Breaking News:

Pendikotomian Ilmu Tuhan

Pendikotomian Ilmu Tuhan
oleh: Ahwal Miswari

Pengetahuan keagamaan tidak akan berarti kalau hanya dipelajari sebagai ilmu saja, anggaplah misalnya kita mempelajari agama islam hanya sebagai islamologi saja , padahal didalam ajaran agama amalan dan kreativitas lebih sangat dituntut,
Pengetahuan keagamaan, secara kulli selalu menekankan pada keimanan terhadap sesuatu yang khariji (baca: zahir) atau juga sesuatu yang tidak nampak dialam realita dalam artian metafisis dan juga kebaktian kepada sesuatu yang tidak mudah difahami dan di cerna olehakal manusia. Oleh karena itu orang-orang materialis beranggapan, bahwa sesungguhnya pengetahuan keagamaan sangatlah subyektif, karena sulit dipertanggung jawabkan secara ilmiyah dan sulit untuk di cerna oleh aturan berfikir, Di sinilah letaknya kenapa materialisme sangat sulit sekali menerima pandangan-pandangan yang menyangkut tentang permasalahan hari kebangkitan yang secara rasional tidak ada jejaknya. sekalipun demikian secara batiniyyah doktrin keagamaan lebih memuaskan bagi pemeluknya, apalagi pengetahuan keagamaan dijalankan menurut undang undang yang telah diatur oleh agama tersebut.

Akan tetapi bila kita kembali melihat realita yang ada, kebanyakan orang memahami agama secara sangat juz’iy atau secara parsial (baca: sebagian) yang akhirnya berdampak ketidak serasian antara nilai-nilai agama dan prilaku kehidupan sehari-hari. ini disebabkan oleh adanya pendikotomiyan ilmu Allah oleh para ilmuan dan kaum agamawan. A.M Saefuddin mengatakan bahwa kesemuanya ini terjadi karena formula yang diciptakan oleh presepsi ilmu pengetahuan dan penganut agama memang memungkinkan, karena sampai saat ini ilmu pengetahuan selalu mengelak dan ingin berdiri sendiri diluar agama dalam artian sekularisme. Dan sekularisme menurut beliau bukan hanya di produksi oleh kaum ilmuan tetapi juga para agamawan yang buta akan sunnatullah.

Oleh karena itu maka tidak heran kalau ada sebagian kiyai yang berasumsi membedakan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat, padahal kalau kita ingin mengkaji kembali didalam Al-Quran dan Al-Hadits tidak ada yang namanya pembedaan tersebut baik itu secara tersirat maupun tersurat, yang ada hanyalah ilmu Allah Swt karena Allah adalah pemilik dunia dan akhirat. jadi tatkala seorang pelajar islam mempelajari keduniaan seperti ilmu kimia, ilmu falak, dan filsafat. Itu sama berarti seorang tersebut secara tidak langsung telah mempelajari ilmu Allah dan dengan demikian bisa menghasilkan pribadi-pribadi muslim yang sejati yang tidak hanya memahami agama secara parsial tetapi sampai kederajat kaffah dan kamal, oleh karenanya pemahaman sekularisme bukan hanya sengaja diciptakan oleh para ilmuan tetapi juga mendapat dukungan dari kaum agamawan yang tidak menyadari sikapnya.

Dalam dunia metafisika yang paling sulit dan banyak menguras akal para filsuf adalah konsepsi tentang Al haq (baca: Tuhan), sejarah telah membuktikan bahwa dari zaman yunani kuno sampai saat ini masih belum bisa membuktikan adanya Tuhan dengan menggunakan pendekatan kosmologis, ontologis, dan teologis.yang ketiga-tiganya menggunakan manhaj aqli atau menggunakan metode pendekatan secara rasionalitis. Ketiga metode ini hanya memberikan kuasa kepada akal saja tidak dengan mata batin dalam menjalankan proses berfikir.

Pendekatan semacam ini tidak akan menyentuh ke hati kecil kita untuk mendapatkan keimanan dan juga untuk mencapai Al haq tetapi malah memantulkan keraguan kita kembali. Penyebab yang paling mendasar adalah karena metode atau manhaj yang diterapkan oleh para filusuf tidak sesuai dengan obyek, karena untuk mencapai obyek (Al haq) itu hanya bisa dicapai secara memuaskan dengan menggunakan metode intuitif atau pendekatan yang bersifat batiniyah di banding lewat pendekatan secara rasionaitis, akan tetapi keduanya akan menjadi romantis dan tajam apabila kedua pendekatan tersebut digabungkan. dan kedua metode inilah yang sekarang di jalankan oleh fakultas filsafat di Al Azhar.

Dari uraian diatas maka penulis berkesimpulan bahwa tidak adanya pendikotomiyan didalam berbagai cabang ilmu karena kesemuanya mempunyai hubungan yang erat karena dia berada dalam satu lingkaran dan satu pencipta yaitu Allah. Allahu A`lam

14.19 | Posted in | Read More »

HAKIKAT CINTA

HAKIKAT  CINTA
Oleh: H. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar. MA

Agaknya kita pernah teringat bahkan menyaksikan sebuah film (sinetron) di televisi yang berjudul “Ada apa dengan cinta” yang diperankan oleh Nicholas Saputra sebagai Rangga dan Dian Sastro sebagai Cinta, namun cinta yang kita bahas dalam tulisani ini bukanlah cinta si “Cinta” dalam film “ada apa dengan cinta” tersebut, namun yang kita bahas adalah cinta yang lebih bermakna dan lebih bersahaja lagi, yaitu cinta kepada ilahi.
“Cinta” adalah lima huruf yang senantiasa ada dan muncul dalam kehidupan manusia, kapanpun dan dimanapun dia berada, pendek kata asalkan ia makhluk yang bernama manusia, ia akan selalu perlu dengan yang namanya cinta tanpa pandang siapa dia dan bagaimana pula status sosialnya. Cinta itu tentunya beragam, mulai cinta kepada lawan jenis, cinta kepada keluarga, cinta kepada negara, cinta kepada pekerjaan, dan tentunya cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Nabi kita Muhammad Saw juga mengajarkan cinta dalam kehidupan, bahkan baginda kita Saw adalah seorang manusia yang penuh dengan cinta, yaitu cinta kepada Allah Swt dan umatnya. Bahkan, cintanya tidak hanya terbatas pada makhluk yang bernama “manusia” saja, akan tetapi mencakup seluruh alam. Hal ini terekam dalam salah satu irisan ayat al-Qur’an yang menyatakan; “wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin”. (Kami tidak mengutusmu melainkan untuk menebar kasih sayang diseluruh alam).(QS. Al-Anbiya’: 107)

Selanjutnya secara lebih sistematis Islam juga punya kerangka metodologis, Paling tidak, ada lima realisasi cinta dalam Islam, yaitu:

Pertama: Bentuk pertama ungkapan cinta adalah menyebut dan mengingat dalam hati ‘sesuatu’ yang dicintai yang terkadang dilakukan berulang kali. Inilah yang dalam Islam terterjemahkan dalam bentuk dua kalimat syahadat (asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad rasulullah). Ungkapan dasar yang menyatakan kecintaan dan kesaksian seorang hamba kepada Allah Swt dan rasul-Nya. Seorang mukmin tidak sah dinyatakan cinta kepada Allah dan rasul sebelum mengungkapkan dan mengikrarkan dua kalimat cinta (baca: syahadat) tersebut.

Kedua: Jika menyebut dan mengikrarkan sudah dilakuakan, maka akan naik pada tingkatan berikutnya; yaitu akan timbul perasaan rindu dan selalu ingin bertemu, yang inilah dalam Islam terekspresikan dalam bentuk shalat lima waktu. Shalat dalam maknanya yang generik adalah “ingat”, hal ini sebagaimana ditegaskan Allah S.w.t. dalam ayatnya; “aqimis shalah li dzikri” (…dan dirikanlah shalat untuk mengingatku). (QS. Thaha: 14) Seorang mukmin yang sejati ia akan selalu rindu dari satu shalat ke shalat yang lain, setelah Zhuhur ia akan rindu Ashar, setelah Ashar ia rindu Maghrib, … dst. Dan bahkan ia terkadang tidak merasa puas dengan perjumpaan lima waktu tersebut, sehingga ia cari waktu senggang lain agar ia lebih lama lagi bercengkerama (baca: ibadah) kepada-Nya, maka ia carilah waktu Dhuha, Tahajjud, Witir, dll.

Ketiga: Dalam tingkatan selanjutnya, jika menyebut dan mengingat dalam hati sudah, bertemu (shalat) pun sudah, tingkatan selanjutnya adalah akan muncul ‘pengorbanan’. Ia tak segan dan tanpa pikir untuk memberikan sesuatu meskipun berupa sesuatu yang berharga (baca: harta). Inilah yang dalam agama Islam yang hanif ini termanifestasikan dalam bentuk kewajiban zakat. Essensi zakat adalah membersihkan jiwa dan harta dalam rangka meraih ‘cinta’ dari Allah Swt dengan memberikan sebahagian harta kepada yang berhak menerimanya.

Keempat: Jika berkorban dengan memberikan sesuatu (baca: harta) sudah dilakukan, perasaaan yang muncul berikutnya adalah selalu menerima apa adanya dan selalu tabah dan sabar terhadap berbagai ujian. Dalam Islam hal ini termanifestasikan dalam bentuk puasa. Puasa (shawm) intinya adalah menahan, menahan dari segala sesuatu yang dilarang untuk dilakukan meskipun terasa sulit dan berat. Namun seorang pecinta sejati (baca: Mukmin-Muslim) merasakan itu adalah sesuatu yang indah dan merupakan ujian dari Tuhan sehingga terasa nikmat sebab Tuhan sedang menguji seberapa besar keikhlasan dan kecintaannya kepada-Nya.

Kelima: Tingkatan terakhir, jika mengikrarkan dalam hati sudah, rindu dan bertemupun sudah, berkorban juga sudah, tabah dan sabarpun sudah. Dalam Islam, hal ini juga terwujud dalam ibadah menunaikan haji ke Baitullah. Sama diketahui betapa berat dan sulitnya untuk menuju rumah Allah tersebut (baitullah), ditambah lagi begitu besarnya biaya perbekalan yang dibutuhkan dalam perjalanan, tak luput pula terkadang bahaya akan menghadang, pula tak ada jaminan akan kembali ke kampung halaman . Namun seorang Mukmin yang begitu besar cintanya kepada sang pemilik cinta (Allah Swt) tak menghiraukan segala rintangan yang akan dihadapi. Ia dengan tegar tetap melangkah sambil mengucapkan; “labbaik allahumma labbaik, labbaik la syarika laka labbaik, …” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah… )

Demikianlah sekilas hakikat cinta dalam Islam yang terasa begitu indah jika dilakukan dengan benar dan ikhlas. Bila kelima hal ini dapat dilakukan dengan baik, disamping ibadah-ibadah lainnya, maka agaknya kita telah mendapat jaminan untuk mendapat cinta hakiki dari sang pemilik cinta tersebut, yaitu  Allah Swt.

Dalam sejarah, tak sedikit pula ulama yang senantiasa mengkhususkan hidupnya untuk bercinta (baca: ibadah) kepada Allah Swt, sebut saja sebagai misal Ibn al-Qayyim al-Jauzi (w. 597 H). Bila kita tilik karya-karya beliau senantiasa bernuansa hikmah dan kemesraan becinta kepada Allah Swt, ia banyak bicara tentang sabar, tawakkal, qana’ah, ridha, cemas-harap, dan lain-lain. Satu diantara karyanya adalah “Raudhatul Muhibbin” (Taman orang-orang yang sedang kasmaran). Dalam karyanya tersebut ia menjelaskan beberapa tanda-tanda orang yang sedang diliputi rasa cinta kepada Alllah Swt, antara lain:

● Ia punya sifat dan sikap cemburu, yaitu ekspresi lewat fastabiqul khairat (saling berlomba dalam kebajikan). Ia tidak mau tersaingi dengan orang yang banyak melakukan ibadah.
● Bergetar hatinya bila disebut nama yang dicintai-Nya (Allah Swt). Ekspresi lewat kelembutan hati -  “Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka…” (QS.Al-Anfal ayat 2)

Semoga kita menjadi orang-orang yang mencintai dan dicintai oleh sang pemilik cinta, Allah Swt. Amin ! 

05.27 | Posted in | Read More »

RU’YATULLAH

RU’YATULLAH (Melihat Allah)

oleh Muhammad Arabiyah Mangawing


Apakah bisa melihat allah di akhirat ?
Permasalahan ru’yatullah [ melihat allah] di akhirat adalah adalah masalah khilafiyyah , dan menurut ahli sunnah wal-jamaah bahwa ahli surga akan melihat tuhan-Nya diakhirat kelak. Dan selainnya mengatakan tidak bisa melihat-Nya dengan pemahaman dalil yang berbeda.
Kelompok ahli sunnah wal-jamaah berdalil dalam surah al-a’raf ayat 142, artinya; berkata musa; wahai tuhanku perkenangkanlah saya melihat-Mu lalu allah berkata; kamu tidak akan melihatku akan tetapi lihat lah gunung itu, jika tempatnya tetap kokoh maka kamu akan melihatku .jadi permintaan nabi musa u/ melihat tuhan_nya menunjukkan bahwa ada kemungkinan bs melihat_nya, seandainya gunung itu tidak meledak. Para ulama menafsirkan bahwa ketidaksiapan musa melihat allah sehingga masih terhalang tabir.
Adapun golongan lain yang mengingkari ru’yatullah adalah muktazilah, mereka berdalil ayat yang sama, namun mereka menafsirkan bahwa, kata “ lan” dlm bahasa arab berarti “ tidak akan “, bermakna; tidak akan  melihat alklah selamanya . lalu mereka juga menguatkan dalil nya dengan ayat lain; laa tudrikuhu al-abshara wa huwa yudrikul-absara “ kamu tidak bs melihat nya dengan pandangan matamu, dan sesungguhnya Cuma allah  yang bs melihat dengan pandangan-Nya.
Para ulama ahli sunnah membantah penafsiran muktazilah terhadap ayat ini, pada hakikatnya muktazilah menyamakan undang-undang dunia dan undang2 akhirat, sesungguhnya dalam ayat itu bermaksud bahwa kita tdk akan bisa melihat allah di dunia, tp ru’yatullah di akhirat itu bisa.  Sebagaimana ayat lain disebutkan;
لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ .

Bagi mereka yang berbuat kebaikan surga dan tambahan. [Yunus : 26]
Dan tambahan yang dimaksud dalam ayat ini adalah; ru’yatullah.
Nah sekarang kita mengkaji juga, apakah allah bisa dilihat di dunia ?

Bisakah Allah dilihat di dunia?
Jumhur ulama’ mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di dunia. Berbeda dengan kelompok Musyabbihah(orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya), juga sebagian As’ariyah dan orang –orang Shufi, yang mengatakan bahwa Allah bisa dilihat dengan mata kepala di dunia, bahkan bisa mushafahah (berjabatan tangan) dan mulamasah (bersentuhan) dengan Allah, sebagaimana yang terdapat pada kitab Sirajut Thalibin hal.133. Mereka mengatakan: ”Orang-orang yang ikhlas akan bisa melihat, bahkan memeluk Allah di dunia dan akherat, kalau mereka menginginkan yang demikian”. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan!!.

Orang-orang Shufi menganggap bahwa ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) yang ada dalam hatinya sebagai ru’yatullah dengan mata kepala. Padahal terkadang syaitan membayang-bayanginya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan.

Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya At-Tawassul Wal Washilah hal.28 berkata: ”Terkadang seorang hamba melihat Arsy yang besar yang ada gambar, juga melihat ada orang yang naik dan turun di arsy tersebut, dan menganggapnya itu malaikat, dan menganggap gambar itu adalah Allah, padahal itu adalah syaitan. Seperti ini sering terjadi sebagaimana yang dialami oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau bercerita: ”Suatu hari ketika saya selesai beribadah saya melihat arsy yang agung, di dalamnya ada cahaya dan ada seorang yang memanggil, “Wahai Abdul Qadir Jailani saya adalah Tuhanmu dan saya sudah menghalalkan kepadamu semua yang Aku haramkan sebelumnya.” 

Syaikh Abdul Qadir Jailani balik bertanya, apakah Engkau Allah yang tiada Tuhan selain Engkau? Hengkanglah Wahai musuh Allah!.Kemudian cahaya tadi terpencar dan berobah menjadi kegelapan kemudian keluar suara yang mengatakan, “Wahai Abdul Qadir engkau telah selamat dari tipudayaku dengan pengetahuanmu tentang agama, saya sudah berhasil memperdayakan tujuh puluh orang dengan tipu daya ini.” Ketika beliau ditanya bagaimana anda mengetahui bahwa itu adalah syaitan, ia menjawab karena dia mengatakan bahwa Allah sudah menghalalkan kepadaku semua yang diharamkan sebelumnya kepada yang lain, dan saya berpendapat bahwa syariat Muhammad tidak mungkin dirobah dan diganti”.

Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa dirinya pernah melihat Allah dengan mata kepala di dunia,beliau menjawab: “Barangsiapa di antara manusia yang mengatakan bahwa para wali atau selainnya bisa melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia maka ia adalah seorang Mubtadi’ yang menyesatkan,yang berlawanan dengan Kitab dan Sunnah dan ijma’ salaful ummah, apalagi kalau menganggap dirinya lebih afdhal dari Musa, maka dia harus disuruh taubat kalau mau,kalau dia menolak maka boleh dibunuh,wallahu A’lam. [Majmu’ fatawa VI/512]

Maka tidak boleh seseorang cepat terkecoh dengan orang yang bergelar wali atau ahli shufi.

Imam As-Syaukani dalam kitabnya Al-Wali mengingatkan: ”Tidak boleh seorang wali beranggapan bahwa semua yang terjadi padanya, berupa kejadian atau mukassyafat (pembukaan tabir) adalah semuanya karamah dari Allah, karena bisa saja semua itu datang dari syaitan, maka wajib menilai dan mengukur semua perkataan dan perbuatannya dengan Kitab dan Sunnah, kalau sesuai maka itu adalah kebenaran dan karamah dari Allah,kalau itu bertentangan dengan Kitab dan Sunnah maka hendaklah menyadari bahwa ia tertipu oleh syaitan.”

Adapun dalil jumhur yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di dunia adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah surat Al-A’raaf ayat 143 terdahulu. Ibnu Katsir mengatakan: ”Bahwa penafian ru’yatullah khusus di dunia, karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah bisa dilihat di akhirat.”

2. Firman Allah dalam surat Al anam ayat 153 . Imam Ahmad dalam kitab bantahannya kepada Zanadiqah dan Jahamiyah hal.13-14, berkata: “Makna ayat ini adalah tidak ada yang bisa melihat Allah di dunia kecuali di akherat. Ibnu Khuzimah dalam kitab tauhidnya hal.185 menambahkan: “Bahwa Allah tidak bisa dicapai oleh penglihatan penduduk dunia sebelum mati”.

3. Firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara ayat 51, yang menyatakan bahwa Allah hanya berbicara dengan para rasulNya dengan wahyu atau di balik tabir atau dengan malaikat. Kalau melihat Allah tidak bisa terjadi pada rasul-Nya, maka apalagi pada manusia yang lain.

4. Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 55, dan yang senada dengan ayat ini, yang menyatakan bahwa Bani Israil meminta Musa untuk bisa melihat Allah dengan jelas diazab oleh Allah, karena disamping mereka memintanya dengan penuh kesombongan dan penantangan, juga mereka memintanya di waktu yang tidak mungkin terjadi. Apabila kepada Nabi Musa saja tidak bisa terjadi maka apalagi kepada yang lainnya. 

Adapun Dalil Dari Sunnah
Hadits-hadits yang lewat menyebutkan bahwa Allah hanya bisa dilihat pada hari kiyamat. Itulah sebabnya pertanyaan sahabat juga memakai kata ”Apakah Allah bisa dilihat pada hari kiyamat?” dalam pertanyaannya kepada Rasulullah, seperti hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah,para Sahabat berkata: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Ya Rasulullah! Apakah kita akan melihat Allah pada hari Kiyamat? [HR.Bukhari dan Muslim]

Riwayat lain dari Abu Sa’id Al Khudri, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah kita akan melihat Allah pada hari kiyamat? [HR.Bukhari Muslim]

Juga hadits Rasulullah yang mengingatkan umatnya terhadap Dajjal, beliau bersabda:

مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ 

Sesungguhnya di antara dua mata Dajjal tertulis kata “kafir” yang bisa dibaca oleh setiap orang mukmin, yang dapat menulis, atau buta huruf.

Dan beliau berkata: ”Ketahuilah bahwasanya tidak ada seorangpun di antara kamu yang bisa melihat Tuhannya sampai dia mati. [HR.Muslim]

Di sini Rasulullah sedang berbicara dengan para sahabat bahwa mereka tidak bisa melihat Allah sampai mati ,kalau sahabat saja dikatakan oleh Nabi tidak bisa melihat Allah sebelum mati, apalagi manusia yang lain.

Apakah Rasulullah pernah melihat Allah di dunia ?
Qadhi Iyyad dalam kitabnya ”Assyifa fi ta’rifi huququl Musthafa” juz.I/119-124, menyebutkan beberapa perbedaan ulama’dalam masalah ini.

Pertama : Ibnu Abbas dan riwayat dari Ka’ab bin Malik, juga dinisbahkan kepada Anas bin Malik, Ikrimah, Hasan, Rabi’, dan juga Abu Hasan Al Asy’ari dan Qadhhi Abu Ya’la dari Hanabilah mengatakan: “Rasulullah pernah melihat Allah (Ketika menerima perintah shalat diwaktu mi’raj), mereka berhujah dengan hadits-hadits tentang ru’yah yang tidak mengkhususkan dengan mata tetapi secara mutlak (umum) seperti:

1. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Saya melihat Tuhanku”. [HR.Ahmad]

2. Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah: “Dia benar-benar dan pernah melihatnya dalam bentuk yang lain, ia berkata: “Nabi sudah melihat Allah dua kali, di Sidharatul Muntaha, kemudian diwahyukan kepadanya perintah shalat.. [HR Thurmudzi, hasan]

3. Hadits tentang Isra’ miraj Nabi, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Dhamir (kata ganti) pada kata-kata dana ( mendekat ), auha (mewahyukan ) dan raahu ( melihat ) kembali kepada Allah. Dengan demikian maka Rasulullah pernah melihat Allah.

4. Al-Haitsami dalam Majmu’ Az-zawaid juz 1 hal 79, meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas: “Sesungguhnya Muhammad melihat Rabb-Nya dua kali, pertama dengan mata kepalanya, dan kedua dengan mata hatinya”. 

5. Beliau juga berkata: “Muhammad melihat Allah”, Ikrimah bertanya: “Apakah beliau bisa melakukannya?”, ia menjawab: “Ya, Allah menjadikan Kalam (berbicara) dengan Musa, hullah (persaudaraan) dengan Ibrahim dan An-nazhar (melihat) kepada Nabi Muhammad. Diriwayatkan juga oleh At-Thabrani di Al-Awsath, tetapi di dalamnya isnadnya ada perawi bernama Hafs bin Amru yang dilemahkan oleh Imam Nasai)

6. Imam Nawawi mengatakan, inilah pendapat yang kuat, menurut kebanyakan Ulama. Yaitu Rasulullah melihat Allah dengan mata kepalanya di malam Isra mi’raj. Sesuai dengan hadits Ibnu Abbas terdahulu. Beliau juga menyebutkan beberapa alasan penguatannya, di antaranya masalah ini termasuk masalah yang tidak dapat dicerna oleh akal. Maka apabila hadits Ibnu Abbas itu shahih, ia harus dipegang. Juga Ibnu Abbas menetapkan bisanya ru’yatullah bagi Nabi, sedangkan hadits Aisyah menafikan(meniadakan) dalam kaidah al-mutsbat muqaddamun ala annafi (penetapan lebih dahulukan dari peniadaan). Dan shahabat apabila menetapkan satu pendapat, kemudian ada shahabat yang lain yang berbeda, maka perbedaan itu tidak dijadikan hujjah.

Kedua: Rasulullah tidak pernah melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia.

Inilah pendapat yang dipegang Aisyah dan yang masyhur dari Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, dan Abi- Dzar juga sebagian muhadditsin, fuqaha, dan mutakalimin. [Llihat Syarah Thahawiyah oleh Abi al-izzi hal 137]. 

Diantara dalil- dalilnya adalah 
1. Hadits Aisyah yang diriwayatkan Masyruq, ia berkata:

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ 

“Barang siapa mengatakan bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka ia telah berdusta besar pada Allah. [HR. Bukhari Muslim]

2. Hadits Abi Dzar -yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Syaqiq-, dia berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ الهِ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ 

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah engkau telah melihat Allah”, beliau menjawab: “Cahaya yang menghalangi-ku untuk melihatNya. [HR. Muslim]

Dalam riwayatkan lain dikatakan:

رَأَيْتُ نُورًا

Saya hanya melihat cahaya. [HR. Muslim]

3. Hadits Abu Musa, di dalamnya disebutkan.

حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ 

HijabNya adalah cahaya, jika hijab itu dibuka niscaya terbakar-lah di antara makhlukNya oleh cahaya mukaNya sejauh pandangan. [HR Muslim]

Sedangkan yang pernah dilihat oleh Rasulullah adalah Jibril Aliahissallam, bukan Allah sebagaimana Hadits Abu-Hurairah dan Aisyah.

4. Hadits riwayat Abu Hurairah dalam firman Allah:

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى

Dan ia telah melihatnya dalam bentuk yang lain (An-Najm:13), Rasulullah mengatakan bahwa belaiu melihat Jibril. (HR. Muslim )

5. Diriwayatkan oleh Asybani, dia bertanya kepada Dzur bin Hubaysih tentang tafsir ayat 13 surat An-Najm , dia berkata: Ibn Masud memberitahukannya bahwa Nabi melihat Jibril mempunyai 600 sayap. 

Juga hadits Aisyah, ia menyatakan, bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya dia adalah Jibril yang sebelumnya tidak pernah saya lihat dalam bentuk aslinya kecuali dua kali. Saya melihatnya turun dari langit yang keagungan penciptaanya memenuhi langit dan bumi.”

6. Dua hadits ini cukup untuk menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah melihat Allah di dunia, karena kedua hadits tersebut shahih dan sharih. Berbeda dengan hadits yang dipakai pendapat pertama, haditsnya mutlak. juga seperti hadits Syuraiq masih dipertanyakan sanad maupun matan, karena Syuraiq sendiri menurut Ahlul Hadits tidak hafidz (kuat hafalannya) (Lihat Fathul- Bari juz 13, hal 484 ). Adapun tarjih (pendapat yang dianggap kuat) Imam Nawawi termasuk tarjih tanpa hujjah yang kuat dan tepat.

Ketiga : Tawaquf (tidak mengatakan Rasulullah telah melihat Allah). Ini yang dilakukan oleh Qadhi ‘Iyadh.

Sebagian Ulama mencoba untuk mempertemukan dua pendapat tersebut, dengan mengatakan bahwa orang yang meniadakan ru’yatullah maksudnya Nabi tidak melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. Dan yang menetapkan ru’yatullah maksudnya Nabi melihat Allah dengan mata hatinya. Karena tidak adanya dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan As-sunnah yang menyatakan bahwa Rasulullah melihat Allah dengan mata kepala beliau, dan Rasulullah sendiri tidak pernah memberitahukan kepada shahabatnya, seandainya beliau pernah melihat Allah dengan matanya niscaya akan menceritakan shahabatnya. [Lihat Majmu’Fatawa juz 6, hal 509-510). Juga tafsir Ibn Katsir juz 6, hal 452] 


Melihat Allah dengan Mata hati
Ulama sepakat bahwa Rasulullah n pernah melihat Allah dengan hatinya, berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: “Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melihatNya dengan hatinya” [HR.Muslim]

Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Allah dengan hatinya dan tidak pernah melihatnya dengan mata kepalanya. 

Ibrahim At-Taimi meriwayatkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihatnya dengan hatinya dan tidak pernah melihat dengan matanya.

Imam Nawawi berkata: “Melihat Allah dengan hatinya adalah penglihatan yang benar, yaitu Allah menjadikan penglihatannya dihatinya atau menjadikan hatinya mempunyai penglihatan sehingga dia bisa melihat Tuhannya dengan benar, sebagaimana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. [Syarah Shahih Muslim juz3, hal 6]. 

Adapun selain Nabi, seperti Shahabat dan tabi’in, maka salaf sepakat bisa terjadi bagi hati seorang mukmin sebuah mukasyafat (membuka tabir) dan musyahadat (persaksiaan), yang sesuai dengan keimanan dan ma’rifatullah. Karena seorang yang mencintai sesuatu akan membekas dalam hatinya dan merasa selalu dekat dalam hatinya. Sebagaimana jawaban Rasulullah tentang ihsan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ 

Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau tidak melihatNya, maka Dia melihatmu.[HSR. Bukhari, Muslim, dan lainnya-Red] 

Syaikhul Islam meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Syaikhul Islam menambahkan sesungguhnya Allah dilihat sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan inilah pendapat saya, dan pendapat imam-imam kita. Berbeda dengan pendapat orang-orang yang jahil yang ada di sekitar kita. [Majmu’Fatawa V/79]

Seperti Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan hati dan bukan melihat-Nya tapi mengetahui-Nya dengan hati. [Maqalaat Islamiyah I/118]

Melihat Allah dalam mimpi, mungkinkah ?
Para sahabat dan tabiin dan salaf mengatakan bahwa ru’yatullah lewat mimpi adalah hak dan bisa terjadi. Sebagaimana hadits tentang mimpi Rasulullah melihat Allah dengan lafaz yang berbeda di antaranya:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ,Rasulullah bersabda:

رَأَيْتُ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ 

Saya pernah melihat Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

Juga di dalam hadits yang lain.

أَتَانِي اللَّيْلَةَ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ 

Semalam saya didatangi oleh Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

Diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda.

فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ 

Tiba-tiba aku bertemu dengan Tuhanku dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [HR.Tirmidzi dan Ahmad]

Syaikh Islam berkata: ”Terkadang seorang mukmin bisa melihat Allah ketika tidurnya dalam bentuk yang berbeda, sesuai dengan kafasitas keimanan dan keyakinannya. Apabila keimanannya kepada Allah kuat dan benar, maka ia akan melihat Allah dalam bentuk yang baik, tapi bila imannya kurang maka ia akan melihat Allah sebatas imannya itu. Dan penglihatan lewat mimpi berbeda dengan penglihatan ketika tidur. [Majmu’Fatawa juz III/390]

Namun demikian bukan berarti orang yang pernah bermimpi melihat Allah boleh melanggar syari’ah atau dijamin masuk surga, karena tidak ada ketentuan yang demikian dari Rasulullah. Adapun perkataan Ibnu Sirin yang diriwayatkan Ad-Darimi no 249, yang menyatakan: ”Barang siapa yang bermimpi melihat Allah maka akan masuk surga”, tidak bisa dijadikan hujjah, karena tidak adanya sanad yang bersambung kepada Rasulullah, dan tidak seorangpun dari sahabat yang menyatakan demikian.

Rukyatullah fi yaumil Qiyamah
Sebelumnya telah disebutkan bahwa Ahlussunah sepakat bahwa ru’yatullah pada hari kiyamat adalah hak menurut Al-Quran dan Sunnah. Tetapi apakah ru’yatullah pada hari ini khusus bagi orang mukmin saja atau yang lainnya juga?. Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama.
Ruyatullah pada hari kiyamat untuk semua orang baik mukmin maupun kafir.Mereka berhujjah dengan keumumman ayat yang menjelaskan pertemuan dengan Allah seperti ayat:

يَا أَيُّهاَ اْلإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلىَ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاَقِيهِ 

Hai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh memuja Tuhanmu,maka pasti kamu akan menemui-Nya. [Insyiqa’ : 6]

Kata”Insan” dalam ayat di atas menunjukkan jenis yaitu anak Adam. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagian ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari dan Al Qurthubi. Mereka berdalil dengan hadis Abi Said terdahulu, yang menyatakan bahwa manusia akan melihat Allah pertama kali, kemudian dikatakan kepadanya supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah di dunia. Dan ini adalah ru’yah yang umum kepada semua manusia.

Kedua;
Melihat Allah hanya bagi orang menampakan keimanannya baik dia mukmin atau orang munafik. Mereka berdalih dengan hadits Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Allah akan menampakkan diriNya dalam bentuk yang diketahui oleh orang yang menyembahNya, kecuali mereka yang menyembah matahari, bulan dan salib.

Ketiga;
Hanya orang yang mukminlah yang akan bisa melihat Allah, karena Allah mengatakan:

كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat)Tuhannya. [Al Mutaffifin :15]

Dan pendapat inilah yang paling kuat. Adapun pendapat pertama yang menyatakan bahwa semua manusia bisa Ru'yatullah, yang dimaksud adalah yang pertama kali yaitu Ru'yatullah yang umum, tetapi kemudian dihijabi/dihalangi. Ru'yatullah itu juga berbeda. Yang paling hakiki adalah Ru'yatullah di dalam surga yang menjadi tambahan bagi orang mu’min, inilah yang dikuatkan oleh hadits Sa’id Al Khudri: “Kemudian Al Jabbar (Allah) mendatanginya dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk awal mereka melihatNya (Majmu’ Fatawa VI/503)”.

Kesimpulan
Dari pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa Allah tidak bisa dilihat, tetapi tidak pernah dilihat dengan mata kepala baik, oleh nabi Musa maupun Rasulullah di dunia. Allah hanya bisa dilihat di dunia dengan pandangan hati atau lewat mimpi sesuai dengan kapasitas keimanan dan keyakinannya kepada Allah. Adapun pada hari kiamat Allah akan dilihat oleh seluruh mahluk-Nya. Tetapi Ru'yatullah yang hakiki yang menjadi tambahan kenikmatan, hanya bisa dirasakan oleh orang mukmin setelah mereka masuk kedalam surga.

Ya Allah! perkenankan kami untuk bisa merasakan kenikmatan untuk melihat wajah-Mu yang agung, Amin!

02.28 | Posted in | Read More »

Sabar

SABAR

oleh: Muhammad Syafi`i Tampubolon

Ada beberapa hal yang terkadang membuat manusia menjadi marah, namun sebelum sampai kepada tingkatan marah biasanya didahului dengan emosi, emosional biasanya akan muncul jika ada sesuatu yang tidak berkenan dihati. Emosional dipicu oleh tekanan-tekanan pSermasalahan, baik itu permasalahan yang muncul dari diri sendiri, keluarga maupun orang lain.
Permasalahan juga tidak akan muncul begitu saja, pastinya ada yang memulai. Permasalahan juga akan hinggap kepada siapa saja tanpa memandang usia dan kedudukan. Semakin bertambah usia tentunya semakin banyak kebutuhan, jika kebutuhan sudah semakin bertambah, pastinya permasalahan akan bertambah, begitu juga halnya kedudukan, semakin tinggi kedudukan seseorang dikhalayak ramai, maka akan semakin sering permasalahan akan muncul dan harus dihadapi.

Contoh-contoh permasalahan kecil itu bisa kita lihat didalam kehidupan keseharian manusia. Kita coba ambil contoh dari seorang anak bayi. Bayi, ketika dia haus atau lapar maka dia akan menangis, tangisannya itu adalah sebagai tanda dari permasalahannya. Seorang ibu akan melepaskan masalah sibayi dengan cara memberi susu atau ASI. Dan bukan hanya sekali dua kali sibayi itu menangis untuk menunjukkan permasalahannya dan seorang bayi tentunya tidak kenal atau mengerti dengan yang namanya sabar.
Ketika seorang ibu mampu membeli susu untuk kebutuhan sibayi, maka pastinya itu bukan masalah bagi siibu dan juga sibayi. Namun ketika seorang ibu tidak mampu membeli susu, maka itu akan menjadi sebuah masalah bagi siibu dan juga sibayi, mungkin masalah yang timbul minimal siibu merasa "Perasaan yang tertekan karena tidak mampu memberikan kebutuhan sibayi". Walaupun seorang ibu mampu untuk membeli susu sibayi belum tentu dia lepas dari yang namanya masalah. Artinya " Masalah akan tetap ada dan tidak akan pernah bisa musnah ".
Kita hanya mampu dan berusaha memperkecil masalah, bukan berarti semua manusia mengerti tentang hal ini, sebab masih banyak manusia yang membesar-besarkan masalah yang kecil hingga berakibat fatal.

Mungkin kita sering mendengar nama seorang tokoh besar dan ia juga seorang rasul yang membawa sebuah ketetapan hukum ketuhanan, kehidupan dan ketata-negaraan. Ia bernama Muhammad, orang yang pertama sekali didunia ini bernama Muhammad. Seorang pemimpin yang disukai oleh orang-orang yang memiliki keyakinan dan dibenci oleh orang-orang yang tidak memiliki keyakinan dengan kebencian yang luar biasa tanpa alasan yang tepat untuk membencinya.
Rasul itu pun berkata: والصبر ضياء jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia "Sabar itu adalah cahaya". Mungkin kita bisa melihat lampu teplok atau lampu petromax atau lampu neon. Perhatikanlah lampu itu, lampu itu tidak akan bisa luas cahayanya jika tidak ada kaca, kita bisa mencobanya, pertama ambil lampu petromax dan hidupkan dengan korek api sumbunya namun lepaskan kacanya, maka cahayanya hanya bisa menerangi daerah yang dekat saja, dan coba masukkan kembali kacanya, dan perhatikan perbedaannya, pasti cahaya itu akan lebih luas cakupannya ketimbang tidak pakai kaca. Disamping itu api lampu itu juga akan lebih tenang disebabkan terlindung dari tiupan angin. Disisi lain, api dan cahaya memiliki keterikatan. Kita bisa melihat perbedaan itu pada matahari dan bulan. Kalau kita perhatikan seolah-olah matahari itu akan padam jika sudah memasuki malam hari, padahal sebenarnya matahari tidak pernah padam, sebab bulan akan meminjam cahaya matahari untuk memberikan cahaya dimalam hari.
Sabar adalah salah satu sifat yang diberikan Allah kepada hambanya, namun sifat sabar itu tidak akan berfungsi jika tidak ada permasalahan atau cobaan yang ringan atau yang paling berat. Sifat sabar yang ada pada diri kita itu kecil. Kemudian permasalahan atau cobaan didalam kehidupan ini yang membuat sifat sabar itu mengeluarkan cahaya-nya, sehingga sumbu yang mengeluarkan api (Masalah) yang kecil itu menjadi sebuah cahaya yang besar bagi pribadi-pribadi seoarang muslim. Jikalau begitu, masalah atau cobaan itu adalah sumbu kecil yang membakar dan mengumpulkan sinar-sinar kecil hingga menyinari dinding-dinding hati dan pada akhirnya memantulkan cahaya, dan cahaya itu adalah kesabaran dari pribadi kita yang lama terpendam. Semakin besar cobaan hidup yang dihadapi, semakin besar pula cahaya itu terlihat oleh kita dan orang lain, sehingga tidak ada kamus yang meng-istilahkan "Sabar itu ada batasnya".

Pengaplikasian realita sabar.

Sepantasnya orang yang memiliki pandangan kedepan ada baiknya jika merenungkan kata-kata ini:

Padakanlah dirimu dengan lima hal sebelum datang lima hal:
1-      Masa sehat-mu sebelum datang masa sakit-mu.
2-      Masa kaya-mu sebelum datang masa miskin-mu.
3-      Masa lapang-mu sebelum datang masa sibuk-mu.
4-      Masa muda-mu sebelum datang masa tua-mu.
5-      Masa hidup-mu sebelum datang masa mati-mu.

Adapun orang yang mengatakan itu adalah Utusan Allah, namanya Mumahammad anaknya si-Abdullah, perkataan itu diabadikan oleh orang yang bernama Al-Hakim. Kalaulah boleh saya berkata: Ambillah perkataan-perkataan orang-orang yang bertanggung jawab atas perkataanya.

Berapa banyak manusia yang tidak mampu bersabar ketika masih sehat. Semua dikerjakan, semua dilakukan baik dari yang baik hingga yang paling buruk, hingga pada akhirnya jatuh sakit. Ketika masih sehat semua permasalahan bisa diselesaikan dengan baik, baik itu dengan cara-cara yang baik maupun dengan cara-cara yang kurang baik, yang nantinya seseorang itu beranggapan masalah itu akan selesai tanpa menimbulkan masalah yang lain, namun kadang kala prediksi itu ada juga yang meleset dan menimbulkan masalah yang lebih besar. Disisi lain Allah sudah memberikan sebuah warning, yang mana perbuatan atau cara yang kita rasa baik belum tentu baik dimata Allah, dan apa yang kita rasa buruk belum tentu buruk dimata Allah.

Namun sebagai seorang makhluk, kita hanya mampu menerka, memprediksi atau beranggapan bahwa itu baik dan itu buruk, sebab Allah juga bersikap adil, disisi lain Allah tidak sepihak dengan keinginan kita, namun disisi lain Allah berpihak kepada apa yang kita butuhkan. Begitu juga halnya seorang ayah, ayah lebih tau apa yang dibutuhkan oleh anaknya, namun terkadang seorang ayah tidak akan sepakat dengan keinginan anaknya. sebab seorang ayah yang baik akan tau apa efek dari keinginan anaknya. Satu contoh kecil, seorang anak menginginkan sepeda motor untuk sarana transportasi kesekolah, namun ayah hanya memberikan uang secukupnya untuk naik bis, namun anak bersikeras agar tetap dibelikan motor. Nah, apa yang dilakukan ayah adalah memberikan kebutuhan anak dan tidak mengabulkan keinginan anak. Maka seorang anak yang baik akan berkata " Ayahku lebih mengetahui apa yang aku butuhkan dan bukan apa yang aku inginkan ", tapi kita akan mengetahui juga bahwa tidak semua anak bisa berfikir seperti itu, kadang kala seorang anak akan berfikir bahwa ayahnya tidak sayang kepadanya. Begitu jugalah Allah dengan manusia, dan manusia dengan Allah. Allahu A`lam.

Kita lihat orang yang sakit, orang sakit mampu bersabar, mampu menahan segala penderitaan yang dirasakannya. Rasa sakit adalah efek ketidak sabaran ketika masih sehat. Nikmatnya rasa sehat hanya akan dirasakan ketika sudah jatuh sakit. Sebab ketika seseorang itu sehat ia mampu berbuat apa saja yang diinginkan, namun ketika sudah jatuh sakit maka ia tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mampu merengek dan mengeluh untuk memenuhi kebutuhannya kepada orang yang sehat dengan cara meminta tolong. Namun ketika ia sudah sehat lagi maka ia akan lupa betapa sakitnya ketika ia jatuh sakit. Sedangkan hidupnya jika dipersentasekan lebih banyak sehatnya ketimbang sakitnya, namun jikalau begitu lebih banyak ketidak sabarannya ketimbang sabarnya. Namun begitupun Allah tetap adil, Allah berikan imbalan yang besar bagi orang yang sakit jika seseorang itu tau itu adalah lahan amal dari Allah, dan Allah juga memberi imbalan yang besar bagi orang-orang yang sehat, sebab dengan kesehatannya itu dia dapat beribadah dengan secara sempurna kepada Allah. Allahu A`lam

Siapa yang tidak suka dengan kekayaan, semua orang suka dengan yang namanya harta, tahta dan wanita. Siapa yang tidak suka juga dengan kaya hati, jiwa, raga, ilmu dan hikmah. Kalau memungkinkan orang ingin kaya harta, ilmu dan hikmah. Dalam satu waktu dan satu masa ini hanya diberikan oleh Allah kepada dua orang, yaitu utusan Allah Daud dan anaknya Sulaiman. Semua orang yang memiliki keyakinan maka akan kenal dengan kedua orang tersebut, Daud adalah utusan Allah dan mencakup Raja serta memiliki ilmu dan hikmah serta kaya raya, Daud juga seorang pemberani, namun masih menyembah Allah. Kalau dimasa ini, dimasa yang serba moderen, hampir semua hartawan dan pemberani menyembah syetan dan jin. Allahu A`lam.
Banyak kita perhatikan orang miskin yang sabar dengan kemiskinannya hingga melupakan Allah sang pencipta segala-galanya. Katakanlah orang yang yang paling miskin itu adalah orang yang mencari barang-barang rongsokan (Butut) untuk dijual hanya untuk mendapatkan sesuap nasi untuk menyambung kehidupan pada hari ini. Kalau kita perhatikan mereka punya waktu untuk mengerjakan yang namanya kewajiban kepada Allah jika mereka seorang muslim. Namun mereka terkadang lupa kalau yang menciptakan harta dan yang memberi rezeki itu adalah Allah.

Begitu juga halnya seorang direktur yang sudah punya pekerjaan yang tetap dan selalu rapi dan memiliki waktu yang lapang untuk mengerjakan kewajiban kepada Allah, namun berapa banyak tukang butut dan direktur-direktur yang lupa dengan Tuhannya yang maha pemberi rezeki.
Padahal kekayaan dan kemiskinan adalah anugerah Allah. Untuk mendapatkan kekayaan dan menjaga kekayaan itu dibutuhkan kesabaran, namun tidak kalah pentingnya ketika menghadapi kemiskinan itu dengan kesabaran. Kekayaan adalah amanah Allah, begitu juga halnya kemiskinan. Kalau kita berbicara tentang surga dan neraka, Mungkin manusia yang kaya akan lebih mudah untuk membeli surga dan juga mungkin lebih mudah untuk membeli neraka dengan kekayaannya. Begitu juga halnya manusia yang miskin, dengan alasan kemiskinannya itu dia akan mendapatkan surga dan juga neraka.

Orang yang kaya harta mungkin lebih susah untuk menjaga dan mempertanggung jawabkannya didepan sang pencipta. Sebab dia akan ditanya darimana kekayaan itu dan dipergunakan untuk apa. Jikalau orang miskin mungkin tidak terlalu banyak yang harus dijaga dan dipertanggung jawabkan didepan sang pencipta. Kalau nanti sudah mati maka orang kaya akan berkata "Alangkah baiknya dulu aku miskin" sebab banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dikarenakan salah penggunaan, namun ada juga amal ibadahnya yang menjawab, seperti shodaqoh dan lain-lain. Namun ketika manusia miskin itu hidup didunia ia akan berkata "Alangkah susahnya kemiskinan ini hingga membuatku tidak dapat beribadah kepada Allah", sehingga kemiskinan itu lebih mendekatkan diri kepada yang namanya "KUFUR", namun tanpa terkecuali kekayaan juga bisa mendekatkan diri kepada kekufuran, orang kaya bisa menguntungkan dirinya didunia dan akhirat, namun bisa juga merugikan dirinya didunia dan akhirat, begitu juga dengan orang miskin, orang miskin bisa mengambil keuntungan dari dunia dan mendapatkan keuntungan nanti kelak diakhirat, begitu juga sebaliknya, kemiskinan bisa merugikan disrinya didunia dan akhirat. Namun yang kaya dan yang miskin hilang begitu saja ditelan bumi tanpa ada berita. Allahu A`lam.

09.08 | Posted in | Read More »

Blog Archive