Breaking News:

Ramadhan Dan Sosial

Ramadhan Dan Sosial 
Oleh: Muherman Numrah, Lc

Kisah 

Syaikh Nabil Al-Iwadhi menceritakan; Salah seorang Imam Masjid di salah satu Negri Arab menceritakan: “Suatu hari aku keluar untuk melaksakan shalat Fajar (Shalat Subuh), ketika aku keluar dari rumah tiba-tiba aku melihat seorang wanita separuh baya keluar dari rumahnya pada subuh buta..selang beberapa waktu aku terus memandang dari jauh, sehingga timbul pertanyaan dalam benakku “Apa yang membuat wanita ini keluar dari rumahnya pada subuh buta begini?!”. 

Lama memperhatikan tingkah-lakunya..aku lihat wanita ini menghampiri tong sampah yang berada di hay (gang) ini, seraya mengeluarkan dan memeriksa satu persatu dari sampah-sampah yang ada di dalamnya, lalu membuka setiap kantong dan plastik dan mengambil bekas-bekas makanan yang ia dapatkan di sampah-sampah tersebut, dan hal ini berlalu selang beberapa waktu dan aku terus mengintipnya hingga aku bisa melihat wanita tersebut kembali ketempat ia keluar (Rumahnya). 

Setelah aku memastikan siapa wanita ini? Rumahnya dimana..yang sebenarnya tidak begitu jauh dari rumahku? Dan yang tetap menjadi pertanyaan dalam benakku adalah; apa yang membuat wanita ini keluar rumah pada sa’at malam begini?. 

Pada waktu petangnya..aku mengutus istriku untuk menziarahi dan mengunjungi wanita ini, dan menanyakan sebab mengapa ia keluar pada malam hari dan memeriksa tong sampah?! 
Setelah istriku kembali, dengan isak tangis yang tersedu-sedu..aku keheranan; apa yang menyebabkan istriku menangis? Sehingga aku langsung menghampirinya dan melemparkan pertanyaan! Istriku..Apa yang membuatmu menangis?
  
Istriku berkata: “Wanita yang kamu ceritakan tadi..adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, sedangkan ia memiliki beberapa orang anak. Ia menceritakan ‘Bahwa setelah suamiku meninggal aku dan anak-anaknya kehilangan tempat bernaung yang memberi makan dan nafkah kami, sedangkan aku tidak memiliki keluarga lain selain suamiku..dan keluargaku yang lainpun tidak tahu menahu keadaan yang aku hadapi. Untuk menutupi perut dan kebutuhan aku dan anak-anakku aku terpaksa melakukan hal ini; ketika manusia sudah tidur aku keluar memeriksa setiap tong sampah yang ada di gang ini, dan mengambil setiap sisa-sisa makanan yang dibuang ke tong sampah tersebut, sedangkan aku takut mengemis kepada orang lain (iffah). Dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan kami!”.[Footnote] 

Pelajaran berharga 

Kisah ini adalah diantara seribu dan bahkan jutaan kisah nyata yang sering terjadi dalam masyarakat Islam dulu dan sekarang, dan bahkan kisah seperti ini sering pula terjadi dalam lingkungan sekitar kita, namun kebanyakan kita lalai, lupa dan bahkan tidak peduli sama-sekali dengan prihal dan keadaan tetangga dan saudara kita se-Islam. 

Kisah ini adalah kisah pedih yang menimpa sekian banyak saudara dan saudari kita, orang yang pada hakikatnya membutuhkan bantuan tetangga dan saudara-saudarana se-Islam, walaupun pada hakikatnya kebanyakan dari mereka tidak meminta bantuan..karna mereka malu atau karna merek ingin iffah dan tidak ingin mendapat predikat ‘pengemis’. Dan kita tidak tahu kisah mereka melainkan setelah mereka meninggal karna kelaparan!?! 

Dan tujuan dari kisah ini penulis paparkan adalah demi mengetuk kembali pintu hati dan nurani kita, yang mungkin selama ini telah lupa dan bisa jadi tidak tahu sama-sekali dengan hak-hak muslim terhadap muslim lainnya, hak-hak tetangga terhadap tetangganya yang lain..dan cukuplah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam berikut ini sebagai pengingat: 

“Tidak dinamkan beriman denganku..seseorang yang mati kekenyangan (maksudnya; tidur kekenyangan) sedangkan tetangganya kelaparan!”.  

Dan sabda Beliau juga: 

“Orang beriman itu seperti satu jasad (tubuh)..apabila salah satu (anggota) tubuh sakit deman, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit pula”. 

Semoga dengan kisah pendek ini akan lebih membuat kita kenal dengan hakikat puasa yang sebenarnya, syariat yang Allah turunkan demi terwujudnya rasa peduli dengan sesama, karna dengan puasa semua kita baik miskin atau kayanya merasakan lapar yang bersangatan disiang hari, dan yang demikian adalah demi terwujudnya pribadi dan masyarakat yang social..masyarakat yang mampu memperhatikan saudaranya yang lain. Dan sudah tentu pula demi terwujudnya kedamaian dan keamanan dalam msyarakat kita. 

Dan sudah menjadi kebiasaan pula..(khusus di Mesir) para orang kaya tidak segan-segan mengeluarkan harta yang banyak sekali, demi untuk memberi bantuan faqir miskin dan anak yatim, dan menyediakan perbukaan (Maidatur Rahman) bagi setiap yang membutuhkan, terutama;orang miskin, anak yatim, ibnu sabil, orang dalam perjalanan. 

Dan hal diatas sangat terpuji sekali..namun alangkah baiknya saudara dan saudariku yang di Rahmati Allah! Kita bisa menerapkan hikmah puasa dalam kehidupan sehari-hari kita, tanpa harus di khususkan pada bulan Ramadhan. 

Kisah tambahan! 

Dahulu..Di Negri Basrah, Hasan bin Ali merupakan salah seorang paling dermawan di negri itu, bseliau setiap malamnya memikul tepung (beras)dipundaknya untuk di sedekahkan kepada orang-orang miskin. 

Setiap malam beliau selalu melakukan hal ini; beliau bawa beras di pundak beliau kemudian beliau ketuk setiap rumah yang beliau rasa bahwa rumah inilah yang membutuhkan, setelah beliau ketuk dan meletakkan beras di depan pintu beliau pergi, sehingga orang rumah tersebut tidak mengetahui siapa yang memberinya beras dan sembako ini?! Dan hal ini beliau lakukan lebih dari dua puluh tahun..namun selama itu pula tidak ada yang mengetahui bahwa beliau yang melakukan hal tersebut. 

Dan pada waktu ketika beliau meninggal..para faqir miskin dari penduduk Basrah merasakan bahwa bantuan yang selama ini mereka terima tidak pernah datang lagi, dan orang yang selama ini merasakan pintu rumahnya diketuk setiap malamnya seraya meninggalkan sembako, sekarang tidak terdengar lagi..dan sekarang mereka mengetahui bahwa orang yang selama ini membantu mereka adalah Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘ Anhu. 

Betapa dermawan dan ikhlasnya anak dari cucu Nabi ini! Dan apakah kita bisa menemukan orang seperti ini dalam kehidupan social kita sekarang?!  

Dengan tulisan singkat ini saya tantang anda dan terutama diri saya melakukan hal ini!..kalaupun kita tidak sanggup bersedekah secara sembunyi seperti ini, tidak tercela kalau kita bersedekah secara-terang terangan, karna betapa banyak manusia yang mencotohkan keburukan..maka jadilah saya dan anda yang mampu mencontohkan kebaikan kepada orang lain! Terutama pada bulan yang penuh berkah yang insya Allah akan kita lalui ini. 

Renungankanlah! 

Renungkanlah firman Allah dan sabda Nabi berikut ini: 

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang Telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim: 31). 

Dan firman Allah juga:  
“…Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya”. (QS. Saba’: 39). 

Dan firman Allah: 
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274). 

Dan firman Allah juga: 
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu)[Footnote], Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya[Footnote] dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271). 

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:  
“Puasa adalah tameng dan shadaqah dapat memadamkan (menghapus) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” (Shahih Targhib). 
Dan sabda Nabi pula: 

“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah kelak di akhirat, dihari yang tidak aka ada naungan melainkan hanya naungan Allah: (diantaranya beliau menyebutkan)…Dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah kemudian dia menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di infaqkan tangan kanannya”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).   

Dan sabda Nabi Shallalallahu ‘Alaihi Wasallam juga:  
“Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan.” (Terdapat dalam Shahih Muslim). 

Himbauan 

Penulis mengajak pembaca..agar merenungi ayat-ayat dan hadits yang penulis jelaskan makna dan tadabburnya diatas, kemudian penulis mengajak ita semua supaya memperhatikan lingkungan tempat dia tinggal terutama qarib-qirabat, anak yatim, tetanga dan orang-orang yang dekat tempat tinggalnya dengan kita. 

Perhatikanlah keadaan mereka! Apabila kita merasa bahwa mereka membutuhkan walaupun mereka tidak meminta, maka bersegeralah membantu walaupun dengan ala kadarnya, seribu perak yang anda sumbangkan maka akan dilipat gandakan oleh Allah menjadi 700 kali lipat. Karna itulah Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan kita untuk bersedekah, sebagaimana sabda beliau: 

“Takutlah kamu dengan Neraka walaupun dengan separoh (sekerat) buah kurma”. 

Maksud hadits yang mulia ini adalah; Peliharalah dirimu dari Adzab Neraka dengan banyak bersedekah walaupun dengan separoh buah kurma. 
“Separoh buah korma” adalah kinayah dari walaupun sedikit yang kita infaq-kan, maka ia akan sanggup menepis siksa Neraka..maka bagaimana menurut anda kalau lebih banyak dari separoh buah kurma??!! Disamping kita terhindar dari Neraka kita juga membeli Surga, dan juga dengan sedekah tadi akan membuat kesalahan dan dosa kita diampunkan oleh Allah. Mak adakah kesempatan yang lain yang anda cari selain kesempatan mudah ini??! 

Dan kita tutup tulisan singkat ini dengan sabda Nabi yang bermakna: 
“Pada urusan akhirat (Agama) mu maka lihatlah orang yang lebih tinggi darimu, sedangkan pada urusan duniamu maka lihatlah orang yang lebih rendah darimu!” 
hadits ini mengajak kita bersyukur dengan nikmat yang di beri Allah, sekaligus mengajak kita memperhatikan lingkuang sekitar kita!. 
Allahu A’lam!  

16.49 | Posted in | Read More »

Hikmah Salaf

Hikmah Salaf Tentang Puasa dan Bulan Ramadhan
Oleh: Muherman Numrah, Lc



Selamat datang kepada pensuci dosa-dosa
Berkata Umar Bin Khattab: “Selamat datang dengan pensuci kita dari dosa-dosa”.

Bekal Untuk Perjalanan Panjang

Dikatakan kepada Ahnaf Bin Qis: Anda kakek yang sudah tua sekali dan puasa bisa membuatmu lemah! Dia berkata: “Aku menyiapkannya (sebagai bekal) untuk perjalanan yang panjang, dan sabar dalam mentha’ati Allah lebih ringan dibandingkan dari sabar dengan adzab-Nya”.

Ibadah Itu Bukan Pada Bulan Ramadhan Saja!

Dikatakan kepada Bisyr bahwasanya sebagian orang hanya beribadah dan bersungguh-sungguh pada bulan Ramadhan saja, lalu dia berkata: “Seburuk-buruk kaum adalah orang yang kenal Allah hanya pada bulan Ramadhan saja, sedangkan orang shaleh adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh setahun penuh”.

Do’a Salaf

Berkata Yahya Bin Bin Abi Katsir: “Ya Allah..Serahkanlah aku kepada ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan kepadaku, dan ambillah dia dariku sedangkan Engkau menerima”.[1]
Maksudnya: Ambillah Ramadhan dariku sedangkan Engkau menerima seluruh amal kebaikan yang aku perbuat selama Ramadhan, seperti: Puasa, zakat, infaq dan sedekah, shalat tarawih dan witir, tahajjud, I’tikaf, memberi makan orang yang berpuasa, dan amal-amal lainnya.

Bulan Membaca Al-Qur’an Dan Memberi Makan Bagi Orang Yang Berpuasa

Az-Zuhri apabila telah masuk bulan Ramadhan dia berkata: “Sebenarnya Ramadhan ini adalah waktu memperbanyak membaca Al-Qur’an dan memberi makan orang yang membutuhkan makanan”.
Diriwayatkan pula; Bahwa Imam Malik apabila datang bulan Ramadhan beliau berhenti mengajar hadits, dan menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Qur’an.

Puasa Itu Untuk-Ku

Berkata Ibnu Abdul bari: “Cukuplah firman Allah Ta’ala “Puasa itu untuk-Ku” sebagai keutamaan puasa dari pada seluruh ibadah”.

Tuannya Seluruh Bulan

Berkata Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu : “Tuannya seluruh bulan adalah bulan Ramadhan, dan tuannya semua hari adalah hari Jum’at”. (HR. Ibnu Abid Dunya, dalam kitab ‘Fadhail Ramadhan”).

Ramadhan Adalah Ajang Perlombaan

Suatu hari Hasan Al-Basri lewat dekat sekelompok orang sedang tertawa, kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza WaJalla menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang perlombaan untuk hamba-hamba-Nya dimana mereka saling berlomba-lomba dalam mentha’ati Allah; sehingga sekelompok manusia ada yang menang dan sekelompok yang lainnya kalah.

Maka sungguh di herankan sekali terhadap orang yang tertawa dan bermain pada hari menangnya orang yang berlomba dalam mentha’ati Allah, dan merugilah pada hari itu orang yang bathil (berbuat sia-sia tidak memanfaatkan hari-hari Ramadhan dengan ktha’atan)..adapun demi Allah!..Kalau seandainya dibuka ghitha’ (penutup) sungguh akan sibuk orang baik dengan kebaikannya (maksudnya: kalau seandainya menyeru kepada kebaikan tidak di wajibkan, sungguh orang-orang shaleh akan sibuk dengan kebaikan dan ketha’atan dan membiarkan orang yang lalai dan tidak mengingatkan mereka akan fahdilah Ramadhan atau ketha’atan yang lainnya). Dan begitu pula dengan orang jahat akan sibuk dengan kejatahannya (tanpa ada yang mencegah dari berbuat dosa).[2]

Puasa Yang Sebenarnya Adalah Puasa Anggota Tubuh

Berkata Ibnu Qayyim: “Bukan dinamakan puasa..seperti puasa sekelompok orang menahan dari makanan saja, akan tetapi puasa yang sebenarnya adalah puasa anggota tubuh dari dosa-dosa, menahan lidah dari kata-kata yang tidak berguna, menahan mata dari memandang yang haram, dan menahan tangan dari mengambil hak orang lain”.

Adab Bergaul Dengan Ramadhan

Berkata Ma’li Bin Fadhl: “Para salaf dulunya berdo’a kepada Allah selama enam bulan sebelum Ramadhan agar mereka di sampaikan kepada Ramadhan, dan mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya agar di terima Ramadhan mereka”.[3]






[1] . Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali.
[2] . Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam Ghazali.
[3] . Lathaif Ma’arif.

16.30 | Posted in | Read More »

Ruang Award Dari Sahabat

Terimakasih Admin Islam Kaffah Indonesia kepada Saudara Erickvand yang telah memberikan Award Best Friend nya kepada Islam Kaffah Indonesia sebagai tanda Sahabat sejati dalam dunia blog. Award Pertama yang didapat dari sahabat Islam Kaffah Indonesia.


17.12 | Posted in | Read More »

Ramadhan di Negeri Fir’aun

Ramadhan di Negeri Fir’aun
Oleh: Udo Iwan

Ramadhan selalunya memberikan warna yang berbeda pada setiap orang. Perbedaan itu terasa sesuai dengan kondisi dan situasi. Seorang pelajar misalnya, ia akan merasakan hal yang berbeda ketika bersama keluarga. Ada rasa bahagia tersendiri. Begitu juga halnya dengan seorang pelajar yang jauh dari keluarga. Tentunya ada sesuatu yang berbeda pula, mungkin sebuah kekurangan, karena tidak bersama keluarga.
Suasana juga terasa sangat berbeda dengan berbedaan ruang. Antara ruang Indonesia dan Mesir misalnya, memiliki perbedaan yang rada jauh. Ruang Mesir bagi sebagian penuntut ilmu yang jauh dari keluarga terasa sangat pengap. Hampa. Sirkulasi udara yang tidak berubah pada ruang tersebut terkadang membuat berkeringat. Bosan. Itu kalau ditilik dari segi perasaan. Sepi memang, tapi selalu ada pengisi disela kekurangan tersebut, ya, sahabat satu perjuangan.
Sedangkan dari sudut beramal dan perlombaan dalam kebaikan juga rada  jauh. Sebut saja musa’adah (bantuan) yang diberikan orang Mesir, terutama pada wafidiin (pelajar asing). Pada bulan ramadhan ini para muhsiniin (pemberi bantuan) berlomba-lomba dalam bersedekah. Ada diantara mereka yang membantu berupa sembako. Ada juga berupa uang tunai. Biasanya untuk waktu sebulan atau dua bulan ke depan, kita cukup memanfaatkan bantuan-bantuan tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri. Mungkin ini diantara keberkahan ramadhan bagi pelajar asing di Mesir.
Hal lain yang bisa dilihat dari Mesir adalah semangat ibadah mereka. Sebagaimana kita ketahui bahwa diantara kekhasan ramadhan adalah qiyamullailnya, dalam hal ini shalat tarawih. Shalat tarawih di Mesir memberikan kesan tersendiri pada masing-masing jamaah (pelajar). Dari shalat yang membuat lutut goyang, sampai tarawih yang singkat bisa kita temukan. Keimanan biasanya menggiring ke masjid mana akan shalat. Ketika iman berada dipuncak, shalat satu juz merupakan pilihan. Sedangkan iman yang pas-pasan, masjid dengan bacaan ayat singkat jadi tujuan. Dan kesemuanya memiliki alasan tersendiri. Lama selesai, karena menikmati shalat tarawih. Cepat selesai, bisa mengerjakan kebaikan lain. Tilawah. Muraja’ah. Atau membaca. Yang jelas niat pengarah jalan. Lama tapi ikhlas, subhanallah. Singkat dan ikhlas, alhamdulillah. Yang jelas setiap kebaikan selalu ada ganjarannya.
Awal ramadhan biasanya biasa-biasa saja. Shaf shalat setengah pada awalnya. Memasuki paruh kedua, penuh. Memasuki sepuluh terakhir, membludak. Semakin hari semakin padat oleh jamaah. Terutama pada sepuluh terakhir. Karena para pecinta Allah biasanya mengintai malam lailatul qadr. Malam mulia dari seribu bulan.
Seterusnya adalah Maidaturrahman, sebuah tempat perbukaan yang disediakan orang Mesir. Perbukaan ini dibuka setiap hari. Dan siapapun bisa berbuka di sana. Walaupun ada sebagian yang mengkhususkan untuk orang tertentu, orang asing saja misalkan. Atau Mesir tok. Bagi para pelajar ini merupakan terget utama. Karena tidak perlu lagi bersusah payah. Cukup dengan mengayunkan langkah, perut kenyang. Tentunya dengan menu-menu yang nikmat. Ayam. Daging. Dan ikan. Semua tak beranjak dari situ.
Hal lain yang bisa kita catat adalah shalat satu juz. Sebagaimana diketahui, mesir adalah negeri seribu menara. Saking menjamurnya masjid, ia mendapat gelar demikian. Dimana-mana kita akan menemukan masjid, baik jami’ (masjid raya), atau masjid kecil yang menyatu dengan rumah. Dan kesemuanya ramai dikunjungi. Dari sekian banyak masjid, ada diantaranya shalat tarawih satu juz semalam. Jadi ketika selesai ramadhan, khatam tiga puluh juz. Dan di Mesir, ini mudah kita temukan. Dan hanya iman yang melambung saja yang mampu mengikuti sampai akhir ramadhan.
Diantara amalan yang dilakukan rasulullah Saw. hingga wafat beliau adalah i’tikaf sepuluh terakhir pada bulan ramadhan, sebuah amalan yang dikerjakan oleh rasulullah hingga akhir hayat beliau. Sebagaimana diriwayatkan oleh sayidah A’isyah, bahwasanya rasulullah I’tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan hingga akhir hayatnya. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Atau dalam lafaz lain, “bahwasanya rasulullah saw beri’tikaf setiap ramadhan.”
Di Mesir kita bisa menemukan sunah ini. Di mana kebanyakan masjid di Indonesia tidak tampak lagi menyemarakkannya, kecuali sebagian kecil saja. Di sini kita bisa melihat bagaimana masyarakat Mesir berlomba untuk beribadah kepada Allah, dan puncaknya adalah sepuluh hari terkhir ramadhan. Karena banyak keutamaan yang terdapat di dalamnya, yaitu pada malam ganjil khususnya. Masjid membludak, seolah tak kuat menahan desakan para pecinta Allah.
Kondisi berpuasa di Mesir juga memberikan perbedaan yang luar biasa. Ya, bulan ramadhan di Mesir bertepatan dengan musim panas. Sudah bisa diterka bagaimana letihnya berpuasa di tengah panas yang menyala. Dan perjuangan terasa lebih dibanding dengan negeri yang bercuaca biasa. Mungkin, di sanalah nilai plusnya. Setiap usaha keras, diimbali pula dengan balasan yang besar pula. Dan seperti itu pulalah dengan para pejuang islam yang berjihad di bawah panggang matahari. Dalam kondisi puasa, mereka pertaruhkan jiwa dan raga mereka untuk islam. Sudah barang tentu, balasannya berlipat ganda pula. Ya, berbagai peristiwa besar terjadi di bulan ini. Sebut saja perang Badar[Soft Break]yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 H di Badar. Menghadapi tentara musyrikin yang sangat jauh lebih besar jumlahnya, dua belas ribu. Pasukan yang hanya tiga ratus orang itu dengan pertolongan Allah mampu menghancurkan jumlah besar itu. Sekali lagi, ini terjadi pada bulan ramadhan.
Contoh lain adalah Pembebasan Spanyol yang dipimpin oleh panglima islam Thariq bin Ziyad pada bulan Ramadhan tahun 92 Hijriah. Pasukan yang berjumlah dua belas ribu itu berhadapan dengan tentara yang super besar, sembilan puluh ribu, di bawah koando raja Frederick. Sebagai langkah untuk menyalakan semangat pasukan, sang panglima membakar semua kapal mereka, “Sesungguhnya surga Allah terbentang luas dihadapan kita. Dan dibelakang terbentang laut. Kalian hanya ada dua piihan, mati tenggelam atau mati sebagai syuhada.” Dan ini terjadi di bulan ramadhan.
Atau sebuah peristiwa yang terjadi pada pertengahan bulan ramadhan tahun 584 Hijriyah, yaitu pembebasan Paletina dari tentara salib oleh Shalahuddin Al Ayyuby. Dimana sebelumnya tak ada satupun pemimpin islam yang berhasil membebaskan. Pada masa kepemimpinannyalah baru terbuka. Semenjak saat itu, para salibiyiin tak lagi ada yang berani berperang secara terbuka. Dan melakukan inovasi baru, yaitu berupa perang pemikiran. Mencetak misionari-misionaris dan menyuburkan orientalis. Dari sinilah mereka kini menyerang.
Peristiwa besar lain yang terjadi pada bulan ramadhan adalah perang ‘Ain Jalut di bawah titah Saifuddin Qutuz. Ini adalah sebuah peperangan yang terjadi antara umat islam dengan Tartar. Pasukan yang telah membunuh satu juta lebih kaum muslimin itu berhasil ditaklukkan.
Semua peristiwa besar itu terjadi di bulan ramadhan. Di tengah panas yang membakar dan dalam keadaan berpuasa. Dan balasan yang berlipat ganda tentunya bisa diteguk. Sesuai besar kecilnya usaha dan perjuangan.
“Tidaklah sama antara orang yang beriman yang duduk (tidak ikut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang yag berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya, serta ampunan dan rahmat. Allah maha pengampun maha penyayang.” (Q.S. An-Nisa’95-96).
Ber-ramadhan di negeri Fir’aun, banyak cerita yang bisa kita lihat, dengar dan rasakan.

13.59 | Posted in | Read More »

Fakta-fakta Bulan Suci Ramadhan

Fakta-fakta Bulan Suci Ramadhan[1]
Muhammad Rifqi Arriza, Lc[2]

Hari demi hari, waktu demi waktu telah kita di bumi Allah, sehingga tidak terasa bulan ramadhan akan datang bersua. Bulan yang penuh berkah, penuh hikmah dan penuh maghfirah dari-Nya.

Di bulan inilah potensi melipat gandakan pahala sangatlah besar, di bulan inilah saat kita melaksanakan nafilah di dalamnya, pahalanya sama dengan saat kita melaksanakan faridhah di selain bulan ramadhan. Begitu juga saat kita melaksanakan faridhah dalam bulan ini, maka pahalanya akan menyamai pahala 70 faridhah yang kita lakukan di bulan lainnya, hal ini sangat gamblang dijelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Salman Al-farisi ra[3].

Di bulan inilah terdapat satu malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan, dan banyak lagi keutamaan-keutamaan bulan yang satu ini, maka akan sangat merugilah kita saat menganggap remeh bulan ini.

Pada suatu ketika Rasulullah SAW bersabda jikalau para hamba-Nya mengetahui apa-apa (baca; keutamaan) yang terdapat di dalam ramadhan, maka mereka akan berangan-angan bahwa setiap bulan dalam setahun adalah ramadhan. Maka tidak salah jika Rasulullah selalu berdoa pada bulan sya'ban "Allahumma barik lana fi rajaba wa sya'bana wa barik lana fi ramadhan"[4].

Kenapa saya berbicara tentang momentum ramadhan, karena sebagian orang sangatlah sulit untuk menemukan pijakan pertama dalam memulai sesuatu, sangat bimbang untuk menentukan momentum bagi perubahan dirinya, kepada yang lebih baik tentunya.

Untuk lebih mengenal lebih dalam tentang bulan yang istimewa ini, mari kita menelisik beberapa fakta yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 182-187.

A. Beberapa makna dari surat Al-Baqarah ayat 182-187.

1)      Arti ayat "كما كتب على الذين من قبلكم".

Ada beberapa pendapat dalam hal ini ;

(a      Ada ulama yang berpendapat bahwa maksud dari ayat ini adalah puasa tiga hari pada setiap bulan.
(b      Dalam suatu hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abil Hatim mengatakan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah puasa satu bulan sebagaimana yang telah kita lakukan pada bulan ramadhan.
(c      Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa maksud dari ayat ini adalah puasa sebulan penuh dengan diiringi jumlah tertentu[5].
(d     Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah puasanya Maryam dan puasanya nabiyullahi Daud as (puasa sehari dan mufthir sehari)[6].
(e      As-Sya'biy berpendapat bahwa maksud dari penyerupaan (baca; puasa) adalah berkaitan dengan waktu dan kadar dari puasa itu[7].

2)      Arti ayat "شهر رمضان الذي أنزل فيه القراّن".

Ada beberapa hadits yang menerangkan bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang diturunkan di dalamnya semua kitab samawy. Rasulullah bersabda "lembaran-lembaran Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan ramadhan, dan Taurat diturunkan pada hari ke enam dari bulan ramadhan, dan injil diturunkan pada hari ke tiga belas dari bulan ramadhan, dan Al-Quran diturunkan pada hari ke dua puluh empat dari bulan ramadhan"[8].

Pada riwayat lain dari Jabir bin Abdillah ra, Rasulullah bersabda "zabur diturunkan pada hari ke dua belas dari bulan ramadhan, dan injil diturunkan pada hari ke delapan belas dari bulan ramadhan…"[9].

B. Beberapa hal dalam bulan ramadhan.

1)      Buka dan sahur.

Suatu ketika Rasulullah bersabda "umatku akan tetap pada kebaikan selama mereka menta'jil buka dan mengakhirkan sahur"[10]. Pada suatu hadist qudsi Rasulullah bersabda dari tuhannya "sesungguhnya hamba yang paling aku cintai adalah yang paling menta'jil bukanya"[11].

Dengan adanya masyru'iyah sahur inilah kenapa wishol diharamkan. Selain hadist yang shorih melarang wishol, ada juga hadist yang berbunyi "la tuwashilu fa ayyukum arada an yuwashil falyuwashil ilas sahur…"[12].

2)      Mustajabnya doa orang yang berpuasa.

Rasulullah bersabda "inna lis shoimi 'inda fithrihi da'watun la turaddu"[13], sesungguhnya bagi orang yang berpuasa saat dia berbuka, doa yang tidak akan ditolak.

C. Beberapa fakta sejarah dalam bulan ramadhan.
Lintasan sejarah Islam berbicara, terdapat hubungan yang penting antara jihad dan Ramadhan. Selama kehidupan Rasulullah saw, dua buah peperangan terjadi di bulan Ramadhan, yang pertama adalah Perang Badar yang terjadi di tahun kedua setelah hijrah, dan yang kedua Penaklukan Mekkah (futuh Makkah) sekitar 6 tahun kemudian.
Bahkan, setelah kehidupan Rasulullah SAW, bulan Ramadhan tetap menjadi bulan konfrontasi militer penting bagi kaum muslimin. Beberapa kejadian penting yang berhubungan antara bulan Ramadhan dan jihad terus terjadi dalam kehidupan bersejarah kaum muslimin. Tentunya, Allah SWT yang paling mengetahui hikmah yang besar mengapa bulan Ramadhan begitu memiliki kaitan erat dengan jihad. Pastinya, Allah SWT sajalah yang mengetahui hikmah itu semua dan memberikan indikasi dan tanda-tanda tersebut, yakni kaitan antara Ramadhan dan jihad kepada kaum muslimin[14].
Terakhir, penulis ingin mengajak pembaca semua untuk lebih mengenal segala seluk-beluk bulan ramadhan ini, sehingga dapat lebih mendorong kita untuk lebih "merasakan sensasinya", untuk lebih "meresapinya", dan kemudian dapat lebih bisa memanfaatkan momentum ini dalam peningkatan ibadah, bukan hanya dalam hal mu'amalah ma'allah tapi juga mu'amalah ma'a al-nas.


[1] Dipresentasikan pada kajian perdana Madrasah Tafsir DPD PPMI Zagazig 2008-2009.
[2] Terdaftar sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan tafsir, Univ Al-Azhar Zagazig.
[3] Prof Dr Wahbah Zuhaily, Al-Fiqh islami wa adillatuhu, Dar El-Fikr,  juz 3,hal 1622.
[4] HR Ahmad.
[5] Ismail bin Katsir Al-Qursyi AlDimasyqi, Tafsirul Qur'anil Adzim, Maktabah Shofa, juz 1, hal 252
[6] Lihat http://www.eramuslim.com/ustadz/shm/8820135801-teknis-puasa-umat-terdahulu.htm.
[7] Imam Al-Qurthuby, Al-Jami' li Ahkamil Quran, Maktabah Taufiqiyah, juz 2, hal 244.
[8] HR Ahmad
[9] Ismail bin Katsir Al-Qursyi AlDimasyqy, op. cit, juz 1, hal : 254.  
[10] HR Ahmad.
[11] Ismail bin Katsir Al-Qursyi AlDimasyqy, op. cit, juz 1 hal 264.
[12] HR Bukhari no 1862.
[13] HR Ibnu Majah.
[14] Lihat http://aisyahzah.multiply.com/journal/item/1/Ramadhan_bulan_jihad


01.55 | Posted in | Read More »

Sang Maha Ada

Sang Maha Ada
Oleh : Abu Abdul Jabbar
(Ahwal Miswari Mahmud)

“sanurihim ayatina fil afaq wafi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahul haq”

Keyakinan pada sang pencipta adalah suatu hal yang fitrah, setiap manusia akan merasakan perasaan bahwa dirinya tidak mungkin bisa hadir dengan sendirinya di jagad ini tanpa ada yang menjadikan dan menciptakannya, suku primitif misalnya yang dianggap sebagai manusia yang ummi-pun juga akan merasakan Hal yang sama, Ritual sesaji persembahan yang identik dengan suku ini hanyalah karna mereka berkeyakinan bahwa ada suatu kekuatan Abstrak yang sangat luar biasa berada diluar lingkup indra manusia yang mengatur Jagad ini.
Argumen tentang keberadaan Tuhan sebenarnya bukanlah argumen omong kosong belaka yang tidak dapat dibuktikan sebagaimana sering dituduhkan, tapi dalil kebertuhanan adalah argumen akseptasi yang tak tebantahkan dan dapat diterima secara Umum oleh manusia, oleh karenanya Rasul SAW berdakwah dikalangan dedengkot Qurays bukan karena mereka tidak beriman pada eksistensi Tuhan akan tetapi karna mereka menduakan Tuhan dengan yang lainya dalam Al Quran yang artinya “ dan ketika kalian bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? maka mereka akan menjawab:  Allah “ berangkat dari asumsi inilah mengapa para cendikiawan berpendapat bahwa kebertuhanan adalah  fitrah bagi manusia dan itu adalah hal yang tak terbantahkan.
Dalil fitrah merupakan dalil yang secara simpel difahami oleh manusia tanpa melakukan penalaran yang mendalam, seseorang akan dengan sendirinya mengetahui bahwa ia membutuhkan air takala sedang dahaga atau seseorang dengan sendirinya mengetahui bahwa dia membutuhkan makanan bila ia sedang mengalami kelaparan inilah fitrah.
Begitu juga dengan jagat raya alam ini, Seseorang akan berkata bahwa Alam ini membutuhkan pencipta hingga dia bisa terbentuk dan tersusun secara rapi, analoginya bahwa setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya. Kursi misalnya dia tidak akan terbentuk dan dapat diduduki kalau tidak ada tukang kursi, begitupula dengan Sepeda Motor dia tidak akan termodifikasi dengan sendirinya dan berjalan tanpa ada montir yang menukangi dan membuatnya. cara berfikir demikian adalah cara berfikir yang simpel dan sesuai akal dan fitrah manusia.
Meskipun demikian, Dalil diatas tidak serta merta akan bisa diterima oleh semua kalangan utamanya mereka yang meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada atau para atheis. Orang atheis sekalipun ia meyakini bahwa segala sesuatu akibat pasti ada yang mengakibatkan, namun mereka tidak meyakini adanya sesuatu yang ada diluar alam indra manusia, mereka tidak percaya pada Hal-hal yang sifatnya metafisik [ ghaib ], menurut mereka bahwa segala sesuatu yang ada, haruslah real dan tampak dihadapan kita dia tidak boleh abstrak dan lazim bermateri.
Para ahli melihat, diantara penyebab kaum atheis berkata demikian, dikarenakan mereka berasumsi bahwa akal adalah satu-satunya alat penujuk dalam memecahkan segala sesuatu, padahal akal manusia itu sifatnya terbatas dan juga tidak semua urusan harus dikembalikan pada akal. Filsuf jerman imanuel kant misalnya meyentil para pendewa akal ini dalam bukunya “ naqd alaklu alkhalish ” ia berkata bahwa tak diragukan lagi bahwa akal tidak segalanya mampu mengetahui segala wujud sesuatu, ia hanya bisa mengetahui partikel-partikel yang nampak saja sama seperti dirinya. Sementara wujud yang lebih abstrak dari itu, akal tak mampu menggapainya seperti eksistensi Tuhan, karna yang dibutuhkan untuk mengenal wujud ini hanyalah hati nurani dan bukan Akal...selain Tuhan imanuel kant mencontohkan juga sesuatu yang tidak bisa diraba oleh akal tapi pada tatanan empiris dia bisa dirasakan keberadaannya oleh kita ia berkata  ” kerinduan kita terhadap keadilan maka ini menjadi bukti bahwa adil itu ada, begitu juga dahaganya kita pada Air itu menunjukkan bahwa Air itu ada ”.
Kaum atheis Selain menggunakan akal sebagai pijakan berfikir, mereka juga sering menggunakan dalil-dalil Shopis yang sengaja mereka buat untuk mengakal-akali kaum monoteis, menjebak ummat beragama dengan memutar balikkan fakta yang sebenarnya.
 Dalam sebuah tulisannya Dr mustafa Mahmud pernah berdialog dengan salah satu tokoh ateis lulusan barat,  beliau ditanya kalau misalnya segala sesuatu yang maujud mesti ada penciptanya ( Tuhan ) dan setiap wujud pasti ada yang mengadakannya ( Tuhan ) lalu siapakah yang menciptakan dan mengAdakan Tuhan ? dalil ini kedengarannya lucu dan terasa outentik kalau didengar secara sepintas karna sama-sama menggunakan dalil kuasalitas yang telah saya beberkan sebelumnya, namun bila diteliti dengan cerdas akan kelihatan beberapa kejanggalan-keganjalan didalamnya. Dr Mustafa Mahmud mengomentari pertanyaan ini dengan celotehan yang lebih menggigit ia berkata “Bila Anda meyakini bahwa Tuhan menciptakan segala yang ada, lalu disatu sisi kalian mempertanyakannya  lagi siapa yang menciptakan tuhan, maka ini adalah pertanyaan yang sangat Bodoh, mengapa ? karna jikalau sekiranya kita berkata bahwa pencipta itu adalah Tuhan maka secara otomatis dalam akal sehat kita akan berkata bahwa sang Pencipta bukanlah yang dicipta, bila itu terjadi maka sama halnya kita menggabungkan antara dua Hal yang berbeda sekaligus yaitu antara pencipta dan dicipta.
Sebelum Dr Mustafa Mahmud, Aristoteles seorang filsuf masyhur yang hidup sebelum masehi juga memberikan gertakan yang pedis pada mereka yang tertutup hatinya pada kebenaran, dengan menggunakan dalil rentetan sebab akibat, Aristo mencoba menusuk jantung pertahan kaum atheis yang tak bertuhan, meskipun agak kuno tapi dalil ini masih laku dipergunakan dan sering diadopsi oleh para ahli kalam islam utamanya sekte Asyairah dan Maturidiyyah.  Aristo berujar kalau setiap sesuatu itu berasal dari sesuatu yang lain maka sesuatu yang lain ini pasti akan berasal dari sesuatu yang lain juga dan sesuatu yang lain ini lagi akan berasal dari sesuatu yang lain lagi dan ini akan terus menerus sampai tak berhujung. Menurut Aristo sesuatu yang tak berhujung ini pasti akan berhenti pada sesuatu yang pertama yang tidak didahului lagi dengan sebab-sebab, dan sebab yang pertama inilah awal muasal dari berbagai sebab sebab yang terjadi, dialah penggerak pertama ( muharrik al awwal ) yang tidak membutuhkan penggerak yang lain lagi, dialah penyebab yang tidak membutuhkan penyebab lain lagi, pencipta yang tak membutuhkan pencipta lain lagi. Inilah yang disebut dengan Tuhan.
Bila dalil fitrah dan akal telah menetapkan keberadaan Tuhan, maka secara tidak dipaksa kita juga harus meyakini keberadaannya, bila seseorang melenceng dari itu berarti dia telah melenceng dari kebenaran fitrah dan akal. Dan juga berbagai fasilitas dalam dirinya memerlukan update ulang dan revolusi buat merenofasi berbagai kerusakan-kerusakan spritual zahir dan batin yang terjadi.
Tuhan telah memberi kita berbagai macam contoh dari alam sekitar kita buat dijadikan rujukan sekaligus renungan atas kuasa dan keberadaan Dia, dan hanya orang-orang yang bodohlah yang tidak merasakan keberadaan Tuhan dan menafikannya. sanurihim ayatina fil afaq wafi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahul haq.



17.37 | Posted in | Read More »

Hukum Puasa Ramadhan

Beberapa Hukum Terkait Dengan Puasa Ramadhan
Oleh: Hermansyah, Lc

Puasa atau Shaum secara bahasa artinya menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam Puasa ialah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkannya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan rukun dan syarat tertentu.
Perintah puasa ini difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa. 1:183.

Melalui ayat diatas Allah SWT menjelaskan bahwa puasa ramadhan adalah wajib hukumnya.
Puasa ramadhan juga merupakan salah satu dari rukun islam yang lima, dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori disebutkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ رواه البخاري

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima perkara; bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan puasa Ramadhan. HR.Bukhori

Syarat wajib puasa

  1. Beragama Islam
  2. Berakal sehat
  3. Baligh (sudah cukup umur)
  4. Mampu melaksanakannya
  5. Mukim  (tidak sedang dalam perjalanan panjang)

Syarat sah puasa

  1. Islam
  2. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  3. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
  4. Mengetahui waktu diterimanya puasa

Rukun puasa

  1. Niat
  2. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari

Hal-hal yang membatalkan puasa

Puasa akan batal jika;
  1. Masuknya benda (seperti nasi, air, asap rokok dan sebagainya) ke dalam rongga badan dengan disengaja.
  2. Muntah dengan disengaja.
  3. Bersetubuh.
  4. Keluar mani (Istimna' ) dengan disengaja.
  5. Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak)
  6. Hilang akal (gila atau pingsan).
  7. Murtad (keluar dari agama Islam).

Bagi orang-orang yang berbuka puasa disiang hari maka mereka harus melakukan beberapa hal sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya dan mereka terbagi menjadi beberapa golongan:

-          Golongan yang wajib qadha' saja
-          Golongan yang tidak wajib qadha', tetapi wajib fidyah
-          Golongan yang wajib qadha' dan fidyah sekaligus
-          Golongan yang wajib qadha' dan kafarah sekaligus

A.    Golongan yang wajib qadha' saja

Orang-orang yang tersebut di bawah ini, boleh tidak berpuasa, tetapi wajib qadha', artinya wajib mengganti puasanya di hari lain, sebanyak hari yang ditinggalkan.
  1. Orang yang sakit, yang ada harapan untuk sembuh.
  2. Orang yang bepergian jauh (musafir) yang mmnyebabkan kesulitan kalau berpuasa.
  3. Orang yang hamil, yang khawatir akan keadaannya.
  4. Orang yang sedang menyusui anak, yang khawatir akan keadaannya.
  5. Orang yang sedang haid (datang bulan), melahirkan anak dan nifas.
  6. Orang yang batal puasanya dengan suatu hal yang membatalkannya selain bersetubuh.

B.     Golongan yang tidak wajib qadha', tetapi wajib fidyah

Orang-orang di bawah ini tidak wajib qadha' (menggantikan puasa di hari lain), tetapi wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin sebanyak hari puasa yang ia tinggalkan yaitu berupa bahan makanan pokok sebanyak 1 mud atau 2,5kg/hari yang ia tinggalkan.
  1. Orang yang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh.
  2. Orang tua yang sangat lemah dan tidak kuat lagi berpuasa
C.     Golongan yang wajib qadha' dan fidyah sekaligus:
Orang –orang dibawah ini, selain mereka diwajibkan qadha’, mereka juga diwajibkan fidyah sebanyak 1 mud atau 2,5kg/hari puasa yang ia tinggalkan

1.      Ibu hamil yang jika ia berpuasa khawatir akan keselamatan janin yang dikandungnya
2.      Ibu yang sedang menyusui anak yang jika berpuasa khawatir akan keselamatan bayinya.

D.    Golongan yang wajib qadha' dan kafarah sekaligus

Orang yang membatalkan puasanya dengan bersetubuh, wajib melakukan kafarah dan qadha' sekaligus. Kafarah ialah Memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Jika tidak ada hamba sahaya yang mukmin maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut (selain qadha' menggantikan hari yang ditinggalkan), jika tidak bisa, wajib memberi makan 60 orang miskin sebanyak 1 mud atau 2,5 kg/orang berupa bahan makanan pokok.
Wallahu A’lam




17.34 | Posted in | Read More »

Blog Archive