareh dari IHRC, untuk menyamakan seorang anti-rasis liberal seperti Polly Toynbee dengan pemimpin partai berhaluan neo-fasis? Sama sekali tidak, jawabnya. Kami memang perlu bekerja sama dan berbicara. Tetapi ada batasnya untuk itu." Sungguh sulit untuk membayangkan kerja sama dan pembicaraan seperti apa yang bisa terlaksana jika tokoh-tokoh pemimpin Muslim tidak bisa membedakan antara kritik liberal dan serangan neo-fasis. Akan sangat mudah untuk mengesampingkan IHRC sebagai organisasi pinggiran. Tapi ternyata tidak. Ia adalah badan konsultasi PBB. Karya mereka telah dipuji oleh Komisi Untuk Persamaan Ras. Lebih penting lagi, argumennya - bahwa dalam masyarakat plural, kebebasan berpendapat dibatasi oleh kebutuhan untuk tidak menghina agama tertentu atau kelompok-kelompok kultural lain - telah secara luas diterima. Jadi pemerintah saat ini sedang merancang undang-undang yang baru untuk melarang hal-hal yang memicu kebencian keagamaan. Rancangan undang-undang kejahatan dan kepolisian yang serius dan terorganisasi akan menjadikannya sebuah pelanggaran "dengan secara sengaja menggunakan kata-kata, tingkah laku atau bahan lainnya untuk mengancam, melecehkan atau menghina dengan maksud atau dampak serupa untuk menimbulkan kebencian terhadap kelompok masyarakat yang dijadikan sasaran karena kepercayaan agama mereka." Para pendukung undang-undang ini menyatakan bahwa undang-undang ini akan menjangkau kaum Muslim maupun kelompok keagamaan lainnya, seperti halnya perlindungan terhadap kelompok rasial yang sudah mereka miliki. Kaum Sikh dan Yahudi dilindungi oleh Undang-Undang Hubungan Rasial. Undang-undang yang baru ini dirancang untuk memenuhi kepentingan kaum Muslim yang belum tercakup. Tapi sebenarnya sudah merupakan sebuah pelanggaran untuk memicu kebencian keagamaan. Undang-Undang Ketertiban Umum tahun 1986 yang telah diamandemen pada tahun 1998 untuk memuat pelanggaran "gangguan keagamaan". Seseorang dinyatakan melakukan pelanggaran jika dia "mempertontonkan tulisan, simbol atau representasi visual lainnya yang mengancam, melecehkan atau menghina, yang dapat didengar atau dilihat oleh seseorang yang dapat menimbulkan gangguan, ketakutan atau bahaya." Pelanggaran tersebut "bisa dilakukan di tempat umum maupun pribadi." Tak lama setelah peristiwa 11 September, Mark Norwood, seorang anggota BNP, dihukum di bawah undang-undang ini setelah dia meletakkan poster di jendelanya dengan gambar gedung World Trade Centre yang terbakar dengan slogan "Islam keluar dari Inggris." Bagaimanapun juga, terdapat perbedaan yang fundamental antara ras dan agama. Engkau tak bisa memilih warna kulitmu; engkau bisa memilih kepercayaanmu. Agama adalah serangkaian kepercayaan. Aku bisa menjadi tidak suka terhadap kepercayaan lain. Jadi mengapa aku tidak bisa merasa tidak suka terhadap agama? Beberapa pendukung undang-undang ini bersikeras bahwa undang-undang ini akan tetap mengijinkan kita berseloroh dan mengkritik agama-agama. Tapi dalam prakteknya, undang-undang ini akan menjadi mimpi buruk untuk diperlakukan. Semua pemimpin muslim yang saya ajak berbicara ingin menggunakan undang-undang ini untuk melarang The Satanic Verses [Ayat-ayat Setan]. Ahmed Versi, editor Muslim News, berpikir bahwa Margaret Thatcher harusnya dituntut karena berpendapat bahwa setelah peristiwa 11 September 2001 tidak terdapat cukup kutukan atas terorisme dari ulama Muslim. Sepuluh tahun lalu, pemerintah Tory menolak undang-undang serupa karena para menteri takut bahwa hal itu akan digunakan untuk melarang The Satanic Verses. Sekarang ini, para menteri kantor pusat dan direktur tuntutan publik meyakinkan semua orang bahwa ini tak mungkin terjadi." Kita masih akan bebas untuk saling berseloroh," kata direktur tuntutan publik, Ken Macdonald kepada saya. Ini berarti banyak kaum Muslim yang tidak akan merasa puas. Setelah mendukung ketakutan yang dibesar-besarkan atas prasangka anti-Muslim dan mengajak kaum Muslim percaya bahwa undang-undang yang baru telah dirancang untuk memenuh kepentingan mereka, para menteri mungkin akan kesulitan untuk mengecewakan harapan kaum Muslim. Apa yang nampak di ruang persidangan sekarang ini adalah segala bahan yang bisa menimbulkan kerusuhan umum dipandang sebagai memicu kebencian rasial atau keagamaan. Jadi undang-undang yang baru ini dapat memicu menciptakan ketidaktertiban umum karena kelompok-kelompok yang merasa kurang puas berusaha menyensor apa yang mereka anggap sebagai penghinaan. Pemandangan di Birmingham di luar Sikh mempermainkan Behzti mungkin akan terulang berkali-kali. Dalam satu pengertian, cacat dalam proporsal ini adalah ketidak-relevensinya, karena nilai yang sebenarnya bukan kepentingan praktis, tapi seperti yang dikatakan direktur tuntutan umum, "simbolik." Undang-undang tersebut dibentuk bukan untuk menyediakan penyelesaian hukum atas masalah sosial, tapi untuk membuat pernyataan moral akan apa yang diterima maupun tidak diterima di masyarakat. Tujuan hukum bukanlah untuk menyensor perilaku kita, tapi untuk menjadikan kita mampu menyensor diri kita sendiri. Ironi dari pendekatan ini adalah hal ini menggarisbawahi nilai yang terdapat dalam hidup bersama di tengah masyarakat yang beragam. Keragaman itu penting, bukan demi keragaman itu sendiri, tapi karena hal itu menjadikan kita mampu memperluas cakrawala kita, membandingkan nilai-nilai, keyakinan dan gaya hidup yang berbeda, dan membuat penilaian atas mereka. Dengan kata lain, hal itu mengijinkan kita untuk bekerja sama dalam debat dan dialog politik yang bisa membantu menciptakan nilai dan keyakinan-keyakinan yang universal, dan bahasa kewarganegaraan yang kolektif. Tapi debat dan dialog semacam inilah, dan membuat penilaian semacam itu, yang coba ditindas oleh multikulturalisme kontemporer atas nama "toleransi" dan "rasa hormat". Kutipan Dari Prospect Magazine | February 10, 2005, ditulis oleh Olih Kenan Malik, Dengan Terima Kasih. Original English article: Islamophobia Myth by Kenan Malik, FrontPage magazin.com, February 10, 2005; translated and published on Answering Islam with permission of FrontPage magazin.com.

06.00 | Posted in | Read More »

Emma Clark, Arsitek yang Jatuh Hati Pada Islam

Mungkin dengan mudah kita banyak menjumpai para ahli arsitektur taman. Namun, tidak demikian dengan mereka yang mengkhususkan diri pada rancangan taman berkonsep Islam. Emma Clark merupakan salah satunya. Di tanah kelahirannya, Inggris, perempuan paruh baya ini memang dikenal luas sebagai seorang arsitek spesialis taman bernuansa Islam.

Emma adalah seorang muslimah Inggris yang memeluk agama Allah bukan dari jalur keturunan dan keluarga. Ia baru memeluk Islam tujuh tahun lalu, tepatnya pada pertengahan Februari 2004 silam. Emmas lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga pemeluk Kristen Protestan yang terbilang taat.

Kabar mengenai kepindahan Emma menjadi seorang pemeluk Islam sempat menghiasi pemberitaan di berbagai media di Inggris. Maklum saja, karena keluarga besar Emma termasuk salah satu keluarga terpandang di negeri Ratu Elizabeth II ini. Kakek buyut Emma, Herbert Henry Asquith, pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris periode 1908 hingga 1916. Sang kakek buyut juga dikenal sebagai tokoh yang ikut melibatkan Inggris dalam Perang Dunia (PD) pertama.

Perihal keputusannya berpindah keyakinan, Emma enggan membagi kisahnya kepada media-media Inggris. “Kita semua adalah satu ras. Saya berharap fenomena ini bukan seperti musim yang segera berlalu,” ujarnya kepada harian Sunday Times menanggapi fenomena maraknya warga kalangan menengah ke atas di Inggris yang memeluk Islam beberapa tahun terakhir.

Harian Sunday Times menyebutkan bahwa Emma Clark termasuk salah satu arsitek taman yang ikut membantu membuat desain sebuah taman bernuansa Islam di kompleks rumah sekaligus peternakan milik putera mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles, yang terletak di Highgrove, kawasan Gloucestershire. Konsep taman tersebut ia beri nama “Carpet Garden”. Ia juga ikut merancang taman serupa di seputar tempat parkir sebuah masjid di Woking, Surrey.

Konsep taman ada dalam Al-Qur’an

Dalam merancang sebuah taman, Emma tidak pernah keluar dari konsep rancangan sebuah taman dalam ajaran Islam. Karenanya tak mengherankan jika ia banyak mengacu kepada gambaran konsep sebuah taman sebagaimana yang banyak diterangkan di dalam kitab suci Alquran.

Emma bahkan telah menulis buku mengenai konsep taman Islam. Dalam bukunya yang diberi judul The Art of The Islamic Garden ini Emma secara khusus mengulas bagaimana Alquran tidak hanya mengajarkan kepada umat Islam mengenai masalah ibadah, tetapi juga mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah mengenai konsep penataan sebuah taman.

”Islam mengajarkan bahwa semua kebun atau pun taman yang ada di muka bumi ini hendaknya dibuat berdasarkan konsep taman dan kebun di surga seperti yang digambarkan dalam Alquran,” papar Emma.

Ketertarikan Emma terhadap penataan taman sesuai dengan konsep Alquran berawal dari fenomena peningkatan suhu global yang mulai melanda kawasan Eropa Utara. Peningkatan suhu global melanda kawasan Eropa Utara ini telah mengusik rasa kepedulian Emma sebagai seorang arsitek taman untuk mendesain sebuah taman yang dapat mengurangi dampak pemanasan global.

Berawal dari situlah Emma kemudian melakukan sejumlah penelitian. Dari berbagai penelitian yang dilakukannya Emma menemukan fakta bahwa konsep taman yang dikembangkan oleh para arsitektur muslim di masa kekhalifahan Islam ternyata sangat ramah lingkungan dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi peningkatan suhu global yang mulai melanda sejumlah tempat di muka bumi.

Hasil penelitiannya ini kemudian ia tuangkan dalam sejumlah konsep taman di Inggris. Konsep taman Islam yang ditawarkan oleh Emma ini pun banyak diminati di negara-negara di luar Inggris. Dan, sejak saat itu namanya dikenal luas sebagai arsitek spesialis taman Islam.

Berdasarkan konsep Islam, terang Emma, pohon-pohon yang ada di dalam taman hendaknya ditanam secara selang- seling antara pohon cemara dan pohon buah-buahan. Untuk pohon buah, ia merekomendasikan pohon almond, cherry, apel, pear atau pohon plum. Namun, jenis pohon buah yang akan ditanam, menurut Emma, bisa saja disesuaikan dengan iklim daerah setempat. Misalnya, di Inggris, bisa saja jenis pohon buah yang ditanam adalah buah murbei.

Dalam Alquran, ungkap Emma, ada empat jenis pohon yang banyak disebut, yakni ara, zaitun, delima dan kurma. Dalam konsep taman yang dibuatnya di kediaman pribadi Pangeran Charles di Highgrove, Gloucestershire, Emma menggunakan tiga dari empat jenis pohon yang banyak disebut dalam Alquran ini. Untuk taman di kediaman Pangeran Charles, ia menggunakan pohon ara, zaitun dan delima. ”Kalau kurma saya anggap tidak cocok untuk di tanam di lokasi ini.”

Dalam bukunya, Emma juga memaparkan bahwa konsep taman dalam Islam hendaknya memiliki elemen air di dalam taman, berupa kran-kran air yang dalam konsep Islam berfungsi sarana untuk berwudhu atau bersuci. Selain itu juga terdapat kran air khusus yang berfungsi sebagai focalpoint pada taman utama, yang dapat memancarkan air sewaktu-waktu. n dia

Keberadaan sebuah taman dalam Islam juga menjadi suatu simbol bagi keterbukaan, dimana taman berfungsi sebagai open space (ruang terbuka). Karenanya penanaman vegetasi pada burffer area (ruang penyangga) menggunakan tanaman yang bersifat tembus pandang (tidak terlalu rapat).

sumber :klik

05.37 | Posted in | Read More »

Ismail Chartier, Gagal Jadi Pegulat Profesional Ia Pun Masuk Islam

Sepuluh tahun lalu, Ismail Chartier memeluk Islam. Keputusannya memeluk Islam berawal dari kegagalan dirinya menjadi pegulat profesional.

Ismail besar dalam keluarga Katolik Irlandia di Manhattan. Namun, lingkungan tempat ia tinggal merupakan kawasan peredaran narkoba yang diawasi mafia Irlandia. Tak heran, Ismail kecil sudah akrab dengan kekerasan.

Ibu dan ayahnya merupakan generasi pertama Amerika-Irlandia. Sementara, ia dan saudaranya merupakan generasi kedua yang diwajibkan mempelajari budaya Irlandia.

Oleh orang tuanya, diajari tarian, musik, dan kebencian akan kependudukan Inggris di Irlandia Utara.

Memasuki usia ke-20 tahun, Chartier menjadi anggota tim gulat Universitas Arizona. Sayang, impiannya mejadi pegulat kandas lantaran cedera punggung berkepanjangan. “Saya ingat hari itu, pelatih mengatakan saya tidak bisa menjadi pegulat. Sejak itu, saya begitu emosional,” kenangnya.

Namun, Chartier tidak ingin larut dalam amarah. Ia mencoba beralih pada agama, dan memulainya dengan mempelajari Kristen Ortodoks. Mengapa Ortodoks, karena ia menginginkan perspektif lain. Guna mencapai tujuannya itu, ia memutuskan berangkat ke Yunani. Di sana Chartier mempelajari ajaran Kristen Ortodoks selama satu tahun penuh.

Sepulangnya dari Yunani, ia justru mengalami perasaan putus asa. Hatinya tidak menerima prinsip Ortodoks. Chartier kemudian mengunjungi sinagog. Di sana ia mendapati bahwa Yahudi hanya mengakui satu Tuhan. “OK, saya ingin menjadi Yahudi,” kata dia mantap.

Rabi Yahudi tidak begitu saja menerimanya. Karena, Chartier tidak memiliki darah Yahudi murni. Spontan rabi tersebut memintanya pergi. “Saya tidak percaya bahwa Tuhan membatasi agama-Nya hanya untuk satu bangsa. Semua manusia seharusnya berhak atas agama yang diturunkan-Nya,” kata dia.

Selanjutnya, Ismail Chartier mengunjungi Nepal. Di sana ia punya harapan besar untuk mempelajari agama Buddha dan Hindu.

Satu kesempatan, ia mengunjungi sebuah perpustakaan dengan rak bertuliskan Islam. Dalam rak itu terdapat buku Elijah Wood, Rumi dan Ghazali. Lalu ada Alquran terjemahan bahasa Inggris.

“Pertama kali melihat, saya begitu antusias. Sepengetahuan saya, buku ini menjadi pedoman Muslim. Saya harus baca kitab ini,” ujarnya.

Tidak mudah baginya untuk mempelajari Alquran. Ia terlebih dahulu mempelajari bahasa Arab. Ia katakan niatannya itu kepada istrinya yang selalu mendukungnya mencari kebenaran. “Saya tidak mau menjadi Kristen, saya ingin dan akan menjadi Muslim,” kata Chartier.

Semenjak ia mempelajari Islam, ia begitu merasakan kedamaian dan ketenangan. Pertama kali dalam hidupnya, ia merasa memiliki hati nurani. “Amarah yang selalu membebaniku hilang seketika,” ungkapnya.

Keputusannya memeluk Islam membuat keluarga besarnya marah besar. Chartier diasingkan oleh keluarganya. Walau begitu, ia tetap tenang menghadapi penolakan keluarganya. Prinsipnya, ia harus menjadi hamba yang baik dan tetap menghormati sikap keluarganya.

Tak butuh waktu lama, keluarga Chartier akhirnya menerima keputusannya itu. Hubungan mereka bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Orang tuanya bahkan begitu sayang dengan anak-anaknya. “Saya percaya, rasa hormat itu menyembuhkan penyakit hati. Hormati orang lain, ketika anda menginginkan dihormati,” kata Chartier.

Selanjutnya, Chartier mulai melangkah untuk berdakwah. Ia mendirikan organisasi yang bertujuan untuk menghindari anak-anak terjebak dalam kejahatan, seperti narkoba. “Islam menjadi rujukan organisasi ini,” pungkas dia.


sumber :klik

12.22 | Posted in | Read More »

Jariku sakit..

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Menulis itu tuntutan, menulis itu penghargaan.
tuntutan kita selaku orang berilmu untuk terus memberikan terbaik untuk orang lain.
menulis pun itu suatu penghargaan, penghargaan yang diberikan Allah kepada orang - orang yang hidup di zaman itu dan setelahnya untuk menikmati karya - karya yang dihasilkan orang seorang penulis.

selain perintah membaca dalam Al-Quran, menulis pun sesuatu yang diistimewakan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Qalam, yang bermaksud : Pena.
diberikan nama surat Al- Qalam dalam Al-Quran itu menunjukan bahwa surat itu mempunyai arti yang penting dalam kehidupan
dan tentunya mempunyai peranan penting dalam dunia ini.

kita mengetahui karya -karya ulama terdahulu dari tulisan mereka yang sampai ke kita.
bukan dari ceramah mereka, sebab kita tidak hidup di zamannya.
kita merasakan ilmu mereka yang hebat dari tulisan- tulisan mereka.

tanpa tulisan itu, mana tahu kita tentang semua hukum - hukum, karya - karya ulama terdahulu yang fenomenal sampai sekarang, yang dijadikan referensi untuk ulama yang lahir setelahnya.

-Pramoeddya mengatakan " Menulislah..! selama Anda tidak menulis, maka Anda akan hilang dari pusaran sejarah, ".
sejarah akan melihat kita dari tulisan kita, sejarah tak akan pernah melupakan kita, walau kita sudah hilang dimakan masa. Sejarah akan terus bersama para penulis. Orang akan mati dibawa zaman, tapi tulisan akan terus bersama zaman.

dan Apa manfaat menulis itu?
Penulis hanya membuat manfaat menulis terbagi menjadi 2 bagian saja :

1- Psikologis, secara psikologis menulis sangat bermanfaat dan bisa membuat kita sehat bahkan mampu untuk mengontrol diri. Sebab tiap permasalahan yang ada di dlam diri kita atau yang ada disekeliling kita, diluahkan dalam bentuk tulisan, bukan kita pendam perasaan itu atau permasalahan yang akan membuat kita stress.

2-Metodologis, menulis ternyata melatih kita untuk berpikir metodologis, melatih kita berpikir secara teratur untuk melakukan suatu tindakan sesuai yang dikehendaki.
jadi tidak sembarangan dalam bersikap.

Jadi mulai dari sekarang, marilah kita untuk mencoba menggerakan jari kita untuk membuat satu karya, membuat satu inovasi tulisan, menjadikan tiap jari kita punya makna untuk kemajuan bangsa, negara dan agama.
membaca dan menulis adalah saudara kandung yang mestinya tidak bisa dipisahkan dari apa pun.

kalau kita membaca maka kita dituntut untuk meluahkan bacaan kita dalam bentuk tulisan.
supaya orang lain bisa mencerna apa yang ada di dalam fikiran kita.
bisa mengambil manfaat dari tulisan kita.
dan bisa mengkritik tulisan kita kalau tidak sesuai dari agama.

Sebab hanya orang yang menulis yang bisa dikenal orang sepanjang zaman
dan punya pengaruh yang besar untuk kemajuan.
orang yang rajin membaca itu tidak cukup untuk dikatakan orang sukses.
orang yang menulis pasti membaca, belum tentu yang membaca pasti menulis.

Gerakan jari kita untuk memulai menulis dari sekarang.
sebab kalau kita mengatakan menulis itu susah, maka saat inilah waktu yang tepat untuk melatihnya.
kalau menulis itu mudah, maka menuntut kita untuk membuat karya agung
yang bisa diberikan untuk masyarakat luas.



Waalahu a'lam

12.17 | Posted in | Read More »

Terbunuh 44 orang oleh peluru tentara Suriah di Damaskus

Nabil Elaraby sebagai Sekretaris Jenderal Liga Arab memperingatkan akan bahaya yang terus meningkat di Suriah, terus bertambah di bulan bulan terakhir ini dibanding bulan sebelumnya sudah ribuan yang menjadi korban.

Ia bertemu dengan Ali Karti dan Menteri Luar Negeri Sudan  dan mengatakan situasi di Suriah akan menjadi lebih buruk, menunjukkan bahwa Liga Arab berkomitmen untuk  bepegang atas keputusan Dewan Menteri Luar Negeri Arab mengenai Transisi di Suriah.

Nabil menjelaskan  untuk selalu  berkonsultasi setiap hari dengan Utusan Lakhdar Brahimi umum pada barunya di Suriah, terutama karena Ibrahimi memiliki konsep penuh untuk menghadapi krisis dan ingin konsultasi lebih lanjut tentang situasi di Suriah, menekankan bahwa ia akan bertemu dalam tiga puluh bulan ini dengan anggota Dewan Keamanan PBB pada pertemuan tingkat menteri disebut oleh Perancis, presiden saat ini Dewan. Dia menjelaskan bahwa dia akan segera bertemu para Leluhur di Kairo setelah kunjungan saat ini ke New York.
Respon terhadap pertanyaan tentang visi inisiatif Liga Arab, Presiden Mesir Mohamed Morsi membentuk quad grup kontak termasuk Iran, Turki, Mesir dan Arab Saudi untuk mengatasi situasi di Suriah, kata Arab, Liga Arab menyambut inisiatif untuk menyelesaikan krisis Suriah, menekankan bahwa inisiatif Presiden Mursi menyambut karena mereka termasuk mengundang empat negara memiliki Dampak ini dapat menjadi undangan sangat berguna.
Di Damaskus, kata badan itu Arab News Suriah bahwa al-Shara bertemu dengan delegasi kemarin Iran di penampilan resmi pertama sejak minggu, Badan itu mengatakan Wakil Presiden akan bertemu dengan delegasi parlemen dari Iran dipimpin oleh Aladdin Audda., Dan dalam upaya untuk menyangkal membagi Farouq al-Shara Wakil Presiden .
Di lapangan, menurut Komite Koordinasi Lokal menewaskan 44 orang kemarin di tangan pasukan reguler Suriah, terutama di Damaskus dan pedesaan yang Tol sampai di. Kemarin ditembak mati oleh pasukan tentara Suriah reguler untuk 440 orang, termasuk 250 orang dalam pembantaian di Darya Pedesaan Damaskus.
Dan kelanjutan dari pengungsi krisis aliran Suriah di perbatasan dengan Yordania, kata Samih Maaytah dan Menteri Negara Media Dalam Negeri dan Komunikasi dan juru bicara pemerintah Yordania mengatakan bahwa terlihat di perbatasan Yordania meningkatnya semakin masuk pengungsi Suriah di luar kemampuan dari kamp dilengkapi untuk menerima mereka dan memegang mereka yang membuat upaya-upaya besar.
Maaytah menambahkan bahwa ada kelanjutan dari masuknya besar pengungsi Suriah ke Yordania, di mana jumlah yang memasuki negara itu malam terakhir untuk 2.329 sebagai pengungsi. Dia menunjukkan bahwa Jordan adalah berurusan dengan pengungsi Suriah dari tugas nasional dan kemanusiaan, yang membawa lebih dari beban tambahan pada sumber daya ekonomi.

11.33 | Posted in | Read More »

Dosa Hanya Di Luar Masjid

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Islam agama yang universal. Agama yang agung. Agama yang mulia.
pemikir Islam Muhammad Imarah berpendapat dalam bukunya, Islam Dalam Perspektif Barat :
" Bahwa Islam itu masuk dalam 3 unsur sebagai berikut : Agama, Negara, Peradaban.

Jadi Islam itu agama yang mengurus semua akhlak dan ibadah umatnya.
dan Islam pun mengatur juga dalam aspek kenegaraan. Contoh : haramnya korupsi, skandal sex, ketidakadilan.
tentu kalau agama sudah bersanding dengan negara maka akan tercipta satu peradaban yang besar dan hebat.

Islam tidak bisa dipisahkan oleh ketiga unsur itu, sebab saling berkaitan dan saling memerlukan.
agama tanpa negera itu akan pincang.
sebab negara punya peran penting dalam memudahkan hukum itu teraplikasi
dan negara pun tanpa agama akan hancur, sebab ketamakan manusia tidak terkontrol.

Faham sekularisme yang selalu dipropogandakan oleh Barat. Dan itu adalah penyakit kronis
yang mesti kita buang dari sekitar kita.
contoh faham ini : Di masjid untuk solat dan beribadah, di luar masjid kita boleh maksiat.
sebab dosa dan pahala itu ada di dalam masjid saja, di luar masjid agama tidak bisa menyekat atau melarang itu semua.
faham ini yang kadang masih banyak orang yang menggunakannya.

Secara etimologi sekularisme berasal dari kata
saeculum (bahasa latin), mempunyai arti dengan dua konotasi waktu dan lokasi: waktu
menunjukan kepada pengertian ‘sekarang’ atau ‘kini’, dan waktu
menunjuk kepada pengertian ‘dunia’ atau ‘duniawi’.
Sekularisme juga memiliki arti
fashluddin anil haya, yaitu
memisahkan peran agama dari kehidupan yang berarti agama hanya
mengurusi hubungan antara individu dan penciptanya saja.

sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai faham yang hanya
melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini. Tanpa ada
perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti
adanya kehidupan setelah kematian yang notabene adalah inti dari ajaran agama.
sekularisme secara terminologi sering didefinisikan sebagai sebuah
konsep yang memisahkan antara negara (politik) dan agama ( state
and religion)

Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi
tatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan
yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya
mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan
bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan. Maka,
menurut para sekular, negara dan agama yang dianggap masing-masing
mempunyai kutub yang berbeda tidak bisa disatukan. Masing-masing
haruslah berada pada jalurnya sendiri-sendiri.

Sejarah singkat Sekularisme :
Peradaban barat pernah mengalami masa pahit, yang mereka sebut
“the dark ages” atau zaman kegelapan. Zaman itu dimulai ketika Imperium Romawi barat runtuh pada tahun 476 M dan digantikan mulai
munculnya gereja segamai institusi yang menguasai eropa hingga abad 14. Pada selang waktu itu terjadi perubahan besar dalam peradaban
Barat, dimana gereja mendominasi segala aspek kehidupan, terutama
dalam politik dengan pemerintahan teokrasinya.
Sejarah sekularisasi dimulai dari kekecewaan barat terhadap dominasi gereja dalam segi kehidupan masyarakat yang bermula sekitar
250 tahun yang lalu. Proses sekularisasi bermula dari pergolakan
pemikiran dan pertarungan gagasan, seperti dalam kasus Copernicus, Galileo, Darwin dan para saintis lain yang menentang gereja. Begitu juga
dibidang teologi muncul tokoh-tokoh seperti Eichhorn dan Strauss yang menerapkan beberapa metode historis kritis dalam kajian bibel. Jawaban
lainnya berusaha memperjelas sekularisasi dalam rangka modernisasi, seperti perubahan masyarakat dari agraris ke industri dari kehidupan
pedesaan ke perkotaan, dari kebiadaban menjadi peradaban dan seterusnya.


Jadi kalau peradaban Islam mau terus maju, faham sekularisme yang ditularkan oleh Barat jangan kita gunakan di kalangan umat Islam.
sebab racun itu akan terus menjalar dan mematikan. Jadi umat Islam dituntut untuk terus berhati - hati dan waspada dari virus yang akan merusak tatanan hukum agama.

11.31 | Posted in | Read More »

Blog Archive