Breaking News:

Pengenalan singkat negara Kuwait

Pengenalan Singkat Negara Kuwait

Kuwait negara kecil kaya minyak dan sangat melimpah membuat negara ini cukup disegani oleh negara negara lain di dunia, disegani bukan sebab karena kekuatan militernya yang bagus tetapi lebih kepada kekayaan minyak yang sungguh luar biasa.

Perpolitikan yang ada di Kuwait ialah bentuk-bentuk asosiasi, gerakan dan pengelompokan-pengelompokan. Misalnya, kelompok Islam, kelompok Libera dan kelompok Tribal (suku-suku).
Parlemen sendiri jumlah anggotanya relatif sangat kecil – menurut ukuran kita yaitu hanya 50 orang. Sangat berbeda dengan negara kita yang hampir 600 orang memang disebabkanl luas wilayah kecil tentu rakyanya pun kecil.

Perdebatan yang mewarnai isu politik Kuwait ialah masalah pentingnya restrukturisasi ekonomi Kuwait dan implikasinya terhadap kesejahteraan sosial, serta redistribusi pendapatan nasional. Sebenarnya niat untuk restrukturisasi dan liberalisasi ekonomi yang pada dasarnya memang baik dan diperlukan oleh Kuwait, diwarnai oleh ketidakpuasan Parlemen, serta kecurigaan mereka terhadap isu korupsi di kalangan elit pemerintahan dan masalah vested interest di kalangan yang memiliki privilese tertentu.


Misalnya, masalah privatisasi yang mendatangkan benefit-benefit tertentu bagi mereka yang berada di tempat yang basah dan empuk. Hal-hal yang – sama seperti di Indonesia juga - tidak mungkin terjangkau dan dapat dinikmati oleh para anggota Parlemen. Dan tentu saja hal seperti ini menimbulkan rasa iri hati dan ketidakpuasan.

Pemerintah terus mempropagandakan perlunya meningkatkan pernanan asing untuk upgrading proyek-proyek perminyakan mereka di kawasan Utara negara Kuwait. Hal ini memperhebat sentimen bahwa Penghasilan terbesar mereka yaitu minyak akan dikuasai oleh bangsa asing dan dengan demikian negara akan berada di bawah ketiak bangsa asin.
Begitu pun masalah politik lainnya yang mewarnai perpolitikan Kuwait ialah masalah naturalisasi penduduk etnik Arab stateless (bidoon jinsiya) yang berasal dari negara-negara tetangga mereka seperti Palestina, Lebanon, Mesir, dsb. Jumlah mereka ini telah mencapai sekurangnya 100.000 jiwa dan akan terus meninggkat.
.
Hal lain yang menarik dari perpolitikan di Kuwait ialah dominasi peranan Trah Al-Sabah dalam Eksekutif dan Yudikatif. Cikal bakal trah al-Sabah ialah Sheikh Mubarakal-Sabah, yang memerintah antara 1896 – 1915. Pendiri trah al-Sabah ini memiliki dua garis keturunan. Pertama, Bani Jabr (dari putra pertamanya) dan kedua, Bani Salem (dari putra keduanya). Emir yang sekarang yaitu Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah dan putra mahkotanya yaitu Sheikh Nawaf al-Ahmed al-Jabr al-Sabah berasal dari Bani al-Jab.

Negara Kuwait ini kalau ditopang dengan kemajuan perminyakan dan militer maka bisa jadi negara ini akan menjadi negara super power yang akan menggantikan Amerika. Tapi, itu memang sangat sulit dimana militer Kuwait masih jauh di bawah Amerika, China, Rusia. Export Kuwait pun yang menjadi andalan adalah hanya minyak.
Yang ditakutkan pemerintah Kuwait adalah suatu saat nanti Kuwait akan kekurangan minyak dan Kuwait mesti mencari solusi untuk itu semua. Kalau tanpa minyak Kuwait bukanlah negara kaya tapi negara kecil yang bertempat dipanasnya padang pasir.

Penulis : Ekta Yudha Perdana

14.48 | Posted in | Read More »

Tuhan Jagalah Timur Tengah


Oh Tuhan Jagalah Timur Tengah

Prolog

Politik selalu identik dengan kelicikan – konspirasi – peperangan – debat – kecerdasan – retorika – jabatan – undang undang. Dan sebab politik pun semua menjadi bisa. Kalau kita bertanya ke politikus dua tambah dua berapa? Maka akan dijawab lima, dan ditanya lagi, kenapa lima? Iya sebab satunya lagi saya simpan di dalam dompet saya dan itu sah sah saja kalau yang menjawab itu politikus. Dan beda, jika kita menanyakan itu ke ekonom, maka akan dijawab dua tambah dua adalah empat.


Timur tengah selalu hangat di media massa, dari : tv, newspaper, radio. Tidak akan pernah terlepas dari sorotan dunia. Mulai dari sosial sampai dunia politik, itu bukti bahwasannya kawasan Timur Tengah selalu indah, "indah" bagi wartawan dan indah bagi kelompok yang mempunyai kepentingan.

Zaman terus bergulir dan waktu pun "menggila" ketika dengar Timur Tengah berkecamuk lagi. Kita tak perlu heran apalagi shock dengar atau pun melihat kekejaman politik yang ada di Timur Tengah ; mulai dari Mesir sampai Suriah.


Timur tengah sudah tertulis dalam tinta darah para sejarawan ketika menjelaskan bagaimana darah rakyat Palestina mengalir dan mewangi di tanah suci. Dan menceritakan perjuangan mempertahankan Masjidil Aqsha dari tangan tangan pendosa Yahudi. Tapi, dunia Arab diam dan membisu bahkan mati rasa.

Bukan berarti bangsa Arab tidak ambil peduli, mereka meletakan hati ke bumi Palestina. Mereka teriak, bahkan mengiba kepada pemerintah dan hasilnya berlakulah demonstrasi dan itu hanya sebuah catatan kosong sebuah sejarah.


Hormat setinggi tingginya kepada para pembela Palestina; rakyat : Mesir, Suriah, Kuwait, Saudi dan sebagainya mendoakan kebangkitan Timur Tengah. Imperalisme itu racun buat dunia dan terkhusus bangsa Arab. PBB masih menjadi penjara bagi Palestina.

Sampai kapan?

Sampai dunia Arab bersatu. Tanpa adanya persatuan maka tak akan ada namanya kemerdekaan di bumi Palestina, bersatu dari elemen masyarakat sampai ke pemerintah. Selain Palestina, coba kita mengingat invasi Amerika di Afganistan, belum lagi perang saudara Iran dan Irak dan lain sebagainya.

Mudah bagi Amerika dan sekutunya mengubah dunia, dari semua konspirasi yang diciptakan akan memberikan keuntungan yang besar buat Barat. Yang paling prioritas adalah perpecahan di dalam Islam. Dan itu tujuan terbesar Amerika setelah hangusnya komunisme.


25 Januari 2011 jatuhnya rezim Husni Mubarak, rezim yang sudah kokoh dengan ketamakannya, kesombongannya, akhirnya dengan Izin Allah dan usaha yang kuat dari rakyat maka rezim otoriter itu tersungkur dari kebutaannya.

Nasib akhir dari keluarga Mubarak juga tidak pasti. Mantan presiden dan dua putranya telah ditahan, hal ini tidak pernah terbayangkan oleh kalangan manapun. Mubarak tampaknya memilih tinggal di penjara sampai ia meninggal secara wajar.


Sampai sekarang investigasi oleh pihak pengadilan telah menemukan bukti-buti bahwa mereka bersalah dan telah melanggar menghukum termasuk terlibat dalam kasus pembantaian para demonstran di Tahrir dan beberapa daerah lain di Mesir.


Beberapa kalangan mendukung hukuman penjara sebagai bukti tegaknya supremasi hukum, dan kalangan yang lain mendukung hukuman itu sebagai peringatan bagi presiden yang baru. Yang lain percaya bahwa keluarga Mubarak telah dihukum cukup dengan dilengserkan secara tidak terhormat dan dipermalukan karena mereka benar-benar melanggar hukum.


Para jenderal telah menahan Mubarak dan anak-anaknya serta para kroninya untuk menyelidiki tuduhan menyalahgunakan kekuasaan dan memperkaya pribadi dengan mengorbankan rakyat. Pemerintah mengatur seluruh kontrak perjanjian ekonomi dengan pengusaha kelas kakap termasuk penjualan tanah, pengaturan privatisasi dan kegiatan ekonomi lain dari rezim sebelumnya berada di bawah pengawasan Mubarak.


Kroni-kroni Mubarak telah ditahan dan diinterogasi tentang dugaan KKN. Misalnya, Ahmad ‘izz, yang memiliki 70% dari industri baja dan 50% dari industri keramik, dan memiliki kekayaan bersih diperkirakan hampir dua miliar dolar Amerika, Ahmad Izz adalah seorang pejabat senior partai Presiden Mubarak dan teman dekat Gamal Mubarak. Dia ditangkap 17 Februari.


Diinvestigasi oleh pihak berwenang dan saat ini telah dipenjara atas tuduhan korupsi pengadaan plat nomor kendaraan Mesir yang diimpor dari Luar negeri dengan harga yang sangat tinggi. Pada bulan Februari publik terfokus kemarahan terhadap ‘Ezz, rakyat membakar salah satu flat miliknya di Kairo untuk mengekspresikan penolakan kroni kaya presiden tersebut.


Habib Adly, Menteri Dalam Negeri Mubarak selama 13 tahun, juga menjadi target kemarahan rakyat dan pengawasan resmi pihak pengadilan. Dia diadili dan dihukum karena terjerat kasus korupsi. Hakim memberikan denda $ 2,5 juta, menyita semua asetnya, dan memutuskan untuk dipenjara selama 12 tahun. Ia juga diadili karena perannya mengawasi polisi, ketika para polisi diperintahkan untuk menembak para demonstran yang tidak bersalah selama Revolusi 18 hari, membiarkan 850 warga tewas ditangan gengster dan polisi. Selain itu juga habib Adly adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kaburnya 95.000 tahanan di seluruh wilayah Mesir.


Alam revolusi pasti dengan darah, tak ada term revolusi persuasif atau revolusi diplomatik itu palsu sebab revolusi pasti banyak yang hilang nyawa, dan itulah hasil dari perjuangan, darah adalah suara. Dan ada yang mengatakan " melakukan revolusi itu dengan lembut". Itu sungguh lucu.


Terjadinya ketimpangan sosial, ekonomi, tak ada kebebasan bersuara, maka rakyat akan bergerak untuk melepaskan tali kerakusan dan kekuasaan dengan paksa, manusia adalah makhluk yang berfikir, bisa baca lingkungan. Jadi akan melakukan gerakan dan mobilisasi untuk menggapai perubahan.


Ketidakpastian kondisi politik Mesir masalah utama di Mesir Selama beberapa dekade, Mubarak memimpin sebuah sistem otoriter yang ketat di balik demokrasi palsu. Mesir memiliki parlemen yang dipilih secara langsung oleh Rakyat, tetapi Mubarak dan kroni-kroninya melakukan kecurangan dalam setiap Pemilu sehingga partainya mendapat 69% dari kursi di 2005 dan kemudian 81% pada tahun 2010.

Sebagian besar media elektronik khususnya radio dan media televisi dikontrol ketat oleh Pemerintah. Polisi di bawah kendali Menteri Dalam Negeri Habib al Adly, yang korup, juga dibawah kendali Mubarak.



Relevansi Barat Dan Revolusi


Barat sejak jatuhnya khilafah di Turki 1923- 1924 mereka terlalu angkuh untuk menjajah negeri negeri Islam, semakin berani menginjak harga diri umat Islam. Berani teriak di telinga umat Islam, bahkan merendahkan wibawa umat Islam.

Penjajahan mental, ekonomi, politik, budaya sudah mewarnai dunia Islam. Islam tanpa khilafah, kelam. Khilafah memberikan kekuatan untuk menjawab semua keluh kesah perjuangan. Barat tepuk tangan dengan perang saudara di dunia Arab. Banyak kepentingan Barat di dunia Islam.


Apa yang terjadi di Timur Tengah? berawal dari Tunisia. Ketika tingginya harga kebutuhan pokok tidak sebanding kenaikan upah buruh dan pekerja. Masyarakat menuntut penurunan harga-harga kebutuhan pokok menuntut kesejahteraannya. Tingginya harga kebutuhan pokok yang hampir tidak terjangkau oleh pendapatan masyarakat Tunisa membuat ketimpangan terjadi dimana-mana. Aksi demonstrasi menuntut pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok terjadi dimana-mana.


Puncak kekecewaan terhadap pemerintah Tunisia adalah ketika seorang pemuda berusia 26 tahun melakukan aksi bakar diri di depan gedung pemerintah Tunisia. Aksi itu dilakukan oleh Mohamed Bouazizi pemuda berusia 26 yang kecewa frustasi terhadap perlakuan kasar polisi dan selalu ditolak ketika ingin menemui dewan kota, membuat pedagang sayur yang gerobaknya disita karena tak memiliki izin itu sebabnya dia membakar diri.


Ia melakukan hal itu tepat di luar gedung dewan kota. Akibat kejadian itu, gelombang aksi demonstrasi yang terjadi sejak pertengahan Desember tahun 2010 itu menuntut presiden Zine El Abidine Ben Ali mundur semakin besar.

Presiden yang telah memimpin Tunisa selama 23 tahun itu di demo warganya hingga memakan korban mencapai 78 orang meninggal dunia. Bahkan informasi yang dikeuarkan PBB menyebutkan jumlah rakyat yang meninggal sebenarnya mencapai 100 orang. Akhirnya, sang presiden mundur pada 14 Januari 2011 setelah mendapatkan tekanan hebat dari rakyatnya.


Bagi pemuda umur 26 tahun itu, aksi bakar diri itu dianggap lebih baik dibanding harus menganggur dan tidak mampu menopang kehidupan keluarga besarnya yang sangat tergantung padanya sebagai pedagang buah dan sayur untuk menopang hidup delapan anggota keluarganya dengan penghasilan kurang dari US$150 sebulan. Cita-citanya kata teman dan keluarganya, adalah mengembangkan usahanya dari pedagang bergerobak menjadi penjual buah dan sayuran dengan kendaraan truk bak terbuka.


Sebab penguasa penguasa Timur Tengah terlalu rakus jabatan dan mempunyai sifat diktator. Bisa kita katakan bahwa pembuka revolusi Timur Tengah adalah Muhamad Bouazizi yang polarisasi dari tindakannya itu mendapatkan respon yang besar dari para pemuda di negara tetangganya untuk melakukan gerakan yang sama untuk melakukan pergantian pemerintah yang baru.


Tapi, sebenarnya bukan hal yang fundamental bahwa Muhamad Bouazizi itu alasan utama adanya revolusi, yang pasti alasan mendasar adalah penindasan, ketidakadilan, kerakusan pemerintah menyebabkan adanya gelombang revolusi.

Apa ada kaitan dengan Barat dari revolusi yang terjadi di Timur Tengah?!

Mungkin tidak dan bisa juga iya..

Kenapa tidak?

Sebab kalau dilihat dari keadaan pemerintah yang rusak, ketimpangan ekonomi, sosial, tidak ada kebebasan mengkritik, ketidakadilan itu walau tanpa adanya konspirasi itu akan terjadi dengan sendirinya.

Dan kalau iya, dimana letak keterkaitan itu?


Tanpa adanya konspirasi maka tak akan mungkin serentak berlakunya revolusi ini, pasti ada dalang dari semua yang ada. Arab itu sudah ada bensin dalam hati mereka, tinggal disulut saja itu sudah terbakar kemarahan mereka.


Dan ini bisa jadi adalah konpirasi dari Barat dengan satu tujuan. Menghilangkan isu Palestina dari dunia Arab atau menyampaikan kepada dunia bahwa Arab adalah kaum yang terbelakang dan stigma negatif itu akan melekat pada orang orang yang terprovokasi dari asumsi itu.

Dan dalam hal ini Barat adalah pihak yang paling berpeluang untuk menunggangi propoganda di Timur Tengah. Karena Baratlah satu–satunya pihak yang mengemban ideologi dalam skala negara yang kuat.








Ancaman konspirasi Revolusi oleh Barat

Barat menginvasi gerakan revolusi Timur Tengah dengan berbagai jalan, antara lain:
1- Memanfaatkan politisi boneka
2- Utang
3- Intervensi militer
4- Perang opini di media massa.


a. Memanfaatkan Politisi Boneka


Menempatkan politisi boneka merupakan salah satu cara yang sering dimainkan oleh Barat untuk mengendalikan negara–negara di dunia Islam. Dalam revolusi Timur Tengah ini pun Barat masih menggunakan permainan ini. Tengoklah para penguasa negeri–negeri Muslim saat ini, bisa dikatakan semua penguasa negeri–negeri Muslim saat ini adalah boneka Barat, baik dari kubu Eropa maupun kubu Amerika.


Bahkan para mantan penguasa yang telah digulingkan dalam revolusi ini pun sejatinya adalah para boneka mereka. Setelah boneka lama ditumbangkan, mereka pun telah bersiap memasang boneka baru. Lihatlah pengganti Ben Ali: Moncef Marzouki yang selama ini menjalankan peran politiknya di Prancis . Tanyakanlah juga siapa Jenderal Sulaiman yang de facto menjadi pemimpin sementara Mesir pasca turunnya Mubarak?! Dia adalah tokoh yang sangat dekat dengan Amerika.



b. Jerat Utang Atas Nama Bantuan Keuangan


Barat dengan instrument lembaga keuangan dunianya selalu menggunakan tawaran manis “bantuan keuangan untuk pembangunan” guna menjerat negara–negara dunia Islam hingga negara–negara tersebut kehilangan independensinya dan tunduk pada arahan sang "hero" dari Barat.


Tentang krisis ekonomi. Pengusaha memprediksi situasi ekonomi dalam kondisi bencana/revolusi kemungkinan menjadi lebih buruk. Tidak hanya sumber dari pariwisata, sumber penting pendapatan negara lainnya juga berhenti, investasi asing telah mengering karena masa depan tidak pasti.


Ratusan ribu buruh pabrik melakukan mogok kerja sebagai perubahan rezim Mesir, mereka menuntut kenaikan upah dan gaji. Sebuah rumor jalanan yang populer adalah bahwa Presiden Mubarak, seluruh keluarga serta kroni-kroninya telah mencuri puluhan miliar dan ketika uang itu disita dan ditemukan akan dibagi dan diberikan kepada setiap rakyat Mesir.


Pasca revolusi Mesir dan Tunisia tengah masuk dalam jerat hutang ini dengan disetujuinya bantuan dana lebih dari 20M US $ dari negara G–8 . Jerat hutang ini tentu saja akan membuat Tunisia dan Mesir tetap berada dalam dominasi ekonomi kapitalis ribawi.


IMF pun tak ketinggalan untuk memperkuat jeratan hutang tersebut dengan memberikan utang 3M US $ berbunga 3% untuk menutup defisit APBN dan defisit perdagangan luar negeri Mesir. Setahun lebih setelah revolusi, kondisi perekonomian Mesir belum juga stabil. Siapa yang hendak membantu negara ini? Sejumlah 70 persen warga Mesir mengkhawatirkan kehancuran ekonomi dan keamanan Mesir pasca-revolusi yang menumbangkan Presiden Hosni Mubarak.



c. Intervensi Militer


Intervensi Militer oleh Barat sangat jelas terlihat dalam revolusi Libia. Beberapa negara Eropa yang tergabung dalam NATO terlibat langsung dalam sandiwara mendukung perjuangan ummat menggulingkan Qaddafi. NATO yang didominasi oleh Perancis mengerahkan tentara bersenjata untuk membantu pihak oposisi menggulingkan Qaddafi. Dalam waktu beberapa bulan, tentara oposisi Libya yang didukung NATO berhasil memenangkan pertarungan dengan tewasnya Muammar Qhadafi pada Jum’at (21/10) lalu .


Bantuan Barat dalam penggulingan Qaddafi sejatinya hanyalah untuk mewujudkan kepentingan Barat, bukan untuk membantu rakyat Libya meraih apa yang diinginkannya. Kepentingan Barat menggulingkan Qaddafi tiada lain adalah menguasai minyak Libya yang sangat berlimpah.


d. Perang Opini di Media Massa


Barat dengan penguasaan modalnya yang luar biasa besar sanggup mengendalikan arus informasi yang beredar di media massa. Media massa yang ada seperti televisi, warta digital, newspaper, radio, dsb tidak selalu menayangkan realitas apa yang sebenarnya terjadi secara objektif tetapi mereka selalu menanyangkan apa yang mereka inginkan.


Sebagai contoh, selama ini media selalu mewartakan bahwa para pengunjuk rasa dalam gerakan revolusi itu menuntut demokratisasi tanpa pernah menayangkan yang mewartakan adanya tuntutan penerapan syari’ah Islam. Kalau pun ada itu hanya sedikit. Padahal faktanya, tuntutan tersebut selalu ada dalam setiap arus revolusi Timur Tengah ini. Hal ini seperti yang terjadi pada Jumat 18 November 2011 di Lapangan Tahrir ketika ribuan demonsran mengibarkan bendera yang bertuliskan syariat Islam. Demikian juga dengan berbagai seruan kepada Islam yang diserukan Tunisia, Suriah, dan lainnya .


Adanya pencurian arah revolusi Timur Tengah bukan hanya sebatas prasangka buruk kaum Muslimin terhadap Barat saja, melainkan juga pengakuan Barat sendiri. Mantan MenLu AS era Goerge W. Bush; Condoleezza Rice memperkenalkan sebuah istilah “Timur Tengah Baru” pada tahun 2006. Program “Timur Tengah Baru” ini bertujuan untuk melemahkan rezim berkuasa dan mengantarkan kelompok oposisi ke tampuk kepemimpian .


Tujuan utama dari proyek ini adalah menciptakan Timur Tengah yang baru, yang tunduk dan patuh pada Amerika dengan kedok penyebaran demokrasi di wilayah Timur Tengah .

Akibat pengaburan makna ini, maka wajar jika hingga saat ini setelah hampir satu tahun gelombang revolusi berjalan ; ummat belum juga mendapatkan apa yang mereka tuntut. Yang terjadi hanyalah pergantian kepemimpinan tanpa disertai perubahan yang berarti dalam sistem pemerintahannya.


Tentu saja hal ini tidak akan membawa banyak perubahan dalam kehidupan ummat. Besar kemungkinan jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka yang akan terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, dan lain – lain tidak akan jauh berbeda dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia pasca reformasi 1998 yang menumbangkan rezim Soeharto.


Jika ummat menginginkan perubahan yang akan membawa ke keadaan yang lebih baik, maka perubahan yang dilakukan harus memenuhi 2 (dua unsur): pertama : menjadikan Islam secara utuh sebagai panduan ideologis dalam kehidupan bernegara dan yang kedua : menolak segala bentuk intervensi asing dalam kehidupan bernegara.


Selama ummat tidak memenuhi kedua unsur ini dalam perjuangan revolusi–nya maka ummat tidak akan mendapatkan apa–apa dari setiap tetes darah yang keluar dari setiap nyawa yang terkorbankan. Akan tetapi, ummat tidak akan pernah dapat memenuhi kedua unsur tersebut sebelum mereka memahami Islam secara utuh sebagai sebuah agama sekaligus ideologi.


Maka, inilah tugas kita untuk memahamkan ummat tentang ideologi Islam yang dengannya ummat akan menjadi semakin cerdas dalam melihat setiap peristiwa terjadi dan tidak mudah dikelabui apalagi dikendalikan oleh Barat yang sangat memusuhi Islam. Menyadarkan ummat di segala lini karena revolusi itu digerakkan oleh semua kalangan. Menyadarkan ummat di setiap wilayah karena Islam adalah untuk seluruh dunia.


Islam dibalik revolusi


menurut Smith Alhadar, disebabkan karena partai Islam cenderung menekankan pada identitas. Fenomena didukung oleh globalisasi yang membanjiri Timur Tengah dan juga merongrong kebudayaan dan keyakinan mereka, sehingga terjadi disorientasi dan dislokasi dalam masyarakat itu. Karena sebab itulah ada keinginan untuk mengembalikan identitas keislaman mereka. Mereka memerlukan negara untuk melindungi identitas.


Yang mengejutkan, ternyata pemenang pemilu demokratis di negara-negara Timur Tengah itu adalah partai-partai Islam, misalnya di Mesir, Tunisia dan Maroko. Sebelumnya di Turki. Demokrasi Timur Tengah ternyata memfasilitasi naiknya kekuasaan partai Islamis. Kelompok-kelompok Islamis di Indonesia menjadi sedikit lega atau mungkin mendapat tambahan semangat bahwa teman-teman mereka ternyata berkuasa di Timur Tengah pasca-Revolusi.



Siapakah aktor utama dari revolusi Arab ini? Apakah dari kelompok Islamis atau bukan?

Novriantony Kohar mengatakan sebelum kita tahu siapakah aktor-aktor penting yang bermain dalam lanskap politik Timur Tengah, jika kita ingin sederhanakan, ada tiga aktor sebenarnya yakni pertama negara, kedua adalah kaum Islamis dan ketiga adalah pendukung demokritisasi.


Negara, sudah gagal, misalnya di Mesir. Bayangkan tingkat buta huruf sampai 37 persen. Itu menakjubkan di sebuah negara yang sudah lama merdeka dan malang melintang di dalam mengurusi kehidupan sosial politik dan ekonomi di negaranya. Kegagalan-kegagalan negara seperti inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh kubu Islamis
.

Sebenarnya ada alternatif-alternatif yang diinginkan untuk mendorong proses demokratisasi dari kalangan non Islamis. Yang paling menderita juga dalam represi militer negara dan rezim-rezim arab ini sebenarnya adalah kalangan kiri dan sekular, karena mereka tidak punya medium lain dan podium resmi politik dikuasai oleh negara.


Begitu juga media untuk menyebarkan gagasan dan konsolidasi di tingkat bawah. Sementara kalangan Islamis mereka berhasi menggunakan masjid dan medium keislaman yang mereka bisa pakai untuk menggerakkan masyarakat.

Satu hal lagi yang mungkin tidak terpikirkan oleh negara-negara Barat adalah partai partai Islam yang tadinya menjadi kelompok terpinggirkan selama rezim-rezim itu berkuasa muncul menjadi pemenang lewat pemilihan umum, seperti Ikhwanul Muslimin dan Salafi di Mesir, Annahda (Tunisia), dan Partai Kebebasan serta Pembangunan (Maroko).


Partai-partai Islam ini seolah menjadi alternatif dan harapan terbaik untuk menggantikan rezim lama yang dipandang gagal. Kenyataannya, penguasa penguasa yang sudah tumbang itu memang gagal menghidupkan iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat atau berorganisasi. Bahkan kebijakan ekonomi mereka pun tidak mampu mengangkat kesejahteraan rakyat.


Kebangkitan Partai-partai Islam momentum amat penting dalam panggung politik. Ia bisa dikatakan sebuah keajaiban karena mampu mengubah sesuatu yang rasanya tidak mungkin menjadi kenyataan.

Ini pula yang memunculkan partai-partai Islam di Timur Tengah sebagai pemenang pada pemilihan umum setelah revolusi bergulir. Mereka berhasil memanfaatkan situasi di mana rakyat tidak ingin lagi melihat orang orang lama yang pernah menjadi kroni penguasa memimpin lagi.


Partai Annahda ( kebangkitan ) di Tunisia meraup 41 persen dari 217 kursi di dewan perwakilan rakyat pada pemilihan akhir Oktober tahun lalu. Mereka menarik suara pemilih dengan konsep rekonsiliasi. Annahda mengajak elite-elite dari bekas partai penguasa masuk dalam pemerintahan koalisi.

Partai Kebebasan dan Keadilan (Ikhwanul Muslimin) serta Partai Nur (kelompok Salafi) meraih suara mayoritas (sekitar 67 persen) dalam tiga tahap pemilihan di Mesir, yang pertama dalam 32 tahun sejak rezim Mubarak berkuasa kedua partai ini berhasil meraup suara terbanyak dengan mengajukan program.


Pemilihan umum yang digelar di Maroko November lalu juga memunculkan Partai Keadilan dan Pembangunan sebagai pemerintahan Islam pertama. Partai yang dipimpin Abdillah Benkirane meraup 107 dari 325 kursi di parlemen.

Di Mesir, Kubu Islam yang akan berkuasa mesti menghadapi persoalan kemiskinan. Sekitar 40 juta hanya hidup dengan US$ 2 per hari. Belum lagi sentimen anti-Israel yang terus meningkat pasca kematian lima polisi perbatasan Mesir dalam baku tembak dengan tentara negara Zionis itu. Kekerasan antara Islam dan Kristen juga makin meningkat.


Terkait perjanjian damai dengan Israel, kelompok Ikhwanul Muslimin mencoba bersikap pragmatis. Mereka menyatakan tetap akan menghormati Perjanjian Camp David yang diprakasai oleh Anwar Saddat. Hanya saja muncul gagasan untuk menggelar referendum dan menuntut perubahan sejumlah pasal dalam kesepakatan dengan negara Zionis itu.


Bagaimana dengan Libya?

Pengangguran dan kemiskinan juga menjadi tantangan besar yang mesti diselesaikan pemerintahan baru di Libya. Belum lagi konflik antar suku yang menjadi api permusuhan selama Qaddafi berkuasa. Suku-suku yang tidak menikmati kesejahteraan saat Qaddafi berkuasa selama 42 tahun menunjukkan kebenciannya terhadap kelompok yang dulu bekerja untuk rezim lama.

Di Maroko Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko juga menghadapi persoalan pengangguran dan tingginya harga kebutuhan dasar dan besarnya angka buta huruf.


Pertanyaan ini terkait soal apakah revolusi di negara-negara Arab bakal terus berlanjut dan seperti apa konstelasi politik Timur Tengah pasca-revolusi. Soalan pertama amat berhubungan dengan kepentingan negara-negara Barat. Mereka begitu mengagungkan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan.

Namun ada kesan pihak Barat tidak siap menerima kemunculan partai-partai Islam sebagai penguasa baru di Timur Tengah. Mereka khawatir negara-negara, seperti Mesir, Tunisia, Libya dan Maroko nantinya menjadi radikal.


Sikap ini begitu kentara saat Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Bill Burns hanya mau menemui pimpinan Ikhwanul Muslimin tanpa bersilaturahim ke Partai Nur yang dinilai lebih keras.

Bakal calon presiden dari Partai Republik, Rick Satorum juga menyebut yang terjadi di Mesir, Tunisia, Maroko dan Libya saat ini bukanlah demokrasi, lantaran mereka partai Islam.


Negara-negara Barat juga enggan mendukung pengunjuk rasa anti-Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman meski pasukan pemerintah bertindak brutal dengan membunuhi demonstran. Sebab, mereka meyakini Ali merupakan sekutu terbaik dalam memerangi jaringan Al-Qaidah di negara itu.

Contoh lain juga terjadi di Bahrain. Negara-negara Barat tidak membela kaum Syiah yang mayoritas berupaya menurunkan kesultanan Bahrain yang beraliran Sunni. Maklum saja, negara negara Barat tidak ingin Bahrain dikuasai kelompok Syiah yang tentunya bakal berafiliasi dengan Iran.


Alhasil, gelombang demokratisasi yang kini sedang melanda dunia Arab akan berhenti di Suriah. Suriah tidak memiliki potensi ekonomi yang menguntungkan. Sebab itu, negara-negara Barat hanya menonton saja kebrutalan tentara Assad. Mereka tentu saja tidak mau menghamburkan uang buat operasi militer di Suriah karena tidak bakal dapat apa-apa setelah Assad mundur.


Suriah selama ini menjadi tempat perlindungan bagi dua kelompok anti-Israel, yakni Hamas dan Hizbullah. Di Ibu Kota Damaskus terdapat kantor Biro Politik Hamas. Dengan mengobrak-abrik Suriah sama saja mengobarkan perang dengan dua organisasi itu. Diyakini pihak Barat, Iran memberikan dukungan dana, pelatihan dan senjata bagi Hamas dan Hizbullah. mengganggu ketenangan kedua kelompok itu sama saja ingin melibatkan Iran dalam konflik bersenjata yang lebih besar.


Negara-negara Barat pastinya faham kekuatan militer Iran tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi kecurigaan mereka selama ini telah berubah menjadi keyakinan bahwa negeri Mullah itu sedang mengembangkan senjata nuklir. Mengenai konstelasi politik Timur Tengah pasca-revolusi akan ditentukan oleh perkembangan di Mesir dan Suriah. Dua Negara ini memegang peranan kunci dalam perubahan politik kawasan karena menyangkut Israel.







Pengaruh Mesir di kawasan


Mesir adalah imperium politik Timur Tengah. Dinamika politik yang terjadi di negara tersebut akan berdampak besar pada horizon perpolitikan kawasan tersebut. Kini, Mesir mengalami revolusi. Seberapa jauh skala pengaruh dari revolusi tersebut terhadap mozaik politik di wilayah Timur Tengah?

Tergantung pada radius perubahan yang dihembuskan revolusi itu sendiri. Kemana perubahan perpolitikan dalam negeri Mesir, ke situ pula arah perubahan Timur Tengah. Jadi memang Mesir itu punya peran sangat penting di kawasan.


Pasca revolusi Mesir akan memasuki proses politik yang panjang dan menentukan. Setelah sekian lama terpasung oleh pola kepemimpinan militeristik, tak mudah untuk merajut relasi sipil-negara secara ideal. Sebagai pemangku kuasa, kekuatan sipil Mesir butuh proses adaptasi. Secara umum, perubahan Mesir ke depan akan mencakup beberapa hal: Pertama, pemaknaan ulang terhadap konsep nasionalisme. nasionalisme Mesir berada dalam tegangan varian Arabisme dan Islamisme.


Ada traumatik tersendiri terhadap eksklusivitas. Ini akan menjadi pertimbangan tersendiri, baik bagi kalangan Islamis maupun Arabis, untuk mereformulasi konsepsinya dengan mengakomodir semangat keterbukaan. Sulit bagi Ikhwanul Muslimin untuk berkiprah di politik dengan mengusung ekslusivisme Islam. Sebagaimana juga spirit kearaban harus merelevansikan ulang nilainya ditengah diversitas lokal regional dan global.


Pada tingkat regional, Mesir adalah palang pintu perdamaian di kawasan Timur Tengah. Lengsernya Hosni Mubarak akan merubah arah mata angin politik luar negeri Mesir yang selama ini berpihak sepenuhnya pada Israel, dengan sokongan penuh Amerika Serikat (AS).

Pemerintahan baru Mesir nanti bisa merupakan tatanan kekuasaan yang berani untuk menekan pemerintah Israel untuk lebih realistis dalam memberikan tawaran opsi damai. Mesir kemungkinan akan menjadi kritis terhadap Israel. Mesir yang "baru", akan berpihak kepada Palestina akan lebih teryakinkan untuk meneruskan jalan damai. Artinya, perubahan di internal Mesir memiliki peluang besar untuk menghasilkan sebuah keseimbangan baru dalam proses negoisasi perdamaian Israel-Palestina.


rekonstruksi peta kerjasama ekonomi. Mesir merupakan urat nadi perekonomian Timur Tengah. Terusan Suez adalah makhota ekonomi negeri Piramida tersebut. Tapi pada saat yang sama, ketergantungan ekonomi Mesir terhadap negara lain cukup tinggi.

Ke depan, Mesir akan memasuki horizon ekonomi yang lebih realistis, dengan berbasis pada sumber daya riilnya, bukan bantuan deras dari mitra luar negerinya. Dalam konteks ini, perekonomian Mesir dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki pancaroba.


Tapi Mesir juga masih bisa memanfaatkan kestrategisan geopolitisnya sebagai aset ekonomi dalam membangun hubungan dengan beberapa negara baru. Pada tingkat dalam negeri, akan nada tuntutan keras terhadap perubahan formulasi sosial-ekonomi yang selama ini mengistimewakan kelompok tertentu untuk mengakses sumber daya ekonomi.


Sekali lagi, semua ini sangat tergantung pada kelancaran proses transisi politik dari militer ke sipil. Pasca turunnya Mubarak, inilah revolusi yang sebenarnya bagi rakyat Mesir. Rakyat Mesir akan dihadapkan pada perubahan yang bukan hanya menyangkut dalam negerinya, tapi juga negara sekitarnya dan dunia. Dengan posisi geopolitisnya yang strategis, Mesir mengemban amanat besar. Ini bisa menjadi berkah atau juga petaka.


Palestina; Konspirasi Israel dan Amerika pasca revolusi


Israel dan AS beserta sekutu-sekutunya dipastikan yang paling khawatir atas kemenangan besar parpol-parpol Islam terutama kemenangan Islam politik di Mesir. Kekhawatiran tersebut, bukan hanya karena kekalahan kelompok liberalis yang berhasil mereka tanam selama beberapa dekade sebelumnya, akan tetapi lebih disebabkan kekhawatiran mereka akan nasib perjanjian Camp David dan perjanjian-perjanjian ``damai`` lainnya.


Banyak pengamat melihat bahwa kubu Islamis di dunia Arab berhasil menuju tampuk pemerintahan lewat pemilu jurdil ( jujur dan adil ) dan transparan sehingga perlu diberikan peluang melaksanakan programnya tanpa harus dikenakan sandungan dari dalam dan luar negeri. Pemboikotan dalam bentuk apapun atas pemerintahan baru tersebut sama saja dengan memutar arah jarum jam alias kembali ke pemerintahan autokrasi yang tidak mungkin lagi ditolerlir bangsa-bangsa di kawasan.


Bangsa-bangsa kawasan telah mengalami masa penderitaan lebih dari empat dekade dibawah pemerintahan tangan besi dan penindasan. Karena itu, mereka tidak akan menerima bila ada upaya-upaya konspirasi yang ingin memutar balik arah jarum jam dan mereka siap membayarnya walau mahal.

Walaupun dalam jangka pendek mendatang tantangan berat yang akan dihadapi bersifat multi dimensi termasuk kemungkinan munculnya kontra revolusi dukungan Barat yang alergi terhadap kejayaan parpol-parpol Islam, namun situasi pasca revolusi akan lebih baik. Apalagi pemerintahan mendatang adalah hasil pilihan mayoritas mutlak rakyat yang menginginkan pemulihan kembali harga diri bangsa Arab.


Pemerintahan kubu Islamis dipastikan tidak akan lagi tunduk kepada pelecahan zionis Israel dan hegemoni Barat selama ini. Pemerintahan baru tidak akan bersedia lagi menerima pelecahan seperti rezim-rezim yang telah jatuh atau rezim-rezim lainnya yang berada di ujung tanduk.


Diakui maupun tidak, isu Palestina sejatinya adalah tetap sebagai isu paling menonjol di mata publik Arab dan umat Islam sedunia. Karena itu, berbagai upaya untuk menjadikannya sebagai isu nomor dua atau isu sampingan tidak akan diterima publik apapun alasan yang dikampanyekan untuk mengelabui mereka, Amerika dan Israel melakukan konspirasi untuk mengaburkan isu terpenting ialah pembebasan Palestina.


“Isu Palestina akan tetap sebagai isu utama setiap tahun tanpa perdebatan. Setiap pergantian tahun maka isu Palestina adalah dasarnya sehingga tidak mungkin dijadikan isu nomor dua atau lebih rendah dari itu,`` papar Zahir Majid, seorang pengamat Arab dalam tulisannya di harian al-Watan, Oman.

Ia mengingatkan bahwa masalah Palestina akan tetap sebagai isu utama bangsa Arab meskipun sikap sebagian pemimpin Arab selama ini (yang berusaha menepikannya) atau sikap sebagian pihak yang berusaha mengalihkan perhatian publik lewat interpretasi-interpretasi (menyesatkan).


Masalah Palestina yang menjadi isu sentral bangsa Arab tidak mungkin terus menerus hanya sebagai slogan kosong tanpa aksi nyata diera perubahan yang melanda dunia Arab dewasa ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa salah satu indikasi keberhasilan revolusi Arab adalah kembalinya masalah Palestina sebagai isu nomor wahid yang diperjuangkan secara nyata dan serius.


Hampir dipastikan juga bahwa negara-negara Arab yang masih menjalin persekutuan erat dengan AS tidak akan bisa lagi selalu mengiyakan negeri Paman Sam itu. Mantan PM Mesir, Essham Sharaf dan Sekjen Liga Arab, Nabil Al-Arabi, sejak dini mengingatkan bahwa prioritas kebijakan negaranya menyangkut Palestina ke depan adalah memperjuangkan tercapainya penyelesaian damai dan berdirinya negara Palestina merdeka bukan mengupayakan perundingan ke perundingan tanpa penyelesaian.


Perundingan tanpa ujung penyelesaian dipastikan akan ditentang keras bangsa Arab sehingga rezim Arab mendatang tidak bisa lagi menjadikan perundingan sebagai sarana membeli hati publik seperti kejadian pada berbagai perundingan sebelumnya.

Meskipun akhir-akhir ini banyak masukan ditujukan kepada partai partai Islam pemenang pemilu di Arab agar menomorduakan dulu isu Palestina, namun kemungkinan besar masukan tersebut tidak akan digubris.


Apalagi Mesir sebagai negara Arab terbesar telah muncul kembali sebagai pemimpin Arab pendukung kuat isu Palestina. Ditegaskan, krisis ekonomi di Mesir sekarang merupakan tantangan utama pemerintah transisi Mesir saat ini dan demikian juga pemerintah mendatang. Rahbar menyebut satu dari faktor utama kebangkitan rakyat Mesir adalah motivasi agama.

Ditegaskannya, “Rakyat Mesir memulai gerakannya dari shalat Jumat dan masjid. Slogan-slogan agama dipakai oleh mereka, khususnya Allahu Akbar. Belum lagi kelompok pejuang paling kuat di Mesir adalah kelompok Islam.”


Ayatullah Sayyid Ali Khamenei otak dibalik revolusi Iran itu menyinggung kepanikan Amerika dan rezim Zionis Israel di hadapan kebangkitan rakyat Mesir dan mengatakan, “Mereka berusaha keras untuk keluar dari situasi ini dan mulai menjalankan tipuannya. Namun perlu diketahui bahwa keberhasilan atau kegagalan skenario Amerika ini bergantung pada kinerja dan keputusan rakyat Mesir.”


Momentum perubahan di Mesir, Tunisia dan juga diharapkan di negara-negara Arab lainnya biarpun tanpa menjatuhkan kekuasaan yang ada, dapat membawa perubahan mendasar di Timur Tengah dalam konteks perdamaian dengan Israel. Sudah saatnya perubahan di negara-negara Arab membawa perubahan pula kepada Israel, terutama dilihat dari sikap arogansinya yang selama ini sering ditunjukkan. Israel harus dapat melunak, tidak lagi mau menang sendiri dan lebih akomodatif dalam menerima kehadiran negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Bagaimana dengan Suriah?

BISUL itu akhirnya pecah! Wakil Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Suriah Abdo Hussameldin Kamis malam, 8 Maret 2012 mengumumkan dia meninggalkan pemerintahan Bashar al Assad, serta Partai berkuasa Baath untuk bergabung dengan oposisi.

Pernyataan Hussameldin mengudara lewat video pernyataan resmi yang diposting di website YouTube oleh para aktivis.

"Aku, insinyur Abdo Hussameldin, wakil menteri minyak mengumumkan bahwa saya keluar dari rezim ini. Saya bergabung dengan revolusi rakyat yang menolak ketidakadilan dan kampanye brutal rezim, yang berusaha menghancurkan permintaan rakyat untuk kebebasan dan martabat," tegasnya.

Alasan utama pengunduran itu lantaran dirinya telah bertugas di pemerintah Suriah selama 33 tahun dan tidak ingin mengakhiri hidupnya dengan "melayani sebuah rezim kriminal."


Jika postingan tersebut asli, maka Abdo Hussameldin menjadi peja
bat besar pertama yang meninggalkan pemerintah Assad dan bergabung dengan pemberontak yang telah berlangsung selama setahun.

Mengutip analisis Sir Andrew Green, mantan dubes Inggris untuk Suriah (1991-1994) dan Arab Saudi (1996-2000) yang ditulis untuk The Guardian, sudah jadi fakta Assad yang berfaham Syiah adalah bapak angkat bagi milisi Syiah Hizbullah yang menjadi kerikil bagi Israel.


Soal senjata ke pemberontak? Damaskus tentu sudah sadar, Arab Saudi punya kepentingan atas kelangsungan mayoritas Sunni yang tertindas. Seperti dikutip dari World Socialist Website, Riyadh disokong Amerika Serikat merestui penyelundupan senjata yang dilakukan melalui mantan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri.

Saad Hariri merupakan mantan Perdana Menteri Lebanon antara 2009 dan 2011. Koalisi pemerintahan Hariri yang terbentuk memang berhaluan anti Suriah. Pada 2011 Hizbullah berhasil melengserkan pemerintahan Hariri.

Dan mantan mufti Mesir Nasr Farid Washil mengatakan di berita bahwa Basyar Al – Assad itu wajib dibunuh sebab tindakannya yang anarkis dan membunuh banyak orang.


Epilog


Timur Tengah tak akan pernah nyaman atau terhindar dari provokasi Barat dan sekutunya sampai minyak di Timur Tengah habis.

Selama minyak itu masih banyak, maka kepentingan itu akan terus berlangsung dan adanya gesekan diantaranya, Pasca revolusi banyak pengamat mengatakan keopitimisan akan pembangunan dan perubahan di Timur Tengah menuju kesejahteraan walau pun memerlukan masa yang panjang untuk tercapainya kemakmuran yang merata.


Partai Islam banyak menguasai parlemen di negara negara Timur Tengah, itulah bukti bahwasannya adanya titik cerah dalam perjuangan Islam selama ini.

Yang sebelumnya ditekan sekarang sudah bebas dari sikap otoritarian pemerintah rezim lama, tentu banyak yang mesti dikerjakan untuk para penerus perjuangan bangsa dalam mengatasi dan mencarikan solusi dari krisis yang terjadi pasca revolusi. Penulis berharap moga partai Islam bisa memberikan warna yang baru untuk kemajuan Timur Tengah dan mempunyai ketegasan dan sikap yang jelas terhadap perjuangan Palestina.


Jangan kita terlupa bahwasanya Barat ingin mengambil kesempatan atas revolusi Mesir ini. Dan kita bersama sama memberikan dukungan terhadap partai partai Islam untuk mereform undang undang yang telah rusak selama rezim Mubarak berkuasa. Penulis menyampaikan Timur Tengah akan terus memanas sampai kapan pun, sebab agama Islam akan terus mewarnai dunia Arab, dan Barat tak akan suka terhadap Islam sampai akhir nafas.

Penulis : Ekta Yudha Perdana

14.44 | Posted in | Read More »

Muhamad Mursi Harapan Bangsa


Muhamad Mursi Harapan Bangsa

Perjuangan rakyat Mesir sangat besar untuk memajukan negara dan kawasan Timur Tengah. Mengorbankan darah bukanlah hal yang mudah. Tapi, semua terasa indah jika diakhiri dengan kemajuan. Revolusi telah banyak memakan korban. Ekonomi yang tidak stabil disebabkan revolusi. Banyak kepentingan dari revolusi yang terjadi di Mesir. Terkhusus Amerika dan Israel.

Pemilihan presiden pun sudah berakhir dan Muhamad Mursi sebagai presiden Mesir pasca revolusi. Ini suatu sejarah baru yang terjadi di Mesir. Harapan yang besar ada di leher Muhamad Mursi, dari pembuhunan para pejuang revolusi, ekonomi yang hancur, utang yang besar dan hubungan dengan Israel yang kiat panas.

Muhamad Mursi tokoh yang lahir dari rahim Ikhwanul Muslimin ini bertekad untuk memajukan Mesir untuk menjadi lebih baik. Memperjuangkan hak hak orang Mesir dan yang sangat gembira adalah rakyat Palestina, mereka begitu antusias mengamati pemilihan presiden Mesir dan berharap Muhamad Mursi akan menduduki jabatan orang nomor satu di Mesir. Dan itu tercapai.

Sebab di mata orang Palestina Mursi ada sosok yang sangat agamis berbanding lawan politiknya : Ahmad Syafiq. Rakyat Palestina berasumsi bahwa Mursi akan memberikan stabilitas politik Timur Tengah yang dinamis dan harmonis. Mempunyai hubungan yang kuat terhadap Palestina dan akan terus menekan Israel, itulah harapan yang ada di benak rakyat Palestina.

Memimpin Mesir bukanlah hal yang mudah, di lain sisi banyaknya kepentingan di kawasan Timur Tengah terhadap Mesir. Sebab Mesir punya peradaban Islam yang tinggi, Mesir punya Terusan Zues dan yang pasti Mesir punya hubungan yang kuat dengan Palestina. Maka itu akan membuat semua pihak takut akan itu. Yang ditakutkan Israel adalah adanya negosisasi ulang tentang gas yang biasa diexport ke Negara penjajah itu.
Ikhwanul Muslimin punya kekuatan yang begitu besar dan kesolidan yang luar biasa dan jarang dimiliki oleh organsisasi mana pun di dunia. Loyal dan setia terhadap pemimpin begitu besar. Itulah salah satu sebab kenapa Mursi menang dipemilihan presiden sekarang.

Dan isi pidato yang disampaikan beliau ketika terpilih menjadi Presiden Mesir pasca revolusi adalah :Qul bifadhlillaahi wa birahmatihii wa bidzaalika falyafrahuu, huwa khayrun mimmaa yajma’uun. Alhamdulillah atas taufik-Nya. Alhamdulillah yang menunjukkan bangsa Mesir jalan kebebasan dan demokrasi. Alhamdulillah yang menyatukan rakyat Mesir untuk masa depan yang lebih baik. Terima kasih kepada saudara, keluarga, dan rakyat Mesir semua yang bersatu menjemput masa depan lebih baik. Masa depan kebebasan, perdamaian.

Terima kasih kepada semua yang memilih dan tidak memilih saya, semuanya adalah keluarga dan saudara saya. Saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang mendukung suksesnya pilpres ini. Terima kasih kepada anak-anak muda, yang mencintai Mesir dan terus menjadi penopang dan harapan negeri ini. Mereka lah tonggak revolusi ini.

Kepada keluarga syuhada, kepada para ibu-ibu syuhada, kepada para ayah syuhada, saudara mereka, suami dan istri mereka, dan kepada para korban revolusi, hak anda semua ada di leher saya.
Kepada ibu-ibu, para remaja putri, semua orang mesir di dalam dan luar negeri, saya ucapkan terima kasih. Saya menjadi saudara, ayah, warga mesir, yang akan berusaha membawa keinginan mereka. Semua orang Mesir saudaraku, keluargaku, kekasihku. Semuanya sama selama mentaati hukum dan undang-undang.

Saya mengucapkan kepada anda semua rakyat Mesir di semua tempat, yang ingin kemajuan, yang ingin masa depan lebih baik, kita tidak akan balas dendam. Tapi kita adalah sama di hadapan hukum. Kita akan memulai langkah ini, hingga tidak ada yang kuat meremehkan yang lemah. Hingga terwujud persaudaraan, negara demokrasi, sipil dan modern. Dengan karunia Allah, mari kita saling mencintai untuk Mesir yang lebih baik. Terima kasih, dan salam.

Dari Hasil pemilihan Presiden adalah Dr. Mursi meraih dukungan 13.237.000 suara (Tiga Belas Juta Dua Ratus Tiga Puluh Tujuh Ribu suara) setara dengan 52%.
Sedangkan rivalnya, Ahmad Syafiq meraih 12.338.978 suara (Dua Belas Juta Tiga Ratus Tiga Puluh Delapan Ribu Sembilan Ratus Tujuh Puluh Tiga suara) setara dengan 48%.
Total suara yang sah mencapai 25.575.973 suara (Dua Puluh Lima Juta Lima Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Sembilan Ratus Tujuh Puluh Tiga suara)
.
Dari jumlah ini kita bisa lihat banyak yang tidak memberikan suara di pemilihan Presiden Mesir, itulah bentuk kurangnya pemahaman Mesir atas dasar sebuah demokrasi. Dari 75-80 juta rakyat Mesir yang memilih lebih kurang 50% saja.

Tapi kita berharap moga Mesir bisa lebih baik lagi dalam memberikan peran terhadap kemajuan politik Timur Tengah dan Kemajuan Islam khususnya.
Jangan sampai Mursi seperti Obama Timur Tengah, yang banyak di puja puja waktu awal menjabat Presiden dan ketika berkerja jauh dari harapan.

Penulis : Ekta Yudha Perdana

14.38 | Posted in | Read More »

Israel sang penipu


Israel Sang Penipu

Israel sebagai negara yang diakui PBB 15 Mei 1948 – itu pengakuan dari PBB bukan dari Penulis atau dari pembela Palestina. Israel sudah mengetahui kabar tentang menangnya Mursi dalam pemilihan Presiden Mesir pasca revolusi. Memang yang buat Israel memantau perkembangan politik yang ada di Mesir penyebab dasarnya adalah kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah terkhusus masalah berkenaan dengan perjanjian Camp David, dimana perjanjian yang sangat menyulitkan buat Mesir.
Ahmad Syafiq yang menang atau pun Mursi, kebencian yang luar biasa dimiliki rakyat Mesir terhadap Israel tidak akan pernah mencair sampai kapan pun.
Tapi yang jadi beban fikiran dari pemerintah Israel adalah takut adanya renegosiasi ulang masalah export gas yang dibahas diperjanjian itu. Perjanjian yang sangat menguntungkan Israel.

Perjanjian Camp David adalah perjanjian yang ditandatangani pada 26 Januari 1978 oleh presiden Mesir, Anwar Sadat dan perdana menteri Israel, Menachem Begin. Dengan presiden Amerika sebagai medium kedua belah pihak yang bernama Jimmy Carter. Perjanjian tersebut salah satunya berisi kesepakatan bahwa Israel akan mengembalikan Gurun Sinai kepada Mesir dan Mesir secara resmi akan mengakui negara Israel.
Penandatanganan perjanjian Camp David menyulut gelombang protes dan kecaman negara-negara Arab serta kaum muslim di dunia. Mesir pun kemudian diasingkan dari dunia Islam, dan banyak negara Arab serta negara muslim yang memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Mesir.

Sebelumnya, Anwar Sadat telah membuat marah bangsa Arab dan kaum muslim ketika ia melakukan kunjungan ke Baitul Maqdis, pada 19 November 1977. Itu merupakan kunjungan pertama presiden negara Arab ke Israel dan kunjungan itu pun menciptakan gelombang protes dan kemarahan bangsa Arab, khususnya Palestina. Anwar Sadat pun dianggap telah mengkhianati bangsa Arab dan rakyat Mesir.
menyinggung ketakutan para pejabat Zionis terhadap kemungkinan pembatalan perjanjian Camp Daviv. Mereka menilai tindakan itu sebagai deklarasi perang antara Israel dan Mesir.

Perjanjian itu mendapatkan namanya dari tempat peristirahatan milik para presiden AS, Camp David, di Frederick County, Maryland. Perjanjian tersebut juga melahirkan Perjanjian Damai Israel-Mesir pada tahun 1979. Kalau terjadinya pembatalan perjanjian Camp Daviv merupakan ancaman bagi Israel dan sama artinya dengan deklarasi perang antara Israel dan Mesir, bahkan jika umur perjanjian itu telah lebih dari seratus tahun.

Dewan militer Mesir merupakan bahaya bagi Israel, karena dewan itu begitu mudah mendengar aspirasi rakyat dan melaksanakan tuntutan mereka. Tel Aviv tidak punya tempat di mata orang Mesir. Jadi kalau terjadi adanya pembatalan perjanjian Camp David itu maka perang akan ditabuh dan semua harus bersiap menghadapinya. Jadi itulah ketakuan yang dialami oleh Tel Aviv sekarang, apalagi Mursi menang dan Ikhwanul Muslimin menguasai parlemen. Maka kita tunggu apa yang akan dilakukan oleh Mursi untuk menghadapi permasalahan yang ada di depan mata. Apakah Mursi takluk di bawah komando Israel atau Mursi mengangkat bendera perang?!
Hanya tuhanlah yang tahu.

Penulis : Ekta Yudha Perdana

14.32 | Posted in | Read More »

Suriah Perang Agama


Suriah Perang Agama

Timur Tengah memang selalu jadi incaran dari semua pihak untuk melakukan konspirasi dengan berjuta alasan. Fitnah yang selalu disebarkan oleh kaum salibis Barat terhadap Timur Tengah tak akan pernah habis. Termasuk yang ada di Syiria. Dengan agenda untuk merusak tatanan kehidupan bermasyarakat antara sesama kaum Muslim, Syiah dan Sunni.

Pada saat Asad Presiden Syiria melakukan bombardir terhadap para pemberontak maka Amerika dan Israel tidak ada tindakan sama sekali seakan sikap yang dilakukan oleh Asad itu disetujui oleh mereka. Orang orang banyak dibunuh, perempuan diperkosa, anak anak dibakar hidup hidup oleh tentara Asad dan PBB diam seribu bahasa dengan dalil itu masalah internal negara Syiria, jadi kami tidak ikut campur dalam masalah itu.


Tapi kalau lihat di Libia atau di Sudan yang banyak minyak bumi dan gas. Mereka seakan menjadi Superman siap membantu kapan pun diperlukan karena Amerika negara super power. Sebab kenapa mereka mengutamakan Libia dari pada Syiria.

1- Libia kaya minyak dan Syiria kurang minyak
2- Libia yang dipimpin Muammar Qadafi musuh utama Amerika dan Israel
3- Sebab Syiria dipimpin oleh Syiah, kalau Amerika menurunkan tentaranya maka Iran akan turun tangan dalam membela Syiria
4- Di Damaskus ada kantor Hizbullah – maka kalau mengancurkan Damaskus itu sama juga mengajak perang Hizbullah
Jadi banyak kepentingan dibalik itu, bukan tanpa ada keinginan yang besar dari semua yang diberikan oleh Barat. Tidak ada yang gratis dalam dunia politik semua penuh dengan bayaran.
Untuk kasus Libia dengan sekejap mata saja Muammar Qaddafi mati atas bantuan Amerika dan Nato.

Tapi revolusi yang tidak ada bantuan Amerika seperti Syiria itu sampai kapan pun masih akan terus berjalan. Amerika akan tidak ambil peduli dengan semua itu, biarkan Sunni dan Syiah terus berperang, bukankah itu membuat mereka suka? Bukankah Barat senang dengan semua ini?!
Di sana bukan lagi perang mengatasnamakan revolusi tapi sudah masuk perang antara agama, agama apa?
Ya sunni dan Syiah itu seperti agama.

Bukan lagi kelompok tapi seperti agama, walaupun mereka bersaksi bahwa Allah adalah yang hak disembah. Cuma begitulah sifat fanatik yang dimilik oleh 2 kubu umat Islam ini.
Yang menyebabkan semuanya diperdebatkan dari masalah agama sampai masalah sosial bahkan kepemimpinan. Negara Timur Tengah itu sibuk dengan kehidupan negara masing masing, tidak ada namanya persatuan Arab yang dulu selalu didengungkan.

Sekarang hanya kosong, sebab Arab bukanlah sesuatu halangan buat mereka. Liga Arab itu mandul, organsisasi persatuan Arab. Organisasi persatuan Islam dunia(OKI ).
Itu kurang nampak dipermukaan, kurang ada peran yang signifikan untuk kemajuan Islam.
Dunia lebih kenal dengan peran ASEAN dari pada OKI atau Liga Arab.
Kalau OKI dan Liga Arab dibudayakan dan adanya konsolidasi yang kuat insya Allah Timur Tengah akan ada kemajuan, Cuma kalau kita lihat sekarang, tiap pemimpin bangsa Arab sibuk dengan bisnisnya, sibuk dengan kekuasannya.

Contoh : Arab Saudi sebagai pengexport utama minyak dunia dan Iran pengexport terbesar ke dua dunia, negara negara ini suka tidak sejalan dalam sistem perpolitikannya.
Padahal 70% cadangan minyak dunia itu ada di negara negara Islam.

Tapi semua tidak bersatu, semua ego dengan kehidupan negara masing masing. Menjaga jabatannnya lebih penting berbanding menjaga darah yang mengalir di negara Palestina dan Syiria. Kita tidak tahu sampai kapan darah itu akan berhenti, ketidakpastian dunia membuat tertekan bagi mereka yang merasakan derita pembantaian.
Hanya doa yang bisa kita berikan ke saudara kita di Syiria. Moga mereka bisa tabah dan sabar menjalani ujian Allah ini.
Amin.

Penulis : Ekta Yudha Perdana

14.27 | Posted in | Read More »

Presiden harapan baru

Penulis : Ekta Yudha Perdana 

Proses perjalanan politik Timur Tengah terus memanas mencari arti dari kebenaran dari sudut yang berbeda dan memberi makna dari tersimpannya kebohongan. Mesir negara yang punya pengaruh besar di kawasan, mempunyai daya tarik yang sangat mahal di mata musuh atau pun sekutunya. Dan Mesir mempunyai sungai Nil yang menghidupkan benua Afrika, ada Terusan Zues dimana ada sumber ekonomi yang luar biasa. Punya peradaban yang besar, sejarah yang memukau, peninggalan bangsa bangsa terdahulu yang masih ada sampai sekarang sebagai bukti akan majunya Mesir pada waktu itu.

Kalau kita lihat politik Mesir maka yang tergambar dalam benak kita adalah kediktatoran – kerakusan – korupsi -. Birokrasi yang rusak dan negara tidak bersistem membuat Mesir menjadi salah satu negara tertinggal di Dunia.

Kebosanan rakyat Mesir terhadap undang undang yang ada di Mesir yang selalu memarginalkan golongan miskin dan tidak mempedulikan mereka adalah ciri khas dari sistem yang ada di Mesir. Rakyat Mesir terkenal dengan penghapal Quran yang banyak – pengajian Islam dimana mana. Tapi, tidak bisa banyak bergerak di bawah pemerintah yang otoriter yang selalu bergerak di bawah naungan Amerika dan sekutunya.
Padahal rakyat Mesir kebanyakan dari mereka tidak menyukai Amerika dan membenci Israel, tapi pemerintah Mesir masih saja terus berusaha mengemis dan meminta bantuan terhadap mereka. Menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan memperkokoh perjanjian camp david yang dimana perjanjian itu sangat merugikan Mesir.

Demi menjaga kehancuran negara maka Mesir memberanikan diri untuk melakukan pinjaman di Washington. Mesir telah meminta Bank Dunia memberi pinjaman sebesar US$1 miliar untuk membantu membangun kembali perekonomian.
Dana itu untuk membantu kekurangan fiskal dalam upaya pemulihan dari pergolakan politik setahun terakhir. Setelah penggulingan Husni Mubarak pada Februari 2011, gejolak berlanjut di jalanan memusnahkan banyak sektor pariwisata, sektor pendapatan penting negara dan merusak sektor bisnis.

Utang yang besar itu apakah Presiden yang akan terpilih nanti bisa melunasi utang utang itu dengan berbagai kebijakan yang jitu dan tepat. Atau Presiden yang akan datang ini malah membuat Mesir tambah hancur?!
Penulis pernah bertanya kepada penjual roti, " apa yang anda harapkan dari Presiden yang baru nanti?
Maka dia pun menjawab, " Saya ingin Mesir ini berubah menjadi lebih baik lagi, Mesir ini ada Terusan Suez sumber ekonomi yang besar. Tapi kenapa rakyat masih miskin, Mesir banyak gas tapi kenapa masih kurang gas di dalam negeri, tiada lain disebabkan export gas Mesir ke Israel. Kami ingin merubah sistem yang rusak itu dan mengganti semua generasi lama dengan para pejuang revolusi". Tuturnya.

Memang yang memantau perkembangan ini bukan hanya rakyat Mesir tapi seluruh dunia, sebab Mesir adalah negara strategis yang ada di Timur Tengah tentu punya magnet yang besar. Dan rakyat Palestina yang sangat menantikan pemilihan Presiden ini. Rakyat Palestina sangat memberikan dukungannya terhadap Muhamad Mursi sebagai Presiden Mesir. Sebab sosok Muhamad Mursi sangat bisa diharapkan untuk perjuangan Palestina dibandingkan dengan Ahmad Syafiq. itulah anggapan mereka terhadap tokoh yang telah diusung oleh Ikhwanul Musliminin ini. Dan Presiden Mesir Mahmud Abbas mengatakan, " Palestina tetap menghormati pemilihan Presiden di Mesir.

Kalau dari kubu Ahmad Syafiq, Di balik pemilihan Presiden itu tersirat pertanyaan mengenai stabilitas di Mesir dan sekitarnya. Selama berpuluh tahun, kawasan Timur Tengah diwarnai persaingan Israel-Palestina di Jalur Gaza. Memasuki dekade 2010, situasi memanas dengan adanya masalah nuklir Iran. Bila kemenangan jatuh ke tangan Shafiq, posisi Mesir akan tetap seperti yang dilakukan di era Mubarak.

Pada masa Mubarak berkuasa, Mesir menjalin akta perdamaian dengan Israel. Sejak 1979, strategi kawasan Israel pun senantiasa berlindung kepada Mesir, termasuk suplai gas hingga 40% untuk negara Yahudi tersebut. Bila Shafiq menang, berarti pemimpin Palestina akan tetap mengalami kesulitan. Itu semua opini yang tersebar dikalangan rakyat Palestina.

Hamas berharap Mesir di bawah kepemimpinan Mursi bakal mengurangi boikot ekonomi Israel di Gaza. Kubu itu pun percaya Ikhwanul Muslimin akan memegang penuh kontrol di Kairo. "Kelompok Islam di Palestina melihat masa depan mereka terkait erat dengan kemenangan Mursi.
Memang salah satu keunggulan rezim pemerintahan Mubarak di mata Israel adalah keberhasilan rezim itu menerapkan blokade terhadap Gaza. Rezim Mubarak menutup jalur perlintasan langsung ke Mesir meski sangat dibutuhkan warga Gaza untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka dalam mengatasi boikot yang diterapkan Israel. Israel menuding perlintasan Palestina-Mesir merupakan jalur utama penyelundupan senjata untuk melawan mereka.

Para pengamat pun menilai seandainya Mursi memenangi pemilihan Presiden Mesir, ada kemungkinan Mesir keluar dari kesepakatan damai dengan Israel. Selama ini, Israel telah mendapat banyak keuntungan dari perjanjian yang diteken Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin di Washington DC Amerika Serikat pada 26 Maret 1979 tersebut.

Dengan perjanjian itu, Israel bisa memangkas anggaran militer besar-besaran. Perjanjian tersebut juga banyak membantu mereka dalam menangani konfrontasi dengan Palestina. Selama revolusi Mesir berlangsung, perjanjian itu menjadi tidak menentu. Apalagi, sepanjang kampanye pemilihan presiden, hampir seluruh kandidat melontarkan kampanye kebencian terhadap negara Yahudi itu.
"Beberapa pihak berpikir Ikhwanul Muslimini akan menjadi lebih pragmatis ketika memegang kekuasaan. Tapi itu masih diragukan. Kami lebih memilih rezim lama yang direpresentasi Shafiq," ujar pemimpin Pusat Kajian Strategis Begin-Sadat Universitas Bar-Ilan, Efraim Inbar.

Mantan diplomat Israel Oded Eran menyebut akan muncul kesepakatan baru bila sosok Ikhwanul Muslimin memenangi pemilihan Presiden di Mesir. "Bila kerja sama terus berjalan pun tidak akan menghilangkan sentimen anti-Israel yang sudah menyebar di Mesir," tukas Eran.
Adapun analis lainnya ada yang berpendapat kemenangan Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan Presiden di Mesir akan memperburuk perang dingin antara Mesir-Israel. Jadi banyaknya persepsi dari para pengamat tentang kelebihan dari Mursi dan Syafiq dan kekurangannya, tentunya rakyat Mesir lebih mengetahui, siapa yang berhak memimpin negaranya.

Rakyat Mesir sangat phobia dengan rezim lama atau orang orang yang bergerak di rezim lama. Sebab Itulah sebagian rakyat Mesir mengatakan sistem yang lama wajib diganti oleh rezim baru. Bahkan Sayyid al-Affany, sekretaris Jenderal Partai Nur di Beni Suef, Mesir mengatakan : " Bahwa penerapan hukum buatan manusia di Mesir bertujuan untuk menerima nilai-nilai dan hukum Barat yang bertentangan dengan hukum Islam dan tradisi Mesir, dimana hukum tersebut memungkinkan orang melakukan perselingkuhan dan kemurtadan.

Sistem yang rusak akan menyebabkan negara yang rusak, rakyat Mesir tidak bisa berbuat banyak apalagi pemerintah yang mempunyai sifat otoritarian. "Nasi sudah jadi bubur " itulah pepatah yang sesuai buat Mesir sekarang. Hanya saja generasi yang dipimpin oleh gerakan Ikhwanul Muslimin dan Salafi tidak tinggal diam untuk merubah Mesir menjadi lebih baik. Gerakan Islam sudah mulai memandang bahwasanya politik mesti dikuasai supaya terhindar dari intimidasi dari pemerintah yang takluk di bawah kekuasaan Amerika.

Sebelumnya Salafi mengharamkan berpolitik tapi disebabkan sudah saatnya Salafi juga turun ke dunia politik karena sudah tidak tahan dengan undang undang yang ada diparlemen yang merusak akidah umat Islam. Maka Ikhawanul Muslimin dan Salafi menjadi suatu kekuatan yang besar buat kemajuan Islam di Mesir.

14.16 | Posted in | Read More »

Pejuang

Penulis : Ekta Yudha Perdana

Tiap darah yang mengalir di dalam nadi kita punya aliran yang berbeda ; walau nampak sama. Dalam diri seorang pejuang, pemberani, pahlawan ada aliran yang begitu kuat dan begitu cepat – tidak seperti pemalas, penakut yang tak punya getaran itu.

Pejuang akan ada bersama masa yang dilalui – pejuang seorang yang bisa memberikan waktunya lebih dari orang biasa di zamannya. Tapi, banyak di antara kita masih suka mengikuti waktu – berjalan bersamanya – bukan merubahnya melainkan tergelincir karenanya.

Ada yang mengaku pejuang dan ada pula yang tidak merasa sebagai pejuang tapi dia adalah seorang pejuang.
Kita lahir sama seperti orang yang lain – keluar dari rahim seorang ibu. Cuma kita berbeda dari sisi cita cita dan prinsip hidup.

Cita cita bisa merubah semua, cita cita bisa memberikan inspirasi dalam sebuah perjuangan.
Orang tanpa cita cita, Buta. Mimpilah setinggi tingginya- sebab mimpi bukanlah kesalahan.
Tiap kita boleh bermimpi dengan jutaan harapan. Ada orang yang terlena dengan berbagai kemanjaan yang ada disekitarnya, semua serba ada.

Tidak memikirkan orang lain dalam tiap nafasnya, tidak peduli terhadap kemiskinan tetangganya. Itu bukanlah pejuang.

Pejuang selalu memperjuangkan nasib orang miskin – memperjuangkan mimpi yang ada di dalam fikirannya. Pejuang tak akan mati oleh sindiran orang, hinaan orang.

Pejuang akan terus bergerak, tidak hidup statis dengan arah yang sama.
Dia akan merubah zaman, keberadaanya menjadi inspirasi buat yang lain. Pembakar jiwa yang lusuh- penyemangat hati yang mati.

Tapi, pejuang itu tidak banyak.

Kalau kita lihat di sekeliling kita, pejuang itu hanya segelintir orang saja.

Hidup dalam tekanan – hidup dalam ancaman dan hidup penuh ambisius.

Kalau kita lihat sejarah, bagaimana Nabi Muhamad memperjuangkan risalah Islam itu?
Diancam – di siksa – ditawarkan seluruh jabatan istimewa – digoda dengan harta, wanita.
Tapi Nabi terus berada di jalan yang sama – tidak menoleh dan tidak berubah dalam jalannya. Kalau sekarang?!

Perjuangan perlu pengorbanan – perjuangan harus punya semangat yang luar biasa – perjuangan mesti punya cita cita. Jadilah kita pejuang – yang menjadikan zaman ini bergerak dan berputar bersama jalan yang dilalui oleh kita. 

Selamat mencoba.

Oleh: Ekta Yudha Perdana

13.40 | Posted in | Read More »

Blog Archive